Ford Telan Kerugian Rp300 Triliunan, Strategi Mobil Listrik Menyesuaikan Kebijakan Pemerintah

Siapa yang tak kenal Ford? Nama besar ini sudah lebih dari satu abad menjadi simbol industri otomotif dunia. Dari lini produksi massal pertama di era Henry Ford hingga pickup legendaris yang mendominasi jalanan Amerika, Ford selalu identik dengan inovasi dan kekuatan manufaktur. Namun bahkan raksasa otomotif pun tidak kebal terhadap perubahan zaman dan arah politik. Namun, industri otomotif global kembali diguncang kabar besar. Ford Motor Company mengumumkan pembukuan kerugian fantastis senilai US$19,5 miliar atau setara lebih dari Rp300 triliun. Penyebabnya bukan karena penjualan mobil konvensional yang anjlok, melainkan perubahan besar dalam strategi kendaraan listrik (EV) yang dipicu oleh arah kebijakan baru pemerintahan Donald Trump.

Kerugian ini sebagian besar berasal dari penyesuaian nilai aset (write-down), termasuk US$6 miliar yang terkait dengan penghentian usaha patungan baterai Ford dengan perusahaan asal Korea Selatan, SK On. Joint venture ini sebelumnya digadang-gadang menjadi tulang punggung ambisi Ford di sektor EV, terutama untuk memasok baterai mobil listrik generasi baru di Amerika Serikat.

Namun arah angin politik berubah. Pemerintahan Trump mendorong kebijakan energi dan industri yang lebih berpihak pada manufaktur tradisional, bahan bakar fosil, serta pengetatan ulang terhadap insentif kendaraan listrik. Dampaknya langsung terasa. Proyek-proyek EV yang sebelumnya terlihat menjanjikan kini dianggap terlalu berisiko dan mahal.

Ford pun harus bersikap realistis. Alih-alih terus “bakar uang” di segmen EV yang pertumbuhannya melambat, perusahaan memilih meninjau ulang seluruh peta jalannya. Beberapa proyek baterai dibatalkan, kapasitas produksi dikurangi, dan fokus dialihkan ke model hibrida serta kendaraan berbahan bakar konvensional yang masih punya pasar kuat—terutama di AS.

Meski terdengar seperti langkah mundur, manajemen Ford menyebut keputusan ini sebagai bentuk adaptasi. Pasar mobil listrik ternyata tidak secepat dan semulus yang diprediksi beberapa tahun lalu. Harga EV masih mahal, infrastruktur pengisian belum merata, dan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam belanja besar di tengah ketidakpastian ekonomi.

Kerugian besar ini memang menyakitkan secara angka, tapi Ford menegaskan bahwa kondisi keuangannya tetap solid. Write-down bersifat non-tunai, artinya tidak langsung menggerus kas perusahaan. Namun secara simbolik, langkah ini menunjukkan satu hal penting: transisi ke mobil listrik tidak hanya soal teknologi, tapi juga sangat dipengaruhi politik dan kebijakan negara.

Kasus Ford juga menjadi pelajaran bagi pemain otomotif lain. Ambisi hijau bisa saja berubah drastis ketika pemerintahan berganti. Strategi EV yang terlalu agresif tanpa fleksibilitas bisa berujung mahal.

Ke depan, Ford akan mengambil pendekatan yang lebih “seimbang”: tetap mengembangkan EV, tapi dengan ritme lebih hati-hati. Mobil hibrida, pickup, dan SUV bermesin bensin masih akan menjadi penopang utama pendapatan.

Singkatnya, cerita ini menegaskan bahwa masa depan otomotif tidak berjalan lurus. Antara idealisme elektrifikasi dan realitas pasar, Ford memilih bertahan dengan menyesuaikan arah—meski harus membayar mahal di awal perjalanan. Namun, Ford