(Business Lounge Journal – Global News)
Di tengah penurunan penjualan kendaraan listrik (EV) secara global, Tesla justru mencatatkan fenomena yang menarik: performa bisnis otomotifnya sedang melemah, namun harga sahamnya tetap didorong oleh ekspektasi masa depan — terutama terkait teknologi robotaxi dan kecerdasan buatan (AI). Dalam istilah sederhana: roda bisnis melambat, tapi mesin hype terus melaju.
Pada hari Rabu ini (waktu AS), Tesla dijadwalkan merilis laporan pengiriman kendaraan kuartal kedua. Namun, metrik yang dulunya sangat memengaruhi pergerakan saham Tesla kini semakin kehilangan daya pengaruhnya. Pasar tampaknya tidak lagi terlalu peduli dengan angka pengiriman aktual, melainkan lebih fokus pada narasi masa depan: dunia kendaraan otonom tanpa sopir.
Ketika Penjualan Melambat, Narasi Robotaxi Mencuri Perhatian
Data prediksi dari berbagai analis menunjukkan bahwa pengiriman kuartal kedua Tesla kemungkinan hanya berada di kisaran 355.000 hingga 377.000 unit, jauh di bawah ekspektasi awal yang mencapai 440.000. Bloomberg bahkan menetapkan konsensus pada angka 392.000 unit—penurunan 15–20% dibandingkan tahun lalu. Deutsche Bank memperkirakan hanya 355.000 unit, dengan alasan anjloknya permintaan di Eropa dan stagnasi di Tiongkok. Xiaomi bahkan telah mengumpulkan 200.000 pre-order dalam lima menit untuk mobil listrik barunya—menggarisbawahi ketatnya persaingan.
Sementara itu, JPMorgan memberikan estimasi serupa (360.000 unit), dan memperingatkan adanya “penurunan yang semakin cepat”. Laporan mereka menyatakan bahwa Tesla harus menunjukkan kinerja luar biasa pada paruh kedua 2025 untuk mencapai target tahunan, di tengah pengurangan insentif EV di berbagai negara.
Jika dilihat lebih dalam, kondisi bisnis Tesla memang sedang menantang:
- Registrasi kendaraan di Uni Eropa turun hampir 30% pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya.
- Di Tiongkok, meski sudah diberi diskon besar, penjualan masih stagnan.
- Pasar AS pun menunjukkan pelemahan hingga pembaruan Model Y di akhir kuartal sedikit menutupi celah.
Menurut Deutsche Bank, merek Tesla kini justru “paling rusak” di Eropa karena persaingan yang semakin intens, sementara JPMorgan menilai ini sebagai reset ekspektasi yang akan berlangsung selama bertahun-tahun.
Namun, yang mengejutkan, pasar saham seolah tak terpengaruh. Harga saham Tesla memang turun 15% sejak awal tahun, namun valuasinya tetap tinggi. Rasio P/E Tesla saat ini berada di angka mencengangkan: 176,34, sementara Nvidia — perusahaan paling bernilai di dunia — hanya di angka 50,85.
Robotaxi: Narasi Besar yang Menggeser Fokus Investor
Inilah kekuatan narasi: hanya dengan satu pengumuman uji coba robotaxi Model Y di Austin, Texas, saham Tesla naik 9,2% dalam sehari—setara dengan peningkatan kapitalisasi pasar sebesar $95,7 miliar, lebih besar dari PDB tahunan Kroasia.
Menurut firma riset William Blair, nilai bisnis robotaxi Tesla diperkirakan mencapai $299 per saham, hampir 10 kali lebih tinggi dari segmen otomotif inti ($28 per saham). Artinya, sebagian besar valuasi Tesla saat ini bertumpu pada keyakinan akan masa depan kendaraan otonom, bukan pada kinerja bisnis EV-nya hari ini.
Analis Wedbush juga menyebut bahwa biaya produksi robotaxi Tesla bisa hanya sepertiga dari Waymo (Google), memberikan Tesla posisi sebagai kekuatan disruptif dalam pasar autonomous mobility.
Dalam proyeksi jangka panjang, William Blair memprediksi Tesla bisa menguasai 35% pasar ride-hailing otonom global senilai $1,4 triliun pada tahun 2040, dengan pendapatan robotaxi hampir $250 miliar dan margin EBITDA yang mendekati 60%.
Namun, seperti banyak mimpi besar, ada tantangan nyata:
- Video uji coba robotaxi Tesla menunjukkan rem mendadak (phantom braking), manuver tak stabil, dan reaksi lambat — semua ini menarik perhatian otoritas keselamatan jalan AS.
- Kompetitor seperti Waymo telah lebih dulu menjalankan layanan otonom di kota-kota besar seperti San Francisco, Los Angeles, dan Phoenix.
- Peluncuran mobil murah Tesla, Model Q, yang awalnya dijadwalkan Juni, tampaknya tertunda — menghambat peluang pemulihan volume penjualan jangka pendek.
Laporan Kuartal: Jalan Bercabang untuk Tesla?
Ketika laporan pengiriman resmi dirilis, dunia tidak hanya akan melihat berapa banyak mobil yang dijual Tesla — tetapi seberapa kuat narasi masa depan itu masih bisa dipertahankan. Jika pengiriman jatuh di bawah 350.000 unit, pertanyaan akan muncul: Apakah Tesla hanya sekadar perusahaan mobil biasa dengan proyek sains mahal di sampingnya? Atau benar-benar pelopor model ekonomi baru?
Sebaliknya, jika pengiriman sedikit lebih tinggi — misalnya 375.000 unit — itu mungkin cukup untuk mempertahankan momentum positif investor. Namun Tesla tetap harus menjawab sejumlah pertanyaan penting:
- Apakah Model Q benar-benar akan diluncurkan tahun ini?
- Bisakah Tesla menstabilkan penjualannya di Tiongkok?
- Apakah robotaxi di Austin lebih dari sekadar demo marketing?
Menjual Mobil dan Menjual Mimpi
Sejak awal, daya tarik Tesla bukan hanya terletak pada produk fisiknya, tetapi juga pada kemampuan perusahaan menjual visi masa depan: mobil listrik, energi bersih, dan kini, kendaraan otonom. Namun saat ini, mobil-mobilnya sedang goyah dan mimpi-mimpinya semakin mahal.
Scott Devitt dari Wedbush menulis, “Kami yakin kendaraan otonom akan mengguncang industri ride-hailing dalam jangka panjang… pendekatan Tesla memungkinkan skalabilitas tanpa terhambat harga.” Tapi itu baru bisa terjadi jika robotaxi benar-benar terealisasi, disetujui regulator, dan diterima masyarakat.
Jika tidak, para investor bisa saja memegang banyak janji—tanpa cukup produk nyata.
Tesla sedang berada di persimpangan besar. Satu jalur mengarah pada transformasi radikal menuju dunia tanpa sopir; yang lain menunjukkan realitas pasar EV yang semakin kompetitif. Apa pun hasil kuartal ini, jelas bahwa narasi robotaxi dan AI kini menjadi tulang punggung valuasi Tesla — dan seperti halnya jalan otonom, perjalanan ini penuh kejutan di tiap tikungan.

