EY konsultan

Gelombang teknologi kecerdasan buatan generatif

(Business Lounge – Gelombang teknologi kecerdasan buatan generatif dalam tiga tahun terakhir telah memunculkan gelombang optimisme yang luar biasa di dunia bisnis global. Banyak perusahaan multinasional percaya bahwa adopsi AI akan membawa efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, serta inovasi produk yang revolusioner. Di tengah euforia itu, perusahaan konsultan yang selama ini menjadi mitra strategis perusahaan besar pun melihat peluang emas. Mereka menggelontorkan investasi miliaran dolar, meluncurkan kampanye pemasaran besar-besaran, dan menyatakan diri sebagai jembatan penting antara teknologi AI dan implementasi nyata di dunia usaha. Namun kenyataannya, harapan itu belum sepenuhnya sejalan dengan hasil yang didapat.

Beberapa firma konsultan besar seperti Deloitte, Bain, EY, McKinsey, PwC, dan Boston Consulting Group mencoba menawarkan diri sebagai pemandu di tengah kompleksitas AI. Slogan yang diangkat penuh dengan janji, seperti yang dilakukan PwC melalui iklannya: “Nobody makes AI work for your business like PwC”. Janji ini ditujukan untuk meyakinkan perusahaan bahwa hanya melalui konsultanlah transformasi digital berbasis AI bisa diwujudkan dengan sukses. Akan tetapi, sejumlah klien justru menemukan jurang lebar antara retorika dan kenyataan.

Sejumlah perusahaan yang telah menandatangani kontrak kerja sama merasa konsultan belum benar-benar menguasai teknis dan implementasi AI di lapangan. Salah satu perusahaan farmasi global bahkan menghentikan kerja sama selama setahun dengan mitra konsultan ternama karena proyek penggunaan AI generatif untuk materi edukasi medis tidak berjalan mulus. Perusahaan itu kemudian melanjutkan proyeknya secara mandiri. Situasi serupa terjadi di Merck, seperti yang diungkap Dave Williams selaku Chief Information and Digital Officer, bahwa meskipun konsultan mampu menghadirkan proof of concept yang meyakinkan, mereka sering gagal mengeksekusi hingga ke skala penuh yang berdampak nyata bagi bisnis.

Persoalan ini menimbulkan frustrasi di kalangan eksekutif. Greg Meyers, Chief Digital and Technology Officer di Bristol-Myers Squibb, menekankan bahwa teknologi yang benar-benar baru seperti generative AI tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman historis konsultan. Menurutnya, seorang mahasiswa yang terbiasa dengan Gemini CLI atau Claude Code dari Google dan Anthropic bisa memiliki tingkat pemahaman praktis yang sama dengan mitra dari Big Four. Komentar itu memperlihatkan bahwa nilai tambah konsultan dalam konteks AI generatif masih dipertanyakan.

Magesh Sarma, Chief Information and Strategy Officer di AmeriSave Mortgage, bahkan lebih blak-blakan dengan mengatakan bahwa konsultan terlalu banyak memberikan janji manis. Setelah mencoba bersama-sama membangun kasus penggunaan AI, pihaknya menyadari bahwa konsultan tidak lebih unggul dibandingkan tim internal. Pernyataan serupa juga datang dari Pat Petitti, CEO Catalant, yang menyindir bahwa tidak jarang perusahaan menghabiskan puluhan juta dolar hanya untuk menerima laporan panjang tentang arah AI tanpa aplikasi praktis yang nyata.

Kekecewaan ini sebagian besar dipicu oleh meningkatnya kapabilitas digital internal perusahaan besar. Eksekutif seperti Tilak Mandadi dari CVS Health menyebutkan bahwa dalam lingkungan yang kompleks seperti layanan kesehatan, justru tim internal lebih memahami kebutuhan spesifik perusahaan dibandingkan konsultan eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi internal korporasi kini menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis konsultasi.

Meski begitu, data pasar tetap menunjukkan bahwa konsultan masih memperoleh pendapatan dari proyek-proyek AI. Menurut Gartner, belanja global untuk jasa konsultasi terkait generative AI meningkat menjadi 3,75 miliar dolar pada 2024 dari 1,34 miliar dolar pada 2023. KPMG bahkan melaporkan potensi proyek AI di Amerika Serikat mencapai 1,4 miliar dolar pada pertengahan 2025, jauh lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya. Accenture, yang berbeda dengan firma lain karena berstatus perusahaan publik, juga melaporkan kenaikan pesanan baru di bidang AI meski pertumbuhannya mulai melambat.

Kondisi ini menegaskan adanya paradoks. Di satu sisi, konsultan masih mendapat kepercayaan sebagai mitra tambahan tenaga kerja dan sumber inspirasi lintas industri. Namun di sisi lain, mereka gagal menunjukkan diri sebagai pionir dalam penerapan AI. Michael Mische, mantan pimpinan di KPMG dan kini dosen di University of Southern California, menyebut bahwa industri konsultasi justru tertinggal dari AI, bukan memimpinnya. Ketertinggalan ini disebabkan lambannya perekrutan talenta dengan kompetensi mendalam di bidang AI.

Namun tentu tidak semua cerita berakhir negatif. Beberapa perusahaan tetap menilai konsultan berguna untuk menghadirkan perspektif industri yang lebih luas. Konsultan juga bisa membantu mempercepat integrasi awal ketika perusahaan kekurangan sumber daya internal. McKinsey melalui Eric Kutcher, Senior Partner sekaligus Chair untuk Amerika Utara, bahkan menyatakan kepada para CEO bahwa pemanfaatan AI yang efektif berpotensi menggandakan harga saham perusahaan dalam lima tahun. Meski demikian, Kutcher sendiri mengakui bahwa hanya segelintir klien yang benar-benar berhasil memaksimalkan potensi AI hingga kini.

Jika ditelaah lebih dalam, masalah utama bukan terletak pada kurangnya niat baik konsultan, melainkan pada karakter teknologi AI generatif itu sendiri. AI bukanlah sistem ERP atau migrasi cloud yang pola implementasinya sudah baku. Generative AI masih dalam fase eksperimental, dengan banyak area abu-abu dalam hal keamanan, akurasi, serta skalabilitas. Hal ini membuat perusahaan harus menanggung risiko tinggi ketika mencoba mengadopsinya. Fiona Czerniawska, CEO Source Global Research, menyebutkan bahwa konsultan mungkin baru akan benar-benar menuai keuntungan besar dalam empat hingga lima tahun mendatang, ketika AI lebih matang dan kasus penggunaannya lebih jelas.

Dalam fase awal ini, konsultan tampak seperti berusaha menempatkan diri di garis depan teknologi, padahal secara tradisional kekuatan mereka terletak pada penerapan sistem yang lebih stabil, dapat diprediksi, dan relatif netral terhadap keunggulan kompetitif perusahaan. Dengan kata lain, generative AI masih belum menjadi “produk” yang bisa dijual dengan resep yang sama untuk semua klien.