Ketidakpastian Bukan Gangguan, Tapi Titik Awal

(Business Lounge Journal – General Management)

Dalam dunia bisnis hari ini, ketidakpastian bukan lagi fase sementara yang bisa ditunggu hingga berlalu. Ia telah menjadi lanskap permanen. Perubahan dapat datang dengan cepat, sering kali tanpa peringatan, dan tidak jarang meruntuhkan rencana yang sudah disusun dengan matang. Bagi Slav Kulik, CEO Plan A Technologies, kenyataan ini justru menjadi fondasi cara berpikir dalam memimpin. Ia membangun perusahaannya dengan asumsi bahwa “tidak ada yang berjalan linear,” dan dari sanalah ketahanan organisasi dibentuk.

Alih-alih berusaha mengontrol semua variabel, Kulik memilih menerima bahwa informasi hampir selalu tidak lengkap. Yang membedakan pemimpin yang bertahan dan yang tumbang bukanlah kelengkapan data, melainkan keberanian mengambil keputusan di tengah keterbatasan tersebut. Ketidakpastian, dalam pandangannya, bukan ancaman yang harus dihindari, melainkan ruang belajar yang memaksa organisasi untuk bergerak, berevolusi, dan menemukan cara baru untuk bertumbuh.

Keputusan Sulit, Intuisi, dan Percakapan dengan Diri di Masa Depan

Saat dihadapkan pada keputusan besar dengan risiko tinggi, Kulik tidak hanya bergantung pada angka dan laporan. Ia percaya pada intuisi yang dibentuk oleh pengalaman dan kesalahan. Naluri, baginya, bukan tebakan acak, melainkan hasil dari keberanian mendengar suara batin saat jalan ke depan terasa kabur. Di saat-saat seperti itulah, kreativitas dan kepemimpinan sejati sering kali muncul.

Namun intuisi tetap perlu diseimbangkan dengan refleksi yang jujur. Salah satu pendekatan yang kerap digunakan di Plan A adalah membayangkan apa yang akan dikatakan “diri mereka di masa depan” terhadap keputusan yang sedang diambil hari ini. Dengan memproyeksikan diri beberapa tahun ke depan, tekanan jangka pendek menjadi lebih kecil, sementara dampak jangka panjang—terhadap budaya, tim, dan reputasi—menjadi lebih jelas. Pendekatan ini membantu menjaga agar keputusan tetap selaras dengan nilai yang ingin dijaga perusahaan, bukan sekadar solusi cepat.

Kulik memberikan contoh bagaimana keputusan untuk tidak melakukan PHK dan menolak bantuan pemerintah di awal pandemi menjadi keputusan nyata dari cara berpikir yang pernah ia ambil. Langkah tersebut tidak hanya memperkuat kepercayaan internal, tetapi juga membangun kredibilitas jangka panjang di mata klien. Ketika situasi membaik, fondasi yang kuat itu memungkinkan perusahaan bergerak lebih cepat dari pesaingnya.

Kepemimpinan di Tengah Turbulensi: Tenang, Jujur, dan Mendengar

Kulik kerap mengibaratkan kepemimpinan di masa krisis seperti pilot pesawat saat menghadapi turbulensi. Penumpang akan memperhatikan setiap gestur di kokpit. Jika sang pilot terlihat ragu, kepanikan akan menyebar. Hal yang sama terjadi dalam organisasi. Di tengah ketidakpastian, cara pemimpin berkomunikasi sering kali lebih penting daripada keputusan itu sendiri.

Transparansi menjadi kunci, namun bukan berarti membagikan semua kekhawatiran tanpa arah. Kulik memilih bersikap jujur tentang apa yang diketahui dan tidak diketahui, sekaligus menyampaikan rencana konkret ke depan. Dengan begitu, tim tidak dibiarkan berspekulasi. Mereka tahu bahwa situasi mungkin berubah, tetapi selalu ada jalur yang sedang ditempuh.

Lebih dari itu, ketahanan organisasi dibangun melalui kebiasaan mendengar. Dialog terbuka dengan karyawan, ruang untuk umpan balik, dan keberanian mengakui kesalahan menciptakan budaya yang tidak rapuh saat diterpa tekanan. Kesalahan tidak dipandang sebagai kegagalan personal, melainkan sebagai sinyal pembelajaran. Jika kesalahan yang sama terus berulang, barulah sistem yang dipertanyakan, bukan individunya.

Pada akhirnya, memimpin di tengah ketidakpastian bukan soal tampil paling yakin atau memiliki jawaban paling lengkap. Ia adalah tentang menjaga ketenangan, bersikap jujur pada realitas, dan terus bergerak meski tanah di bawah kaki terasa goyah. Dalam dunia yang terus berubah, justru mereka yang mampu belajar dan beradaptasilah yang akan melangkah lebih jauh.