(Business Lounge – News & Insight) ASEAN Foreign Minister yang berlangsung sejak Jumat (8/8) telah berakhir pada Minggu (10/8). Ini merupakan pertemuan antara para menteri luar negeri Asia Tenggara dan juga para negara mitra utama, termasuk Amerika Serikat, Australia, Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Rusia dan Uni Eropa. Pada kehadirannya di dalam forum ini, AS berupaya untuk menengahi ketegangan yang terjadi antara Jepang dan Tiongkok serta Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara.
Di sela-sela forum tersebut, AS pun mengadakan pertemuan trilateral dengan Menteri Luar Negeri Jepang dan Tiongkok pada Minggu (10/8). Pada pertemuan yang diselenggarakan di Myanmar tersebut, Amerika Serikat mendesak untuk meredakan tindakan bermusuhan di perairan yang saat ini diperebutkan oleh Tiongkok dan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Tetapi US juga mengatakan bahwa pihaknya tidak akan mengkonfrontir Beijing atas strateginya di Laut Cina Selatan.
Menteri Luar Negeri AS John Kerry terus mendorong untuk dibuatnya sebuah kesepakatan yang mengakhiri semua tindakan yang berisiko menyulut ketegangan hubungan antar negara tersebut. Dalam pembicaraan antar Kerry serta para menteri luar negeri Asia Tenggara dan Tiongkok maka sangat banyak perkembangan yang didapat, demikian disampaikan Kerry kepada Japantoday sesaat sebelum ia meninggalkan Naypyidaw, Myanmar.
Upaya AS Meredakan Ketegangan
Seorang pejabat senior pemerintah AS mengatakan adanya keprihatinan di antara negara-negara di Asia Tenggara tentang “perilaku Tiongkok yang selalu meninggi”. Tetapi ia menegaskan bahwa tidak ada maksud AS untuk berkonfrontasi melawan Tiongkok.
Kerry pada Sabtu (9/8) secara resmi mengajukan proposal AS untuk mendinginkan ketegangan maritim berdasarkan permohonan negara-negara yang telah setuju untuk mundur dari tindakan yang bisa “mempersulit atau meningkatkan sengketa”.
Sebelumnya Tiongkok telah mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh laut, yang terletak di rute kunci pelayaran yang diyakini kaya akan mineral dan menyimpan minyak. Tetapi beberapa negara-negara ASEAN seperti Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam, serta Taiwan juga melakukan klaim yang sama.
Tanggapan Tiongkok
Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, mengatakan bahwa apa yang dilakukan Tiongkok selama ini di perairan Laut Cina Selatan bukanlah sebuah penyerangan. Tiongkok hanya berusaha menyatakan sikap.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kedutaan Tiongkok di Myanmar menyusul pembicaraan Sabtu antara Kerry dan Wang, Beijing menyambut “peran konstruktif” yang dimainkan AS dalam urusan regional, Tiongkok juga berharap AS dapat menghormati hak-hak dan kepentingan sah Tiongkok dalam wilayahnya, seperti yang dilansir oleh Japantoday.
Pada Minggu (10/8), Kerry juga mengambil kesempatan untuk meyakinkan negara-negara Jepang dan Korea Selatan atas komitmen AS terkait kondisi keamanan Negara lainnya, khususnya atas persenjataan nuklir Korea Utara. Kepada perwakilan Korea Utara, AS telah meminta Pyongyang untuk melepaskan dua warga Amerika yang saat ini sedang menghadapi pengadilan di Korea Utara. Di lain pihak, AS juga menghimbau warga negaranya untuk menghindari perjalanan ke negara komunis.
Atas Korea Utara, AS mengatakan bahwa negara miskin tidak bisa mengharapkan bantuan ekonomi internasional sedangkan pada saat yang sama mereka mengembangkan senjata nuklir dan melakukan tes rudal. Secara implisit AS mengatakan bahwa “Korea Utara tidak dapat memiliki senjata dan mentega sekaligus”.
Perlunya Jalan Keluar
Jika semua mengklaim memiliki kuasa atas Laut Cina Selatan dan sekitarnya, maka ketegangan akan terus berlanjut. Akan sangat sulit untuk dapat duduk bersama dengan kepala dingin sambil mengutarakan pendapat bahwa pulau ini milik saya dan wilayah itu bukan milik kamu. Kehadiran pihak ketiga yang dapat bersikap netral sangat diperlukan untuk menjadi penengah sehingga ketegangan pun tidak memuncak. Kita harapkan hasil dari pertemuan ini dapat meredakan ketegangan yang telah terjadi di Laut Cina Selatan.
Uthe/Journalist/VMN/BL
Editor: Jul Allens
image : wikipedia

