(Business Lounge Journal – Human Resources)
Dalam lanskap kerja modern yang semakin kompleks, diskusi tentang employee wellbeing sudah jauh melampaui sekadar fasilitas yoga atau snack sehat di kantor. Wellbeing kini dipandang sebagai elemen strategis dalam manajemen organisasi, bahkan sebagai fondasi untuk mencapai kinerja puncak yang berkelanjutan.
Employee wellbeing merupakan kondisi menyeluruh di mana karyawan merasa sehat secara fisik, mental, emosional, finansial, dan sosial, serta mampu menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan kehidupan pribadinya, sehingga dapat bekerja secara optimal dan berkelanjutan.
Dalam konteks manajemen modern, employee wellbeing tidak hanya berarti ketiadaan stres atau sakit, tetapi mencakup:
- Kesehatan fisik: kondisi tubuh yang mendukung produktivitas dan energi kerja
- Kesehatan mental dan emosional: kemampuan mengelola tekanan, emosi, dan tantangan kerja
- Kesejahteraan finansial: rasa aman dan kendali atas kondisi keuangan pribadi
- Keseimbangan kerja–kehidupan: kemampuan mengatur waktu, energi, dan peran di dalam maupun di luar pekerjaan
- Rasa aman dan bermakna di tempat kerja: perasaan dihargai, didukung, dan memiliki tujuan
Secara strategis, employee wellbeing dapat dipahami sebagai fondasi keberlanjutan kinerja organisasi, karena karyawan yang sejahtera cenderung lebih terlibat, produktif, loyal, dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Singkatnya, employee wellbeing adalah prasyarat bagi kinerja tinggi yang konsisten, bukan sekadar program tambahan atau fasilitas pelengkap.
Procter & Gamble (P&G) adalah salah satu contoh perusahaan global yang menjadikan wellbeing sebagai pilar manajemen — bukan hanya untuk produktivitas semata, tetapi untuk kesehatan dan pertumbuhan individu secara utuh. Pendekatan ini semakin relevan di Indonesia, di mana perubahan demografis, peningkatan ekspektasi generasi milenial dan Gen Z, serta dinamika kerja hibrida menuntut organisasi menjadi lebih manusiawi dan adaptif.
Mengapa Total Wellbeing Penting untuk Organisasi?
Survei dan penelitian menunjukkan hubungan kuat antara wellbeing karyawan dan performa organisasi:
- Gallup State of the Global Workplace 2023 menyatakan bahwa hanya sekitar 23% karyawan merasa terlibat secara aktif di tempat kerja. Keterlibatan ini erat terkait dengan kesejahteraan emosional dan lingkungan kerja yang mendukung. (Gallup, 2023)
- World Health Organization (WHO) mencatat bahwa stres kerja yang tak tertangani dapat meningkatkan risiko penyakit mental dan fisik, yang berdampak pada tingginya biaya kesehatan perusahaan dan penurunan produktivitas.
- Studi lain dari Harvard Business Review menemukan bahwa karyawan dengan tingkat wellbeing yang tinggi memiliki produktivitas 31% lebih besar dan lebih kecil kemungkinannya pindah kerja.
Data-data ini menegaskan bahwa investasi pada wellbeing bukan sekadar “bonus karyawan”, tetapi langkah taktis untuk menekan angka turnover, meningkatkan keterlibatan, dan memaksimalkan produktivitas jangka panjang.
Empat Pilar Wellbeing P&G sebagai Kerangka Strategis
P&G memetakan wellbeing berdasarkan empat pilar utama:
- Wellbeing Fisik: Fokus pada pencegahan dan akses layanan kesehatan, termasuk kebugaran dan pemeriksaan medis rutin.
- Wellbeing Mental: Menyediakan akses ke layanan konseling, program pemulihan, dan kesempatan cuti yang memadai.
- Wellbeing Finansial: Edukasi perencanaan keuangan, akses ke sumber daya investasi, dan bantuan memahami risiko finansial.
- Keseimbangan Kerja & Kehidupan Pribadi (Work-Life Balance): Kebijakan kerja fleksibel, manajemen beban kerja, dan dukungan untuk tanggung jawab personal.
Pendekatan ini memberi fleksibilitas, karena kebutuhan wellbeing berubah sepanjang karier — dari fresh graduate yang membutuhkan peningkatan kemampuan finansial, hingga karyawan berkeluarga yang mungkin fokus pada kesehatan dan manajemen waktu.
Berikut beberapa contoh organisasi di Indonesia yang mulai menerapkan pendekatan wellbeing strategis:
1. Unilever Indonesia
Unilever menyelenggarakan program Health & Wellness sebagai bagian dari struktur manajemen SDM mereka. Program ini mencakup akses layanan kesehatan, konseling psikologis, serta kelas kebugaran dan mindfulness untuk pegawai. Selain itu, Unilever juga menawarkan fleksibilitas kerja dan dukungan untuk keluarga karyawan.
Penting untuk diketahui bahwa wellbeing tidak hanya soal satu program, tetapi menjadi bagian dari employee value proposition (EVP) yang utuh.
2. Gojek Tokopedia (GoTo)
Di tengah era kerja hibrida, GoTo fokus pada dukungan kesehatan mental lewat layanan konseling internal, jam kerja yang fleksibel, serta program edukasi seputar keseimbangan kerja–kehidupan pribadi. Perusahaan juga memberikan ruang bagi tim untuk berdiskusi tentang beban kerja dan dukungan yang dibutuhkan. Komunikasi dan dialog terstruktur antara manajemen dan karyawan penting untuk memahami kebutuhan wellbeing yang sesungguhnya.
3. Danone Indonesia
Danone dikenal dengan pendekatan “People First”. Selain tunjangan kesehatan komprehensif, perusahaan ini menerapkan program Resilience and Mental Health, coaching untuk karyawan, serta kebijakan kerja yang adaptif dengan fase kehidupan (misalnya dukungan bagi orang tua baru). Penyesuaian kebijakan berdasarkan fase kehidupan adalah langkah strategis untuk mempertahankan talenta.
Survei dan Temuan Penting Tentang Wellbeing di Tempat Kerja
Beberapa hasil riset tambahan yang relevan untuk praktik manajemen wellbeing:
- 2024 Global Wellbeing Survey (Mercer) menunjukkan bahwa lebih dari 80% pekerja menginginkan dukungan kesehatan mental yang lebih kuat dari perusahaan, sementara lebih dari 60% menganggap fleksibilitas kerja sebagai faktor utama dalam memilih pekerjaan.
- McKinsey & Company menemukan bahwa organisasi yang fokus pada wellbeing karyawan memiliki tingkat produktivitas 2–3 kali lebih tinggi dibandingkan yang tidak.
- LinkedIn Workplace Report melaporkan bahwa keseimbangan kerja–hidup adalah alasan utama orang bertahan di perusahaan, bahkan lebih besar dari kompensasi finansial semata.
Strategi Wellbeing untuk Tahun 2026: Rekomendasi Praktis untuk Manajemen
Untuk mempersiapkan organisasi menghadapi tantangan SDM dan budaya kerja di 2026, berikut tips praktis yang bisa diadopsi:
1. Bangun Framework Wellbeing yang Terintegrasi
Tidak cukup hanya menyediakan fasilitas kesehatan. Rancanglah program yang menggabungkan empat pilar wellbeing (fisik, mental, finansial, work-life) sebagai bagian dari strategi organisasi.
- Sertakan wellbeing dalam KPI manajemen.
- Hubungkan dengan tujuan bisnis jangka panjang perusahaan.
2. Personalisasi Program Wellbeing
Teknologi HR seperti people analytics dapat membantu memahami kebutuhan karyawan berdasarkan golongan umur, posisi, dan fase kehidupan.
- Survei internal berkala untuk mengetahui prioritas wellbeing.
- Paket manfaat yang fleksibel (mis. tunjangan kesehatan modular).
3. Latih Pemimpin dan Manajer untuk Menjadi Facilitator
Manajer harus menjadi ujung tombak wellbeing—bukan hanya penilai kinerja.
- Pelatihan komunikasi empatik.
- Coaching untuk membangun budaya saling dukung.
4. Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan Mental
Mental health sekarang bukan pilihan, tetapi kebutuhan strategis.
- Kemitraan dengan layanan konseling profesional.
- Support group dan workshop kesejahteraan emosional.
5. Gunakan Data untuk Mengukur Efektivitas Program
Tanpa metrik dan evaluasi, program wellbeing bisa kehilangan arah.
- Dashboard keterlibatan karyawan, tingkat burnout, absensi, dan turnover.
- Feedback loop untuk terus memperbaiki pendekatan.
6. Bangun Budaya yang Mendukung Work-Life Harmony
Fleksibilitas kerja, bukan sekadar jam kerja, tetapi ritme kerja yang menghormati kehidupan personal.
- Kebijakan kerja hibrida yang jelas dan adil.
- Dukungan untuk tanggung jawab keluarga (mis. cuti orang tua).
Manajemen Wellbeing adalah Strategi Bisnis
Wellbeing bukan lagi isu karyawan atau HR semata — ini adalah strategi kepemimpinan dan operasi yang memengaruhi daya saing organiasi. Ketika perusahaan seperti P&G dan beberapa perusahaan Indonesia mulai memadukan kesejahteraan dengan tujuan bisnis, mereka memperlihatkan bahwa manusia dan hasil bisnis bukan dua hal terpisah, melainkan dua sisi dari koin yang sama.
Di era 2026 ke depan, organisasi yang mampu membangun kesejahteraan sebagai fondasi budaya kerja akan memiliki keunggulan besar dalam menarik dan mempertahankan talenta, mendorong inovasi, dan memastikan performa tinggi yang berkelanjutan.

