Lloyds Banking

Lloyds Banking Group Sisihkan Tambahan $1,07 Miliar untuk Kompensasi Pinjaman Mobil

(Business Lounge – Global News) Lloyds Banking Group kembali menghadapi tekanan besar setelah mengumumkan bahwa pihaknya akan menyisihkan tambahan dana sebesar 1,07 miliar dolar AS untuk menutupi biaya kompensasi terkait penyelidikan atas penjualan pinjaman mobil yang dinilai tidak adil di masa lalu. Langkah ini menambah beban finansial yang signifikan bagi bank terbesar di Inggris tersebut dan menyoroti risiko hukum yang masih membayangi sektor keuangan Inggris terkait praktik kredit konsumen.

Dalam pernyataan resminya, Lloyds menyebutkan bahwa semakin besar kemungkinan lebih banyak kasus historis yang akan memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi, dan bahwa tingkat pembayaran ganti rugi diperkirakan lebih tinggi dari yang sebelumnya diantisipasi. Tambahan provisi ini membuat total dana yang dialokasikan bank untuk isu tersebut meningkat menjadi lebih dari 2 miliar dolar AS sejak awal tahun.

Menurut laporan The Wall Street Journal dan Reuters, skandal ini bermula dari dugaan bahwa beberapa unit pembiayaan Lloyds, termasuk Black Horse Finance, memberikan pinjaman mobil dengan bunga yang ditentukan secara tidak transparan. Dalam banyak kasus, dealer mobil disebut menerima komisi yang lebih tinggi ketika mereka menetapkan tingkat bunga yang lebih mahal bagi pelanggan. Skema ini menimbulkan konflik kepentingan yang kemudian memicu penyelidikan regulator keuangan Inggris, Financial Conduct Authority (FCA).

FCA sedang meninjau jutaan kontrak pembiayaan mobil yang diterbitkan sebelum aturan baru tentang transparansi komisi diberlakukan pada 2021. Menurut badan tersebut, konsumen berpotensi telah membayar bunga lebih tinggi daripada yang seharusnya, karena mekanisme komisi yang tidak sepenuhnya diungkapkan kepada mereka. FCA memperkirakan total kompensasi industri dapat mencapai lebih dari 10 miliar dolar AS, dengan Lloyds diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak karena skala dan pangsa pasarnya yang besar.

CEO Lloyds, Charlie Nunn, dalam pernyataannya menegaskan bahwa langkah menambah cadangan kompensasi adalah bentuk tanggung jawab perusahaan untuk menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh. “Kami berkomitmen memberikan penyelesaian yang adil bagi pelanggan kami,” ujar Nunn. “Kami memahami bahwa isu ini telah menimbulkan ketidakpastian, dan kami ingin memastikan proses kompensasi berjalan transparan dan efisien.”

Meskipun keputusan ini dipandang positif dari sisi tata kelola, investor bereaksi hati-hati terhadap berita tersebut. Saham Lloyds sempat turun sekitar 3% di London setelah pengumuman tambahan provisi ini, mencerminkan kekhawatiran bahwa biaya hukum dan kompensasi dapat menekan margin keuntungan bank dalam beberapa kuartal mendatang.

Analis dari Barclays menyebutkan bahwa tambahan dana cadangan tersebut “lebih besar dari yang diharapkan pasar” dan bisa memengaruhi target laba tahunan Lloyds. “Meskipun langkah ini mungkin bijak secara strategis, tekanan jangka pendek terhadap profitabilitas tidak dapat dihindari,” tulis laporan riset tersebut.

Namun, sebagian analis melihat keputusan Lloyds sebagai langkah proaktif yang dapat membantu mempercepat pemulihan reputasi bank. “Lloyds berusaha mengakhiri bab yang berpotensi panjang dan merugikan dengan menghadapinya secara langsung,” ujar seorang analis dari Jefferies. “Daripada membiarkan risiko hukum menggantung, mereka memilih untuk membersihkan neraca secepat mungkin.”

Kasus ini mengingatkan publik pada skandal Payment Protection Insurance (PPI) yang mengguncang sektor perbankan Inggris satu dekade lalu. Dalam kasus PPI, Lloyds menjadi pemain utama yang menanggung biaya kompensasi terbesar, lebih dari 22 miliar dolar AS, akibat penjualan asuransi tambahan yang dianggap menyesatkan. Kini, kasus pinjaman mobil ini dipandang sebagai “PPI jilid dua” oleh sejumlah pengamat industri karena skala potensialnya yang sangat besar.

Selain Lloyds, beberapa lembaga keuangan besar lainnya seperti Barclays, Santander, dan NatWest juga dilaporkan sedang meninjau ulang praktik pembiayaan otomotif mereka. Namun, sejauh ini Lloyds menjadi institusi dengan eksposur terbesar karena dominasi unit pembiayaan Black Horse di pasar kendaraan bermotor Inggris selama dua dekade terakhir.

Regulator FCA mengatakan hasil penyelidikan akan diumumkan secara resmi pada paruh pertama 2025. Sementara itu, bank-bank diminta untuk menyiapkan sistem klaim yang efisien agar pelanggan yang terdampak dapat segera mengajukan kompensasi setelah keputusan akhir dikeluarkan.

Selain risiko hukum, Lloyds juga menghadapi tekanan dari investor yang menuntut penjelasan lebih rinci tentang bagaimana kasus ini dapat memengaruhi rencana pembagian dividen dan pembelian kembali saham. Dalam konferensi dengan analis, manajemen Lloyds menyatakan bahwa kebijakan dividen tahunan tetap tidak berubah untuk saat ini, namun keputusan akhir akan bergantung pada hasil penyelidikan FCA dan kebutuhan modal tambahan.

“Lloyds masih memiliki posisi permodalan yang kuat,” kata CFO William Chalmers dalam pernyataan terpisah. “Rasio modal inti kami tetap di atas target regulasi, dan kami memiliki kapasitas untuk menyerap dampak keuangan dari provisi ini tanpa mengganggu strategi jangka panjang.”