(Business Lounge – Art) Di tengah suasana Venesia yang selalu dipenuhi warisan sejarah dan seni tak ternilai, satu mahakarya kini kembali merebut perhatian dunia Crucifixion karya Jacopo Tintoretto. Lukisan berskala besar yang sempat tergerus waktu dan kelembapan kanal-kanal laguna kini berhasil dikembalikan pada kemegahannya berkat proyek konservasi intensif yang dipimpin oleh organisasi nirlaba Save Venice. Pemulihan ini tidak hanya menghidupkan kembali warna-warna cemerlang dan komposisi dramatis khas Tintoretto, tetapi juga membuka kembali diskusi tentang kedalaman spiritual dan kemanusiaan yang ia tuangkan dalam karya ini.
Menurut laporan The Wall Street Journal dan Reuters, proyek restorasi Crucifixion—yang menghiasi dinding Scuola Grande di San Rocco—berlangsung selama lebih dari satu tahun. Dikerjakan oleh tim ahli konservasi lukisan dari Italia dan Amerika Serikat, proyek ini menghadapi tantangan besar untuk membersihkan kotoran, jelaga, dan pernis kuning yang telah menutupi permukaan lukisan selama ratusan tahun. Namun hasilnya mencengangkan. Warna biru langit yang dahulu kelam kini muncul kembali dengan nuansa terang yang menyayat. Tubuh Kristus yang semula tampak memudar kini kembali menonjol dalam cahaya dramatis, dikelilingi oleh ekspresi empati dan penderitaan dari para tokoh di sekitarnya.
Crucifixion sendiri merupakan bagian dari siklus besar lukisan dinding yang dibuat Tintoretto antara 1564 dan 1587 untuk Scuola Grande di San Rocco, salah satu lembaga amal dan religius paling berpengaruh di Venesia. Karya ini sering disebut sebagai “Sistine Chapel-nya Venesia” karena kemegahan dan luasnya siklus naratif yang disajikan. Namun dari semua lukisan di tempat itu, Crucifixion adalah yang paling monumental—baik dalam ukuran fisik maupun dalam kedalaman emosionalnya.
Tintoretto, yang dikenal karena penggunaan perspektif ekstrem, permainan cahaya yang radikal, dan gestur tubuh yang ekspresif, menempatkan Kristus tidak sebagai figur pusat dalam ketenangan, tetapi sebagai inti dari kekacauan manusia. Di sekelilingnya, ratusan figur dalam berbagai pose dan emosi menggambarkan intensitas drama spiritual dan politik dari peristiwa penyaliban. Dengan sapuan kuas cepat namun penuh kontrol, ia menciptakan sebuah panggung besar di mana penderitaan, pengkhianatan, dan belas kasih tumpang tindih.
Menurut ahli sejarah seni dari Università Ca’ Foscari Venezia, pemulihan ini memberi kita akses kembali pada intensi artistik asli Tintoretto. “Selama puluhan tahun, kami hanya melihat versi kabur dari mahakarya ini. Sekarang, kita bisa memahami betapa revolusionernya penggunaan warna dan komposisi yang ia kembangkan, jauh melampaui seniman sezamannya.”
Pemulihan ini juga memberi ruang bagi studi baru. Dalam wawancara dengan Financial Times, pemimpin konservasi dari Save Venice, Carl Brandon Strehlke, menyatakan bahwa hasil restorasi menunjukkan bahwa Tintoretto menggunakan teknik layering warna yang sangat maju untuk zamannya—termasuk penggunaan pigmen azurit dan cinnabar yang mahal. Ini menunjukkan bahwa proyek ini bukan hanya spiritual tetapi juga prestisius dari sisi komisi dan eksekusi.
Sebagai pelukis yang sering dibandingkan dengan Titian dan Veronese, Tintoretto memang menempati posisi unik dalam sejarah seni Renaisans Italia. Ia dijuluki “il Furioso” karena pendekatannya yang penuh energi dan terkadang subversif. Dalam Crucifixion, tidak ada penempatan simetris yang tenang atau keindahan klasik ala Raphael. Yang ada adalah penderitaan yang kompleks, dunia yang retak, dan Tuhan yang hadir dalam kekacauan—sebuah narasi yang lebih dekat dengan realitas manusia.
Selain nilai artistik dan spiritual, proyek ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi internasional dalam pelestarian warisan dunia. Save Venice, yang berbasis di New York, telah memimpin lebih dari 500 proyek konservasi sejak 1971, dan restorasi Crucifixion menjadi simbol dari dedikasi jangka panjang terhadap budaya Italia. Dalam dunia yang terus berubah dan sumber daya untuk pelestarian semakin menipis, proyek ini menjadi pengingat bahwa seni besar tidak hanya diciptakan, tetapi juga harus dijaga.
Saat lukisan ini kembali bersinar, pengunjung Venesia kini dapat menyaksikan kembali salah satu karya paling menggetarkan dalam sejarah seni Barat dalam bentuk yang nyaris menyerupai wujud aslinya. Mereka tidak hanya melihat lukisan, mereka menyaksikan kebangkitan kembali dialog antara seni dan iman, antara masa lalu dan masa kini, antara pelukis dan dunia.
Di masa ketika pertanyaan tentang makna, penderitaan, dan harapan semakin relevan, Crucifixion Tintoretto kembali berbicara. Bukan hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi sebagai cermin perasaan manusia yang tetap sama lintas abad. Dan berkat cahaya baru dari upaya pelestarian ini, suara Tintoretto kini bisa didengar lebih jernih dari sebelumnya.

