Hak Cipta

Cara Mendapatkan Promosi Jabatan di 2026

(Business Lounge Journal – Human Resources)

Bukan tentang tampil paling menonjol, melainkan paling konsisten

Selama ini, promosi jabatan sering diasosiasikan dengan keberanian tampil, pencapaian besar, atau proyek spektakuler yang mudah dipamerkan. Namun, realitas di balik keputusan promosi jarang sesederhana itu. Kenaikan jabatan hampir tidak pernah terjadi secara dramatis—dan nyaris selalu diputuskan jauh sebelum pengumuman resminya muncul di LinkedIn.

Di tahun 2026, pola ini semakin jelas. Karier yang naik bukanlah hasil dari satu momen heroik, melainkan akumulasi dari rutinitas yang konsisten—bahkan sering kali membosankan—namun berdampak nyata bagi pelanggan, atasan, dan rekan kerja.

Promosi Dimulai dari Konsistensi

Dalam sebuah publikasi, Beni Avni, pendiri New York Gates, perusahaan penyedia pintu dan gerbang berbasis di Brooklyn mengatakan, “Lonjakan karier terbesar yang pernah saya lihat tidak pernah dimulai dari langkah berani. Semua itu dimulai dari konsistensi yang nyaris tidak terlihat.”

Menurut Avni, sebelum seorang manajer memikirkan perubahan jabatan, hal pertama yang mereka nilai adalah perilaku kerja sehari-hari. Bukan ide besar, melainkan kemampuan menyelesaikan pekerjaan rutin tanpa keluhan, datang tepat waktu, menuntaskan tugas kecil, dan mendeteksi masalah sejak dini. “Kepercayaan tumbuh dari keandalan,” jelasnya. “Inovasi memang penting, tetapi dalam banyak situasi sulit, kepercayaan jauh lebih bernilai. Menyelesaikan hal-hal yang sering diabaikan orang lain, menjaga standar kerja tinggi meski tidak diawasi—itulah yang diam-diam membedakan Anda.”

Tiga Pola yang Selalu Muncul dalam Keputusan Promosi

Richard Govada Joshua, project manager di TEKsystems, menegaskan bahwa promosi hampir selalu diputuskan secara tertutup dan berdasarkan rekam jejak jangka panjang. Ia merangkum tiga pola utama yang konsisten muncul dalam keputusan kepemimpinan:

  1. Keputusan promosi dibuat jauh sebelum diumumkan.
    Pimpinan hanya mempertimbangkan karyawan yang telah menunjukkan kinerja andal secara konsisten dalam waktu lama.
  2. Kinerja kecil tapi stabil lebih bernilai daripada satu pencapaian besar.
    Keandalan adalah indikator potensi yang jauh lebih kuat dibanding satu keberhasilan spektakuler.
  3. Penguasaan proses operasional dasar membuka jalan ke level strategis.
    Pengalaman di “kerja dasar” harus dimiliki sebelum seseorang dipercaya memegang peran yang lebih besar.

Joshua mengatakan, “Beberapa bulan sebelum promosi diumumkan, para pemimpin sebenarnya sudah tahu siapa yang bisa dipercaya. Siapa yang menutup pekerjaan tanpa perlu diingatkan, siapa yang bisa menjaga proyek tetap berjalan saat situasi kacau. Biasanya, mereka bukan yang paling vokal, melainkan yang paling dapat diandalkan.”

Banyak profesional meremehkan pekerjaan yang dianggap sepele: dokumentasi, persiapan rapat, manajemen risiko, atau menepati komitmen kecil. Padahal, justru inilah fondasi kredibilitas. “Tindakan-tindakan ‘tidak menarik’ inilah yang membangun reputasi,” ujar Joshua. “Pemimpin jarang bertanya ‘Siapa yang mau?’ ketika ada peran baru. Mereka lebih sering bertanya, ‘Siapa yang sebenarnya sudah bekerja di level ini, meski tanpa gelar?’”

Reliabilitas sebagai Mata Uang Baru Kepemimpinan

Bagi Melanie Allen, CEO dan cofounder Green Loop Marketing, fokus utama dalam promosi internal adalah reliabilitas. “Apakah orang ini melakukan apa yang ia janjikan? Apakah perilakunya dapat diprediksi? Apakah ia konsisten?” ujarnya.

Menurut Allen, kebiasaan sederhana seperti datang tepat waktu, menyiapkan agenda rapat, mematuhi tenggat waktu, dan berkomunikasi dengan jelas sering disebut sebagai soft skills. Namun dalam praktiknya, kebiasaan ini memiliki dampak keras terhadap produktivitas dan budaya kerja. “Reliabilitas membangun kepercayaan. Kepercayaan memperdalam relasi kerja dan meningkatkan kualitas hasil,” katanya.

Di 2026, Karier Dibangun dari Skill, Bukan Sekadar Jabatan

Mark Onisk, Senior Managing Director Talent Strategy & Transformation di Skillsoft, menyoroti perubahan besar dalam cara organisasi melihat talenta. “Di 2026, mereka yang maju adalah mereka yang memperlakukan skill sebagai unit terkecil karier,” jelasnya.

Alih-alih mengejar jabatan ideal, profesional disarankan fokus pada keterampilan yang benar-benar dibutuhkan organisasi. Pendekatan ini mencakup:

  • pembelajaran rutin dalam siklus singkat,
  • penerapan skill langsung dalam pekerjaan nyata,
  • serta pelacakan perkembangan dan dampaknya terhadap bisnis.

Menruut Onisk,“Akumulasi kebiasaan ini mungkin terlihat sunyi, tetapi justru sinyal terkuat bahwa seseorang siap dipromosikan kapan pun dibutuhkan.”

Jangan Lupa: Dokumentasikan Kontribusi Anda

Satu hal krusial yang sering diabaikan: atasan tidak selalu tahu seluruh kontribusi Anda. Karena itu, dokumentasi menjadi alat penting dalam kemajuan karier.

Marna Becker, Head of Business Development di Avon.AI, menyebut pencatatan hasil kerja sebagai strategi paling efektif untuk naik jabatan di 2026. “Bersikap konsisten dan dokumentasikan segalanya,” ujarnya. “Catat apa yang Anda lakukan, bagaimana hasilnya, dan mengapa itu berhasil—terutama jika Anda bekerja di organisasi baru atau berskala kecil.”

Dokumentasi ini dapat dibagikan secara strategis saat evaluasi kinerja atau diskusi empat mata dengan atasan.

Karier Naik Saat Anda Tak Lagi Diawasi

Benang merah dari para pemimpin ini jelas: kepercayaan adalah faktor utama promosi. Dan kepercayaan dibangun melalui reliabilitas, konsistensi, dan pola perilaku yang dapat diandalkan. “Saat saya harus mengambil keputusan cepat di bawah tekanan,” tutup Avni, “saya lebih mempercayai pola perilaku dibanding janji. Jika pimpinan tidak lagi merasa perlu mengawasi Anda, di situlah karier Anda memasuki tahap matang.”

Di 2026, promosi bukan soal siapa yang paling terlihat—melainkan siapa yang paling bisa dipercaya, bahkan ketika tidak ada yang sedang memperhatikan.