(Business Lounge Journal – News and Insight)
Keputusan Warren Buffett untuk resmi mundur dari posisi CEO Berkshire Hathaway bukan sekadar pergantian jabatan. Di usia 95 tahun, langkah ini terasa seperti penanda berakhirnya satu era panjang dalam sejarah kapitalisme modern—era ketika kesabaran, rasionalitas, dan integritas menjadi fondasi utama dalam membangun nilai jangka panjang. Meski Buffett tidak sepenuhnya meninggalkan panggung, peralihan kepemimpinan ini tetap membawa makna simbolik yang besar bagi dunia bisnis global.
Buffett mengambil alih Berkshire Hathaway lebih dari enam dekade lalu, saat perusahaan tersebut hanyalah bisnis tekstil yang sedang merosot. Alih-alih mengejar pertumbuhan cepat atau strategi spekulatif, Buffett perlahan mengubah Berkshire menjadi konglomerasi raksasa melalui pendekatan investasi yang sederhana namun disiplin: membeli bisnis berkualitas, dikelola oleh orang-orang yang tepat, lalu menahannya untuk jangka panjang. Filosofi ini—yang sering ia sampaikan dengan bahasa lugas dan contoh sehari-hari—menjadi pelajaran lintas generasi bagi investor di seluruh dunia.
Bersama Charlie Munger, rekan bisnis sekaligus sahabat intelektualnya, Buffett membangun budaya Berkshire yang unik. Mereka menolak hiruk-pikuk pasar jangka pendek dan lebih memilih berpikir seperti pemilik bisnis, bukan pedagang saham. Hasilnya terlihat jelas hari ini. Berkshire Hathaway memiliki portofolio bisnis yang sangat luas: perusahaan asuransi, jalur kereta api, energi, manufaktur, hingga merek konsumen yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di sisi investasi, Berkshire juga menjadi pemegang saham utama di perusahaan-perusahaan publik kelas dunia seperti Apple, Coca-Cola, dan American Express. Banyak analis menyebut Berkshire sebagai cerminan kecil dari ekonomi Amerika itu sendiri—beragam, kompleks, dan saling terhubung.
Tongkat estafet kini resmi berpindah ke Greg Abel, sosok yang sudah lama berada di lingkaran dalam Berkshire. Buffett sendiri telah menyiapkan transisi ini selama bertahun-tahun. Pada 2021, ia secara terbuka menunjuk Abel sebagai penerusnya, sebuah langkah yang jarang dilakukan secara transparan oleh CEO perusahaan sebesar Berkshire. Dalam surat kepada pemegang saham, Buffett menyebut Abel sebagai pemimpin yang tangguh, pekerja keras, dan komunikator yang jujur—tiga kualitas yang sejak lama menjadi nilai inti di Berkshire Hathaway.
Meski perencanaan suksesi ini dilakukan dengan rapi, reaksi pasar menunjukkan bahwa figur Buffett tetap sulit tergantikan. Sepanjang 2025, saham Berkshire memang mencatatkan pertumbuhan dua digit, namun sempat melemah setelah pengumuman pengunduran diri Buffett. Ini bukan semata soal keraguan terhadap Abel, melainkan refleksi dari kekhawatiran yang lebih emosional: bagaimana rasanya Berkshire tanpa Warren Buffett sebagai pengambil keputusan utama?
Di luar pencapaian finansial, Buffett telah menjelma menjadi ikon budaya. Gaya hidupnya yang sederhana, pilihannya untuk tinggal di Omaha alih-alih pusat keuangan dunia, serta komitmennya untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaannya menjadikannya figur yang dicintai publik. Pertemuan tahunan pemegang saham Berkshire di Omaha bahkan dikenal sebagai “Woodstock for Capitalists”—sebuah perayaan yang memadukan diskusi bisnis, humor, dan refleksi nilai hidup. Bagi banyak orang, mendengarkan Buffett berbicara tentang bisnis selalu terasa lebih luas: tentang kesabaran, etika, dan tanggung jawab sosial.
Kini, meski tidak lagi menjabat sebagai CEO, Buffett tetap menjadi chairman Berkshire Hathaway. Ia juga berjanji akan terus menulis surat tahunan kepada para pemegang saham—media yang selama puluhan tahun menjadi rujukan penting bagi investor global. Dalam salah satu suratnya, Buffett menulis bahwa ia akan “sedikit lebih diam”, namun tetap menikmati kesempatan untuk terus berkomunikasi. Kalimat itu terasa khas Buffett: rendah hati, jujur, dan penuh kesadaran akan waktu.
Bagi Berkshire Hathaway, babak baru telah dimulai. Bagi dunia bisnis, kepergian Buffett dari kursi CEO adalah pengingat bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang posisi, melainkan tentang nilai yang ditinggalkan. Warisan Buffett tidak hanya tercermin dalam neraca keuangan atau harga saham, tetapi dalam cara berpikir—bahwa dalam dunia yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, konsistensi, integritas, dan kesabaran masih relevan, bahkan semakin langka.

