(Business Lounge – Global News) Deutsche Börse dikabarkan tengah melakukan pembicaraan eksklusif dengan Allfunds untuk akuisisi seluruh saham perusahaan — sebuah langkah strategis yang dapat mengubah lanskap distribusi dana investasi di Eropa. Penawaran awal yang diajukan perusahaan bursa asal Jerman itu bernilai €8,80 per saham Allfunds, terdiri dari €4,30 tunai dan €4,30 dalam bentuk saham baru Deutsche Börse. Paket ini juga menyertakan dividen khusus untuk tahun keuangan 2025, serta kemungkinan distribusi tambahan selama 2026–2027.
Nilai total akuisisi diperkirakan sekitar €5,3 sampai €5,4 miliar — setara dengan sekitar US$6 miliar — tergantung pada mekanisme pembayaran dan jumlah saham yang dilepas. Allfunds, yang beberapa tahun lalu sempat dipandang sebagai aset bernilai tinggi di industri fund-tech Eropa, sejak pencatatannya di bursa mengalami penurunan valuasi. Namun sekarang, lewat penawaran dari Deutsche Börse, nilai sahamnya langsung melonjak signifikan ketika rumor akuisisi menjadi publik.
Dalam pengumumannya, Deutsche Börse menyatakan keyakinannya bahwa menggabungkan bisnis layanan dana (fund services) miliknya dengan platform Allfunds akan menciptakan “ekosistem pan-Eropa” yang terintegrasi. Kombinasi ini diharapkan mengurangi fragmentasi pasar dana investasi Eropa, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempercepat akses pasar bagi manajer dana maupun distributor dan investor ritel.
Dari perspektif strategis, akuisisi ini memungkinkan Deutsche Börse memperluas portofolio layanan di luar fungsi utamanya sebagai operator bursa, kliring, dan indeks — menjadikannya pemain dominan yang menghubungkan produksi dana, distribusi, dan layanan infrastruktur pasar modal. Sementara bagi Allfunds, integrasi dengan Deutsche Börse berpeluang memberikan skala operasional lebih besar dan stabilitas struktural, sekaligus memanfaatkan jaringan klien luas yang dimiliki bursa Jerman tersebut.
Para pemegang saham Allfunds — termasuk investor institusional besar — telah menyetujui untuk memasuki fase “eksklusifitas negosiasi” berdasarkan proposal non-binding dari Deutsche Börse. Namun manajemen keduanya menegaskan bahwa kesepakatan final belum dijamin. Banyak tahapan masih harus dilalui, termasuk due-diligence, persetujuan dewan, serta regulasi dan persetujuan antitrust dari pengawas kompetisi Eropa bila diperlukan.
Jika akuisisi berjalan mulus, implikasinya bisa luas. Untuk pasar dana di Eropa, keberadaan entitas terpadu yang menggabungkan trading, distribusi, penyimpanan, dan layanan dana bisa mempercepat pertumbuhan industri, menurunkan biaya transaksi, serta mempermudah akses investor individu maupun institusional. Hal ini sejalan dengan upaya reguler dan kebijakan Uni Eropa untuk memperkuat capital markets dan kanal investasi ritel.
Namun, langkah ini juga penuh tantangan. Pertama, regulasi kompetisi dan persaingan di Eropa cenderung berhati-hati terhadap konsolidasi besar di sektor infrastruktur keuangan — terutama jika satu entitas menguasai banyak bagian dari rantai nilai (trading, distribusi, kliring). Kedua, integrasi teknologi dan sistem antara Deutsche Börse dan Allfunds bisa rumit, mengingat perbedaan arsitektur teknis, skala klien, dan regulasi lintas negara. Ketiga, dampak pada persaingan industri bisa membuat pesaing — seperti bursa lain, platform independen, atau manajer dana — mempertimbangkan strategi defensif atau mencari alternatif untuk menjaga keberagaman pasar.
Selain itu, dari sisi investor Allfunds, meskipun penawaran memberikan premi dibanding harga saham saat pasar terbuka, ada ketidakpastian terkait valuasi jangka panjang, struktur pembayaran (gabungan tunai dan saham), serta potensi dividen di masa mendatang — semua bergantung pada pencapaian target pasca-akuisisi dan sinergi yang diwujudkan.
Bagi Deutsche Börse sendiri, akuisisi ini bisa menjadi titik balik dalam strategi durasi panjang, menjadikannya sebagai pusat “one-stop shop” untuk layanan dana di Eropa — bukan sekadar bursa efek, tetapi infrastruktur menyeluruh untuk manajemen, distribusi, dan transaksi dana. Jika sukses, hal ini bisa memperkuat posisi bank sentral pasar, meningkatkan daya tarik modal asing ke Eropa, dan memacu adopsi investasi reksadana dan instrumen kolektif di kalangan ritel.
Namun jika kesepakatan gagal — misalnya karena regulasi ketat, penolakan pemegang saham, atau kesulitan integrasi — hal itu bisa menjadi peringatan terhadap risiko konsolidasi di sektor fund-tech. Pasar mungkin melihatnya sebagai sinyal bahwa valuasi saat ini terlalu agresif, atau bahwa model bisnis terintegrasi penuh memiliki batas dalam realisasi efisiensi.
Saat ini, negosiasi masih berlangsung, dengan kedua belah pihak menyatakan bahwa mereka akan membuat pengumuman lebih lanjut bila ada kesepakatan final. Investor, manajer dana, dan pengamat pasar kini menunggu dengan seksama perkembangan ini, karena hasilnya bisa mendefinisikan kembali bagaimana pasar dana Eropa dikelola — apakah menuju konsolidasi besar dan efisiensi, atau tetap pada ekosistem beragam dengan banyak pemain independen.
Langkah Deutsche Börse terhadap Allfunds menunjukkan bahwa di tengah tekanan global dan upaya memperkuat pasar keuangan Eropa, konsolidasi dan integrasi struktur layanan kini menjadi strategi utama — dengan potensi membawa efisiensi besar, tetapi juga risiko regulasi dan persaingan.

