(Business Lounge Journal – Global News)
Perusahaan ekuitas swasta KKR dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah strategis untuk bergabung dengan keluarga pendiri Seven & i Holdings, induk dari jaringan ritel 7-Eleven, guna memprivatisasi entitas yang terdaftar di Jepang tersebut. Menurut sumber yang mengetahui situasi ini, KKR kemungkinan akan menyediakan sejumlah pembiayaan untuk mendukung pembelian tersebut. Namun, rencana ini masih berada dalam tahap awal, sehingga belum pasti apakah kesepakatan ini akan terealisasi.
Seven & i Holdings sebelumnya mengumumkan pada November tahun lalu bahwa mereka telah menerima proposal pembelian dari Junro Ito, seorang eksekutif senior perusahaan sekaligus putra dari pendiri raksasa ritel Jepang itu. Pengumuman tersebut datang tak lama setelah Alimentation Couche-Tard dari Kanada, pemilik jaringan Circle K, memperbarui tawaran akuisisi mereka.
Pada September, Seven & i Holdings menolak tawaran awal senilai $39 miliar dari Couche-Tard, dengan alasan bahwa proposal tersebut tidak mencerminkan nilai sebenarnya dari perusahaan. Kemudian, Couche-Tard meningkatkan tawarannya menjadi sekitar $47 miliar, meskipun hingga kini keputusan belum diambil.
Menurut Kepala Keuangan Seven & i, Yoshimichi Maruyama, perusahaan masih sedang mengevaluasi berbagai opsi, termasuk tawaran dari Couche-Tard, proposal Junro Ito, serta kemungkinan untuk melanjutkan strategi pertumbuhan mandiri tanpa akuisisi.
Sumber yang sama menambahkan bahwa KKR telah melakukan analisis terhadap potensi keuntungan dari kolaborasi dengan keluarga pendiri Seven & i. Strategi ini diyakini dapat memberikan peluang untuk meningkatkan nilai perusahaan secara signifikan melalui privatisasi. Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa KKR tengah mempertimbangkan pendekatan ini sebagai bagian dari upaya pembelian manajemen.
Jika langkah ini berhasil, privatisasi dapat memberikan fleksibilitas lebih besar bagi Seven & i untuk mengelola strategi bisnisnya di tengah persaingan ketat di sektor ritel global. Selain itu, privatisasi ini juga dapat mengurangi tekanan dari pemegang saham publik yang seringkali memprioritaskan hasil jangka pendek.
Namun, kesepakatan ini tidak terlepas dari tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kebutuhan akan pembiayaan yang sangat besar untuk memprivatisasi entitas ritel besar seperti Seven & i. Selain itu, ada potensi hambatan regulasi, terutama mengingat skala operasional perusahaan yang melibatkan pasar internasional.
Analis pasar menilai bahwa keterlibatan KKR, dengan pengalaman panjangnya dalam pembiayaan dan restrukturisasi perusahaan, dapat menjadi kunci keberhasilan langkah ini. Di sisi lain, langkah ini juga mencerminkan tren meningkatnya minat perusahaan ekuitas swasta dalam sektor ritel, terutama di pasar Asia.
Dengan beragam opsi yang ada, keputusan akhir Seven & i akan sangat menentukan arah masa depan jaringan 7-Eleven, yang telah menjadi salah satu ikon ritel global. Jika privatisasi ini berhasil, langkah tersebut berpotensi mengubah lanskap bisnis perusahaan secara signifikan.