Perusahaan Hadapi Masa Sulit, Michael Bloomberg Ambil Kendali

(Business Lounge-Business Today)-Sudah ramai dibicarakan kalau Michael Bloomberg akan kembali memegang tampuk kepemimpinan di perusahaan media miliknya yang bernamakan namanya sendiri, Bloomberg LP. Perusahaan ini memang tidak sedang dalam masa krisis. Posisinya sebagai penyedia informasi keuangan tidak tergoyahkan. Dalam beberapa tahun terakhir, penerimaan dan jumlah pelanggan naik tajam.

Namun demikian, kerajaan media ini memasuki pasar yang tingkat persaingannya lebih tinggi daripada yang pernah dialami pada tahun 2002. Selain itu, hubungan dengan sejumlah lembaga keuangan, basis konsumen utama perusahaan juga memasuki masa-masa sulit.

Jika kita lihat kronologisnya maka dalam setahun belakangan, ketegangan melanda layanan pesan singkat Bloomberg yang banyak dimanfaatkan pialang untuk berkomunikasi dengan satu sama lain (staf redaksi Bloomberg dapat mengakses data pelanggan tertentu). Atas perkara ini maka Bloomberg memutuskan untuk menutup akses redaksi atas infromasi tersebut.

Seperti dikutip dari The wall Street Journal, Michael Bloomberg berikan pernyataan bahwa dirinya tak berencana melakukan perubahan besar. “Sesuai harapan, pertanyaan yang kerap muncul pagi ini adalah ‘Hal apa saja yang akan berubah?’ Jawaban paling jujur dan sederhana adalah, sebagian besar takkan berubah. Strategi inti tetap sama. Kita akan terus bekerja keras untuk menumbuhkan pangsa pasar,” demikian pernyataan Michael Bloomberg kepada para staf.

Jeffrey Sonnenfeld dari Yale School of Management berpendapat bahwa pada umumnya para pendiri jarang kembali memimpin perusahaan yang berkembang saat ditinggalkan. Kalaupun itu terjadi, biasanya karena para pendiri “merindukan aroma pertempuran”.

Bloomberg diketahui memiliki 321.000 pelanggan yang menikmati informasi ekonomi dengan target pencapaian penerimaan sebesar $9 miliar tahun ini. Namun, sementara pertumbuhan tahunan Bloomberg rata-rata nyaris mencapai 6% per dalam lima tahun terakhir dan menguasai 32% pasar data keuangan, perusahaan itu menghadapi sejumlah tantangan.

Kemajuan teknologi memudahkan firma lebih kecil seperti FactSet dan Markit untuk bersaing dengan raksasa data keuangan seperti Bloomberg dan Thomson Reuters. Sejumlah bank di Amerika Serikat bahkan telah memangkas langganan terminal data. Kini Bloomberg membidik pasar berkembang untuk menjaga pertumbuhan dan memperluas layanan ke sektor umpan data dan bagian back office.

 

Febe/Journalist/VM/BL

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x