OpenAI Chatbot

OpenAI Tolak Keterlibatan dalam Token Saham Robinhood: Risiko Inovasi di Pasar Privat

(Business Lounge Journal – Global News)

Robinhood kembali mengguncang dunia keuangan dengan peluncuran token saham untuk lebih dari 200 aset, termasuk saham perusahaan swasta seperti SpaceX dan OpenAI. Namun, langkah agresif ini langsung mendapat tanggapan keras dari OpenAI. Startup di balik ChatGPT secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak terlibat dan tidak menyetujui tokenisasi saham mereka oleh Robinhood.

“Token ‘OpenAI’ ini bukanlah saham OpenAI. Kami tidak bermitra dengan Robinhood, tidak terlibat, dan tidak mendukung ini,” tulis OpenAI dalam pernyataan resmi di X. “Setiap transfer saham OpenAI membutuhkan persetujuan kami – dan kami tidak pernah menyetujuinya. Mohon berhati-hati.”

Pernyataan tersebut langsung memicu aksi pasar: harga saham Robinhood yang sebelumnya melonjak 10% karena pengumuman ini, akhirnya turun hampir 4% sehari setelah klarifikasi dari OpenAI muncul.

Tokenisasi Aset Swasta: Inovasi atau Manipulasi?

Robinhood mencoba membangun narasi “revolusi tokenisasi,” di mana investor ritel bisa memiliki eksposur ke aset yang selama ini hanya tersedia untuk institusi—seperti saham perusahaan swasta. Dengan memberi token gratis kepada pengguna Uni Eropa senilai €5 untuk OpenAI dan SpaceX (dari total dana promosi sebesar US$1 juta dan US$500 ribu masing-masing), Robinhood ingin mendorong adopsi lebih luas sebelum batas waktu 7 Juli 2025.

Namun pertanyaannya: apakah ini benar-benar kepemilikan?

Menurut penjelasan resmi, investor tidak membeli saham langsung, tetapi kontrak token yang mengikuti harga saham tersebut, dan dicatat di blockchain Arbitrum. Dalam kasus OpenAI, investor hanya memiliki eksposur tidak langsung lewat kepemilikan Robinhood atas SPV (Special Purpose Vehicle) yang memiliki saham OpenAI. Artinya, investor memegang token yang mewakili bagian dari kendaraan investasi, bukan saham asli itu sendiri.

Secara legal, ini menciptakan jarak antara hak investor dan nilai aktual saham. Hak suara tetap di tangan Robinhood, dan fluktuasi harga token dapat menyimpang dari nilai aset riil di dalam SPV.

“Meskipun secara teknis bukan ekuitas, token ini secara efektif memberi investor ritel eksposur terhadap aset privat,” jelas CEO Robinhood, Vlad Tenev.

Lapisan Baru: Blockchain dan Visi Jangka Panjang

Strategi ini merupakan bagian dari langkah Robinhood untuk membangun infrastruktur blockchain mereka sendiri (Layer 2) yang memungkinkan perdagangan 24/7 dan self-custody. Tenev menyebut ini sebagai awal dari “revolusi perdagangan global” yang menjembatani pasar saham konvensional dan dunia aset digital.

Melalui pendekatan ini, Robinhood menjanjikan biaya lebih rendah dibanding manajer aset tradisional, serta akses terhadap aset teknologi besar seperti S&P 500 dan perusahaan swasta dengan potensi return tinggi.

Namun dalam praktiknya, banyak pertanyaan muncul:

  • Apakah investor benar-benar memahami apa yang mereka beli?
  • Apakah tokenisasi aset privat membuka peluang, atau menciptakan lapisan spekulasi baru tanpa perlindungan hukum yang memadai?
  • Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi ketidaksesuaian nilai antara token dan aset aslinya?

Risiko Reputasi dan Etika Inovasi

Tanggapan keras dari OpenAI menyoroti satu pelajaran penting: inovasi keuangan digital tanpa komunikasi dan persetujuan dari pemilik aset dapat berdampak besar terhadap reputasi—baik bagi penyedia teknologi, maupun pasar secara keseluruhan.

Bagi perusahaan swasta seperti OpenAI dan SpaceX yang belum go public, kontrol atas kepemilikan dan struktur saham adalah hal yang sangat sensitif. Ketika pihak eksternal memonetisasi nama mereka tanpa persetujuan, batas antara inklusi keuangan dan pelanggaran integritas menjadi kabur.

Di sisi lain, bagi investor ritel, godaan memiliki “saham OpenAI” dengan harga terjangkau bisa sangat menggoda—tanpa sepenuhnya menyadari bahwa kepemilikan tersebut hanyalah representasi tidak langsung yang sangat bergantung pada transparansi SPV dan kestabilan ekosistem blockchain.

Antara Inklusi dan Ilusi

Robinhood sedang memainkan permainan besar: menciptakan infrastruktur baru untuk pasar saham yang lebih terbuka, lebih murah, dan lebih likuid. Tapi kasus OpenAI menunjukkan bahwa kecepatan inovasi harus diimbangi dengan kehati-hatian hukum, etika, dan komunikasi yang transparan.

Jika tidak, yang terjadi bukan revolusi pasar, melainkan kebingungan besar yang bisa merugikan investor dan merusak kepercayaan terhadap seluruh sektor aset digital.