(Business Lounge Journal – Global News)
Pada pagi yang cerah, langit biru di sepanjang pesisir Asia tampak menenangkan. Namun, di bawah permukaannya, masalah serius mengancam: lumpur plastik. Meski panjang garis pantai dan kepadatan penduduknya menjadi sumber energi dan keindahan, sayangnya kombinasi tersebut juga menjadikan Asia sebagai penyebab terbesar sampah plastik yang mencemari lautan.
Masalah polusi plastik di laut bukan lagi sekadar isu lingkungan — ia telah menjadi tantangan global yang mengancam ekosistem, perikanan, pariwisata, hingga kesehatan manusia. Laporan terbaru Our World in Data (2024) yang mengompilasi riset dari berbagai sumber termasuk The Ocean Cleanup dan Jambeck et al. kembali menegaskan satu fakta yang sulit diabaikan: sebagian besar sampah plastik yang mencemari laut berasal dari negara-negara Asia.
Data tahun 2024 menunjukkan bahwa 10 negara penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia, delapan di antaranya berasal dari Asia. Peringkat pertama ditempati Filipina, yang bertanggung jawab atas lebih dari 356.000 ton plastik yang masuk ke laut setiap tahun. Disusul India dengan sekitar 126.000 ton dan Malaysia dengan 73.000 ton. Indonesia berada di posisi keempat, menyumbang sekitar 56.000 ton plastik per tahun.
Jika melihat dari sisi persentase global, Asia menyumbang lebih dari 80% total sampah plastik laut dunia. Mayoritas polusi ini berasal dari aliran sungai besar yang bermuara ke laut, membawa limbah plastik sekali pakai seperti kantong, kemasan makanan, dan botol minum. Sungai-sungai seperti Pasig di Filipina, Ganges di India dan Bangladesh, serta Citarum di Indonesia menjadi jalur utama masuknya limbah plastik ke lautan.
Laporan ini juga menyoroti bahwa faktor utama tingginya angka ini bukan semata-mata tingginya konsumsi plastik, tetapi kombinasi antara pertumbuhan populasi yang cepat, urbanisasi tanpa infrastruktur pengelolaan limbah yang memadai, dan kebiasaan penggunaan plastik sekali pakai. Di negara-negara seperti Filipina, Indonesia, dan Vietnam, sistem daur ulang belum mampu mengimbangi volume limbah yang dihasilkan.
Dampak lingkungan dari kondisi ini sangat serius. Polusi plastik mengancam keberlangsungan hidup lebih dari 1.000 spesies laut, mengganggu rantai makanan, dan bahkan masuk ke tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik. Sebuah studi dari University of Newcastle (2023) mengungkap bahwa rata-rata orang kini menelan sekitar 5 gram plastik setiap minggu — setara dengan satu kartu kredit — sebagian besar berasal dari makanan laut dan air minum yang telah terkontaminasi.
Dinamika yang Menguatkan Angka-angka Ini
Negara-negara tersebut memiliki karakteristik geografis: banyak sungai yang menampung sampah dari kota besar, curah hujan tinggi, dan pantai padat penduduk sehingga membuat plastik mudah terbawa ke laut. Terlebih, tingginya volume plastik sekali pakai dan lemahnya sistem pengelolaan limbah memperburuk kondisi.
Menurut OECD, wilayah Asia Pasifik Timur dan Tenggara (APT) menyumbang lebih dari sepertiga limbah plastik yang tidak dikelola secara layak secara global—dengan volume sampah yang bocor ke lingkungan diperkirakan mencapai 33 juta ton pada 2022, dan bisa melonjak hingga 56 juta ton pada 2050 jika tidak ada langkah tambahan.
Dampak Lingkungan yang Mengerikan
Sampah plastik tak hanya mencemari air, tapi juga merusak biota laut. Penelitian yang dipublikasikan Wired menunjukkan bahwa 89% terumbu karang yang terkena sampah plastik menunjukkan tanda penyakit, jauh lebih tinggi dibanding hanya 4% pada karang tanpa plastik.
Upaya dan Inovasi Penanggulangan
Republik Filipina, misalnya, ketahuan berada di peringkat tertinggi penyumbang plastik laut, namun pemerintah dan berbagai pihak mulai menerapkan strategi pengelolaan limbah yang lebih baik.
Dalam inovasi yang menarik, Jepang mengembangkan jenis plastik baru yang bisa larut dalam air laut dalam waktu kurang dari satu jam—tanpa meninggalkan residu berbahaya─potensi revolusioner untuk mengurangi polusi mikroplastik.
Sebagai kawasan dengan pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi cepat, Asia menghadapi paradoks berat: kemajuan infrastuktur dan meningkatnya konsumsi plastik harus diimbangi dengan modernisasi sistem pertanggungjawaban sampah. Perbaikan infrastruktur, regulasi, inovasi hijau, dan kerja sama regional adalah kunci untuk menahan laju krisis plastik laut ini.
Meski situasi ini mengkhawatirkan, ada sinyal positif. Beberapa negara Asia mulai menerapkan kebijakan larangan plastik sekali pakai, memperluas program daur ulang, dan membangun fasilitas pengolahan limbah modern. Indonesia, misalnya, melalui Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut, menargetkan penurunan sampah plastik laut hingga 70% pada 2025. Namun, keberhasilan target ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor — dari pemerintah, industri, hingga masyarakat.
Pada akhirnya, data 2024 ini menjadi pengingat bahwa Asia memegang peran kunci dalam mengatasi krisis plastik laut. Jika langkah-langkah berani dan terukur dapat diimplementasikan secara konsisten, bukan tidak mungkin kawasan ini bukan hanya menjadi pusat masalah, tetapi juga pusat solusi bagi masa depan laut dunia.

