Big Pharma

Big Pharma Punya Lebih dari Sekadar Obat Obesitas

(Business Lounge – Medicine) Selama setahun terakhir, sorotan pasar farmasi global nyaris terfokus pada satu tema besar: obat obesitas. Lonjakan permintaan terhadap terapi penurun berat badan berbasis GLP-1 telah mengerek valuasi sejumlah perusahaan obat dan mengubah peta persaingan industri. Namun di balik euforia itu, ada cerita lain yang mulai kembali diperhatikan investor dan regulator. Industri farmasi besar ternyata memiliki lebih banyak penopang pertumbuhan dibandingkan hanya segmen obesitas.

Perusahaan farmasi kini mendapatkan perhatian baru atas portofolio obat yang sedang dikembangkan di luar terapi metabolik. Mulai dari pengobatan kanker generasi baru, terapi penyakit autoimun, hingga obat neurologi dan penyakit langka, pipeline riset yang selama ini kurang diperhatikan kembali dilihat sebagai sumber nilai jangka panjang. Menurut The Wall Street Journal, sejumlah investor mulai menilai ulang perusahaan farmasi besar dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, tidak lagi semata-mata mengaitkan prospek bisnis mereka pada keberhasilan obat obesitas.

Salah satu faktor penting yang mengubah sentimen adalah iklim regulasi yang relatif lebih bersahabat. Regulator di Amerika Serikat dan Eropa memberikan sinyal fleksibilitas yang lebih besar, terutama dalam proses persetujuan obat inovatif untuk penyakit dengan kebutuhan medis tinggi. Otoritas kesehatan menunjukkan kesediaan mempercepat jalur persetujuan atau memberikan panduan yang lebih jelas, sehingga mengurangi ketidakpastian yang selama ini membebani biaya dan waktu pengembangan obat. Financial Times mencatat bahwa pendekatan ini memberi napas baru bagi perusahaan yang memiliki portofolio riset luas tetapi belum menghasilkan terobosan komersial besar.

Selain itu, tekanan harga obat yang sempat menjadi momok bagi industri juga menunjukkan tanda-tanda mereda. Kebijakan pengetatan harga di AS memang masih berjalan, tetapi implementasinya dinilai lebih bertahap dan terukur dibandingkan kekhawatiran awal pasar. Hal ini memberi ruang bagi perusahaan farmasi untuk merencanakan strategi jangka menengah dengan lebih pasti. Menurut Bloomberg, stabilitas regulasi ini mendorong manajemen perusahaan kembali agresif dalam investasi riset dan pengembangan, alih-alih hanya mengandalkan akuisisi besar.

Konteks ini penting karena banyak perusahaan farmasi besar sebenarnya memiliki pipeline yang sangat dalam. Di bidang onkologi, misalnya, riset terapi berbasis antibodi, sel, dan RNA terus berkembang. Beberapa obat yang menargetkan kanker paru, payudara, dan darah memasuki fase uji klinis lanjutan dengan hasil yang dinilai menjanjikan. Di sektor neurologi, perusahaan berlomba mengembangkan terapi untuk Alzheimer, Parkinson, dan penyakit neurodegeneratif lain, sebuah area yang lama dianggap berisiko tinggi tetapi berpotensi menghasilkan pasar bernilai ratusan miliar dolar.

Obat untuk penyakit autoimun dan inflamasi kronis juga kembali menjadi pusat perhatian. Permintaan global terhadap terapi yang lebih spesifik dan minim efek samping terus meningkat, seiring bertambahnya diagnosis penyakit seperti psoriasis, rheumatoid arthritis, dan penyakit radang usus. Reuters melaporkan bahwa beberapa obat baru di segmen ini diperkirakan akan menjadi blockbuster berikutnya, meski tidak sepopuler obat obesitas di mata publik.

Bagi investor, dinamika ini mengubah narasi tentang Big Pharma. Selama beberapa tahun, industri ini kerap dipandang defensif, bergantung pada satu atau dua obat andalan, serta rentan terhadap risiko paten dan regulasi. Kini, dengan pipeline yang lebih beragam dan dukungan kebijakan yang relatif kondusif, perusahaan farmasi mulai diposisikan kembali sebagai mesin inovasi jangka panjang. Valuasi yang sebelumnya tertinggal dibandingkan sektor teknologi juga mulai terlihat lebih menarik.

Namun, tantangan tetap ada. Biaya pengembangan obat masih sangat tinggi, tingkat kegagalan uji klinis tetap signifikan, dan persaingan global semakin ketat, termasuk dari perusahaan biotek di China dan Eropa. Selain itu, ketergantungan pasar pada beberapa terapi unggulan, seperti obat obesitas, tetap membawa risiko jika ekspektasi pertumbuhan tidak terpenuhi. Karena itu, diversifikasi portofolio menjadi kunci keberlanjutan industri.

Cerita Big Pharma tidak sesempit tren obat penurun berat badan. Obesitas mungkin menjadi bintang saat ini, tetapi fondasi industri farmasi global dibangun di atas spektrum riset yang jauh lebih luas. Dengan pipeline yang kembali dihargai pasar dan regulasi yang memberi ruang bernapas, perusahaan obat besar tampaknya memiliki lebih banyak peluang untuk tumbuh—bahkan ketika hype terhadap satu kelas obat mulai mereda.