(Business Lounge – Global News) UPS sedang sibuk merapikan tubuh bisnisnya. Perusahaan pengiriman raksasa asal Amerika Serikat itu secara terbuka mengakui bahwa volume pengiriman yang melemah memaksa manajemen menyesuaikan ukuran organisasi. Pernyataan tersebut datang langsung dari Chief Financial Officer UPS, Brian Dykes, yang tanpa basa-basi menyebut realitas bisnis saat ini tidak lagi membutuhkan jumlah posisi kerja sebanyak periode lonjakan sebelumnya.
Dalam sebuah forum dengan investor dan analis, Dykes menjelaskan bahwa penurunan volume pengiriman menjadi faktor utama di balik langkah efisiensi ini. “Faktanya, ketika volume lebih rendah, jumlah posisi yang dibutuhkan juga berkurang,” ujarnya, seperti dikutip The Wall Street Journal. Nada bicaranya terkesan lugas, mencerminkan tekanan yang kini dirasakan banyak perusahaan logistik global setelah euforia belanja daring era pandemi memudar.
UPS sempat menikmati lonjakan permintaan luar biasa saat konsumen di seluruh dunia mengandalkan belanja online. Gudang penuh, armada truk bekerja tanpa henti, dan perekrutan karyawan dilakukan besar-besaran. Namun situasinya kini berbeda. Konsumen lebih selektif, inflasi menekan daya beli, dan perusahaan-perusahaan klien menahan pengeluaran logistik. Bloomberg mencatat bahwa volume pengiriman domestik UPS mengalami penurunan beruntun dalam beberapa kuartal terakhir.
Penyesuaian ukuran ini tidak hanya soal pengurangan tenaga kerja. UPS juga meninjau ulang jaringan operasional, rute pengiriman, hingga penggunaan teknologi otomatisasi. Dykes menekankan bahwa perusahaan ingin memastikan struktur biaya selaras dengan permintaan aktual pasar. Dalam bahasa korporasi, ini disebut right-sizing, sebuah istilah halus untuk menggambarkan pengetatan yang menyentuh hampir semua lini. Financial Times menyebut strategi ini sebagai upaya bertahan di tengah normalisasi industri logistik.
Langkah UPS mencerminkan tren yang lebih luas. Perusahaan pengiriman dan logistik lain juga menghadapi tekanan serupa. FedEx, DHL, hingga operator regional berlomba memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi. Setelah bertahun-tahun berinvestasi agresif pada kapasitas, kini fokus beralih pada profitabilitas. Reuters menulis bahwa industri logistik global sedang memasuki fase penyesuaian setelah periode pertumbuhan yang tak berkelanjutan.
Bagi UPS, tantangannya berlapis. Selain volume yang menurun, biaya tenaga kerja tetap tinggi, terutama setelah kesepakatan upah baru dengan serikat pekerja di Amerika Serikat. Kesepakatan itu memberi kepastian hubungan industrial, tetapi juga meningkatkan beban biaya jangka menengah. Dalam konteks ini, pengurangan posisi menjadi salah satu tuas yang masih bisa ditarik manajemen untuk menjaga margin. CNBC mencatat bahwa investor menaruh perhatian besar pada kemampuan UPS menyeimbangkan biaya dan pendapatan.
Dari sudut pandang karyawan, isu ini tentu sensitif. UPS dikenal sebagai salah satu pemberi kerja terbesar di sektor logistik, dengan ratusan ribu pekerja di seluruh dunia. Pernyataan CFO soal “lebih sedikit posisi” memicu kekhawatiran, meski perusahaan berusaha menekankan bahwa penyesuaian dilakukan secara bertahap dan terukur. The New York Times menulis bahwa komunikasi internal UPS kini difokuskan pada efisiensi operasional dan pemanfaatan teknologi untuk mengurangi tekanan langsung pada tenaga kerja.
Teknologi memang menjadi bagian penting dari cerita ini. Otomatisasi gudang, optimasi rute berbasis data, dan penggunaan kecerdasan buatan untuk perencanaan logistik menjadi alat utama UPS untuk beroperasi dengan tim yang lebih ramping. Investasi teknologi tersebut diharapkan mampu menjaga kualitas layanan meski jumlah pekerja berkurang. The Economist menilai perusahaan logistik yang gagal beradaptasi dengan pendekatan ini berisiko tertinggal dalam persaingan.
Pasar merespons langkah UPS dengan campuran kehati-hatian dan penerimaan. Di satu sisi, pengetatan biaya dipandang perlu untuk menjaga kesehatan finansial. Di sisi lain, penurunan volume menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi belum sepenuhnya pulih. Investor membaca pesan Brian Dykes sebagai pengakuan jujur bahwa era pertumbuhan mudah telah berlalu, digantikan periode disiplin operasional.
Cerita UPS hari ini adalah potret perusahaan besar yang menyesuaikan diri dengan realitas baru. Tidak ada dramatisasi berlebihan, hanya kalkulasi dingin antara volume, biaya, dan tenaga kerja. Dengan memilih merapikan ukuran bisnis, UPS berupaya tetap lincah di tengah permintaan yang lebih tenang. Bagi industri logistik, langkah ini menjadi pengingat bahwa skala besar bukan jaminan kebal terhadap siklus, dan kemampuan beradaptasi sering kali menjadi aset paling berharga.

