(Business Lounge – Art) London’s National Gallery, salah satu institusi seni paling terkemuka di dunia, tengah memasuki babak baru dalam sejarahnya dengan selesainya proyek renovasi besar pada Sayap Sainsbury. Proyek yang digarap oleh arsitek Annabelle Selldorf ini menandai transformasi penting dalam cara museum berusia lebih dari dua abad itu menyambut pengunjung modern, sekaligus memperkuat posisinya sebagai rumah bagi koleksi seni rupa Eropa yang tak ternilai.
Menurut laporan Financial Times, renovasi Sayap Sainsbury bukan hanya soal memperbaiki tampilan fisik, melainkan juga tentang menghadirkan pengalaman baru yang lebih ramah pengunjung. Dengan arsitektur yang lebih terbuka, alur sirkulasi yang diperbarui, dan penataan ulang koleksi, National Gallery kini mampu menampung jumlah pengunjung yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pandemi memang sempat menekan jumlah wisatawan, tetapi pemulihan cepat dalam beberapa tahun terakhir menegaskan kembali peran London sebagai salah satu destinasi seni global utama.
Arsitek Annabelle Selldorf, yang terkenal dengan pendekatannya yang elegan dan sensitif terhadap konteks sejarah, menekankan bahwa tujuan renovasi bukanlah mengubah karakter asli bangunan, melainkan mengoptimalkan fungsinya. Dalam wawancara dengan Architectural Digest, Selldorf menyebut bahwa proyek ini menuntut keseimbangan antara modernitas dan penghormatan terhadap warisan arsitektur yang sudah ada. Sayap Sainsbury, yang pertama kali dibuka pada 1991 sebagai ruang pameran tambahan untuk koleksi awal Renaissance, kini mendapat wajah baru yang lebih terang, lapang, dan inklusif.
Salah satu perubahan paling mencolok adalah cara museum menata ulang pintu masuk dan ruang publiknya. The Guardian menyoroti bahwa pintu masuk lama sering dianggap terlalu sempit dan tidak sesuai dengan arus pengunjung yang terus bertambah. Renovasi baru menghadirkan area penerimaan yang lebih luas, dengan pencahayaan alami dan jalur sirkulasi yang lebih intuitif. Hasilnya, pengalaman pertama pengunjung saat memasuki museum kini terasa lebih terbuka dan mengundang.
Selain perbaikan struktural, penataan ulang koleksi juga menjadi bagian penting dari transformasi ini. New York Times mencatat bahwa karya-karya dari periode awal Renaissance hingga era klasik kini dipamerkan dengan pendekatan kuratorial yang lebih kontekstual. Lukisan-lukisan diposisikan bukan hanya sebagai objek estetis, tetapi juga sebagai bagian dari narasi sejarah sosial dan budaya Eropa. Dengan tata cahaya yang diperbarui dan label yang lebih informatif, pengunjung dapat memahami keterkaitan antar karya secara lebih mendalam.
Bagi National Gallery, proyek ini bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang memperluas akses. Museum berusaha lebih inklusif, tidak hanya bagi wisatawan internasional tetapi juga bagi masyarakat lokal. BBC melaporkan bahwa program edukasi baru telah diluncurkan bersamaan dengan renovasi, termasuk tur interaktif, pameran digital, dan ruang belajar khusus bagi sekolah serta komunitas lokal. Hal ini sejalan dengan tren global di mana museum tidak lagi sekadar berfungsi sebagai penyimpan karya seni, melainkan sebagai pusat pembelajaran dan interaksi publik.
Keputusan menunjuk Annabelle Selldorf juga mencerminkan kepercayaan pada arsitek yang telah lama dikenal sebagai spesialis dalam proyek budaya. Selldorf sebelumnya menggarap berbagai museum bergengsi, termasuk Frick Collection di New York dan Neue Galerie. Dalam setiap proyeknya, ia selalu menekankan pentingnya menghubungkan bangunan bersejarah dengan kebutuhan pengunjung modern. Bagi National Gallery, kolaborasi ini dianggap sukses membawa keanggunan baru tanpa kehilangan identitas klasiknya.
Namun, tidak semua pihak menyambut renovasi ini tanpa kritik. Beberapa arsitek dan sejarawan seni berpendapat bahwa perubahan tertentu berpotensi mengurangi karakter asli Sayap Sainsbury. The Telegraph melaporkan bahwa ada kekhawatiran terkait hilangnya nuansa keintiman yang dulu melekat pada ruang pameran tersebut. Meski begitu, mayoritas pengunjung yang telah menyaksikan hasil renovasi cenderung memuji peningkatan kenyamanan dan aksesibilitas yang kini ditawarkan.
Selain peningkatan fisik, proyek ini juga memperkuat posisi National Gallery dalam peta persaingan museum global. Dengan Louvre di Paris, Prado di Madrid, dan Metropolitan Museum of Art di New York terus memperbarui diri, National Gallery tidak ingin tertinggal. Bloomberg menekankan bahwa dengan jumlah pengunjung yang mencapai lebih dari lima juta orang per tahun, peningkatan fasilitas bukan hanya kebutuhan praktis, tetapi juga strategi reputasi.
Dari sisi ekonomi, renovasi ini juga berkontribusi terhadap pariwisata London. Museum gratis seperti National Gallery memainkan peran penting dalam menarik wisatawan mancanegara. Dengan pengalaman yang lebih baik, museum ini berpotensi memperpanjang waktu kunjungan dan mendorong belanja di sektor lain seperti perhotelan, restoran, dan transportasi. Evening Standard mencatat bahwa investasi dalam budaya telah terbukti menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dan proyek ini diyakini akan memberikan dampak positif serupa.
Proyek ini juga menunjukkan bagaimana lembaga budaya besar menavigasi era digital. National Gallery kini menawarkan lebih banyak tur virtual, aplikasi seluler, dan materi daring yang mendukung kunjungan fisik. Dalam pandangan Art Newspaper, integrasi antara ruang fisik dan digital menjadi kunci agar museum tetap relevan bagi generasi muda yang terbiasa dengan pengalaman multimedia. Renovasi Sayap Sainsbury menjadi momentum untuk menggabungkan dua dunia ini secara harmonis.
Dalam skala yang lebih luas, perubahan di National Gallery merefleksikan transformasi yang sedang berlangsung di banyak museum besar dunia. Fokus kini bergeser dari sekadar menampilkan koleksi menjadi menciptakan pengalaman yang imersif, inklusif, dan berorientasi pada pengunjung. Dengan mengedepankan kenyamanan dan aksesibilitas, museum tidak hanya menjaga relevansi di mata publik, tetapi juga memperkuat perannya sebagai institusi yang memelihara dialog lintas generasi dan budaya.
Bagi para pecinta seni, kembalinya Sayap Sainsbury dengan wajah baru menjadi alasan tambahan untuk mengunjungi London. Lukisan-lukisan karya seniman besar seperti Leonardo da Vinci, Raphael, dan Botticelli kini dipresentasikan dengan cara yang lebih segar, sekaligus tetap menghormati warisan klasiknya. Pengunjung kini bisa menikmati pengalaman yang lebih mendalam, baik sebagai penikmat seni kasual maupun peneliti serius.
Renovasi Sayap Sainsbury di National Gallery London adalah contoh bagaimana institusi budaya dapat beradaptasi dengan tuntutan zaman tanpa mengorbankan nilai historisnya. Annabelle Selldorf berhasil menghadirkan keseimbangan antara tradisi dan modernitas, menjadikan museum ini tidak hanya relevan, tetapi juga lebih ramah bagi jutaan pengunjung yang datang setiap tahun.
National Gallery mengukuhkan dirinya sebagai salah satu pusat seni global yang bukan hanya menyimpan warisan, tetapi juga terus menciptakan pengalaman baru. Dan bagi dunia seni rupa, transformasi ini adalah pengingat bahwa keindahan masa lalu bisa tetap hidup, sepanjang ada keberanian untuk menatap masa depan.

