IrisGo: Si ‘Pelayan’ Pintar Asal Singapura yang Siap Tantang Dominasi Copilot

(Business Lounge Journal – Technology)
Dunia teknologi baru saja dihebohkan oleh kehadiran IrisGo, sebuah aplikasi “AI Butler” yang baru saja mengantongi pendanaan segar sebesar US$2,8 juta (sekitar Rp44 miliar). Setelah mencuri perhatian di ajang CES (Consumer Electronics Show), startup asal Singapura ini tampaknya tidak main-main untuk menantang dominasi raksasa teknologi.

Founder Muda dan Visi “Hands-Free”
Di balik kecanggihan IrisGo, ada sosok Jeffrey Lai dan timnya yang berbasis di Singapura. Jeffrey adalah representasi dari generasi pendiri muda yang melihat celah di antara asisten AI yang sudah ada. Jika asisten AI lain hanya bisa “menjawab”, Jeffrey ingin IrisGo bisa “bekerja”.

Jeffrey Lai adalah Co-founder dan CEO dari IrisGo, sebuah startup AI yang fokus mengembangkan asisten AI kontekstual yang “bekerja” untuk pengguna — bukan hanya menjawab pertanyaan tapi juga membantu menyelesaikan tugas di PC secara otomatis.

Sebelum mendirikan IrisGo, Jeffrey memiliki pengalaman panjang di Apple, termasuk memimpin engineering untuk Siri versi Mandarin/China dan bekerja lebih dari satu dekade pada teknologi AI dan on-device.
Pengalamannya ini memberi dasar bagi visi IrisGo untuk membuat AI yang memahami konteks kerja pengguna di komputer, bukan sekadar menjawab teks. IrisGo didirikan pada tahun 2025.
Dengan konteks ini, sampai awal 2026, IrisGo telah berada di pasar sekitar 1 tahun atau kurang sejak pendiriannya.

IrisGo memulai debutnya sebagai startup baru di ekosistem AI fund dan segera menarik perhatian karena pendekatannya pada AI “butler” yang otomatis dan kontekstual — termasuk otomatisasi alur kerja di PC melalui pemahaman konteks konten layar dan tindakan pengguna. Meskipun masih berusia muda, tim IrisGo berhasil membangun kepercayaan investor dan menjalin kerja sama strategis dengan raksasa manufaktur seperti Acer.

Bukan Sekadar Chatbot Biasa
Berbeda dengan Microsoft Copilot yang dikembangkan oleh raksasa Microsoft (dengan tokoh-tokoh besar seperti Satya Nadella dan dukungan teknologi dari OpenAI milik Sam Altman), IrisGo datang sebagai pemain independen yang lebih lincah.
Jika Copilot lebih fokus pada pemrosesan bahasa dan bantuan kreatif di dalam ekosistem Office, IrisGo adalah asisten operasional. Dalam demonya, IrisGo memamerkan kemampuan untuk:
* Mengontrol mouse dan keyboard secara mandiri.
* Melakukan perekaman layar.
* Menjalankan alur kerja kompleks (one-query workflows) hanya dengan satu perintah.

Kolaborasi Global dengan Acer
Strategi IrisGo tergolong agresif. Mereka langsung “menitipkan” diri di perangkat keras. Perangkat Acer dengan aplikasi IrisGo yang sudah terinstal (preinstalled) akan mulai dikirimkan secara global pada akhir bulan ini.
IrisGo juga akan tersedia untuk perangkat yang ditenagai prosesor terbaru, seperti Intel Core Ultra Series 3 (Panther Lake). Ini menunjukkan bahwa IrisGo membutuhkan kekuatan pemrosesan tinggi untuk menjalankan otomatisasi sistem yang berat.

Model Bisnis dan Target 2026
IrisGo menerapkan model langganan freemium dengan harga US$20 per bulan untuk fitur premium. Target mereka cukup ambisius:
* 1 juta pengguna aktif harian pada akhir 2026.
* US$2 juta pendapatan tahunan (ARR).

Sebagai startup tentunya IrisGo memerlukan perjalanan yang masih panjang untuk menapaki keberhasilannya.