(Business Lounge – Global News) Kinerja terbaru Mattel mengejutkan pelaku pasar setelah perusahaan mainan itu melaporkan hasil kuartal keempat yang berada di bawah ekspektasi analis. Musim liburan yang biasanya menjadi mesin penjualan utama justru tidak mampu mendorong lonjakan permintaan seperti yang diharapkan. Reaksi investor berlangsung cepat, dengan saham perusahaan anjlok sekitar 28 persen dalam perdagangan setelah laporan dirilis, sebagaimana dicatat Bloomberg.
Bagi industri mainan, kuartal akhir tahun sering menjadi momen krusial karena permintaan meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru. Mattel memasuki periode tersebut dengan optimisme tinggi, apalagi setelah keberhasilan sejumlah lini produk populer. Namun data terbaru memperlihatkan bahwa konsumen mulai menahan belanja, terutama untuk barang non-esensial. Reuters melaporkan bahwa tekanan biaya hidup dan perubahan pola konsumsi membuat banyak keluarga lebih selektif memilih hadiah.
Penjualan yang melambat berdampak langsung pada profitabilitas. Perusahaan mencatat pendapatan serta laba yang lebih rendah dari proyeksi Wall Street, sebuah sinyal bahwa strategi promosi yang dijalankan belum cukup kuat menarik minat pasar. Analis yang diwawancarai CNBC menilai bahwa ekspektasi terhadap musim liburan terlalu tinggi, sementara realitas di lapangan menunjukkan konsumen cenderung berburu diskon besar daripada membeli produk dengan harga penuh.
Mattel sebenarnya telah berusaha memperkuat daya tarik produknya melalui kolaborasi dengan film dan konten hiburan. Kesuksesan global film Barbie sempat memberi energi baru bagi brand tersebut, menciptakan lonjakan popularitas yang terasa di berbagai pasar. Namun momentum itu tidak sepenuhnya berlanjut hingga akhir tahun. The Wall Street Journal menyebut bahwa efek dari hype budaya pop sering bersifat sementara, sementara kinerja jangka panjang tetap bergantung pada inovasi produk dan strategi distribusi.
Selain faktor permintaan, tekanan juga muncul dari perubahan struktur ritel. Peralihan konsumen ke belanja online membuat persaingan harga semakin tajam. Marketplace besar memicu perang diskon yang menggerus margin produsen mainan. Mattel berupaya menjaga keseimbangan antara volume penjualan dan keuntungan, tetapi langkah tersebut membuat pertumbuhan terlihat lebih lambat dibanding ekspektasi pasar.
Di tengah situasi ini, manajemen Mattel menegaskan bahwa perusahaan tetap fokus pada efisiensi biaya dan pengembangan portofolio merek. Mereka menyoroti upaya memperluas kategori mainan edukatif dan produk berbasis lisensi film sebagai sumber pertumbuhan baru. Strategi diversifikasi ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada beberapa brand utama saja. Menurut ulasan Financial Times, transformasi bisnis Mattel dalam beberapa tahun terakhir memang bertujuan menjadikannya bukan sekadar produsen mainan, melainkan perusahaan hiburan berbasis karakter.
Namun investor tampaknya belum sepenuhnya yakin. Penurunan tajam harga saham mencerminkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan industri mainan mulai memasuki fase yang lebih menantang. Inflasi, perubahan preferensi anak-anak terhadap hiburan digital, serta meningkatnya biaya produksi menjadi kombinasi tekanan yang tidak ringan. Analis pasar yang dikutip MarketWatch menyebut bahwa perusahaan mainan kini harus bekerja lebih keras untuk menciptakan pengalaman bermain yang relevan dengan generasi baru.
Dari perspektif yang lebih luas, laporan Mattel juga memberi gambaran tentang kondisi sektor ritel global. Ketika perusahaan dengan brand kuat sekalipun gagal memaksimalkan musim liburan, pasar membaca adanya perubahan perilaku konsumen yang cukup signifikan. Banyak keluarga beralih ke pengalaman hiburan digital atau perjalanan singkat dibanding membeli mainan fisik dalam jumlah besar.
Walau situasi tampak menantang, beberapa analis masih melihat peluang bagi Mattel untuk bangkit. Perusahaan memiliki katalog karakter yang luas serta jaringan distribusi global yang solid. Investasi pada konten film, serial animasi, dan kemitraan lintas industri diyakini bisa membuka sumber pendapatan baru di luar penjualan mainan tradisional. Perspektif ini diangkat oleh Forbes, yang menilai bahwa masa depan Mattel mungkin lebih berkaitan dengan storytelling dan dunia hiburan ketimbang sekadar produk fisik.
Perjalanan Mattel saat ini menggambarkan perubahan besar dalam industri yang dulu dianggap stabil. Musim liburan yang biasanya membawa euforia kini menjadi pengingat bahwa perilaku konsumen terus berubah. Investor menunggu langkah berikutnya dari perusahaan: apakah strategi hiburan dan diversifikasi produk mampu mengembalikan kepercayaan pasar, atau justru menandai era baru di mana produsen mainan harus beradaptasi dengan ritme industri yang jauh lebih dinamis.

