(The Manager’s Lounge – Strategic) – Business Acumen adalah istilah bisnis yang yang jarang didengar oleh kebanyakan bisnisman Indonesia, namun beberapa ahli manajemen sudah mempopulerkannya. Ram Charan seorang Doctor keturunan India, alumni Harvard Business School, adalah salah satu ahli yang menyampaikan istilah ini dalam bukunya ‘What The CEO Wants You To Know’.
Ram mendefinisikan business acumen sebagai kemampuan seseorang untuk mendapatkan atau menghasilkan uang dalam bisnis. Menurut Ram kemampuan ini dimiliki baik oleh tukang buah di pasar sampai konglomerat pemilik bank besar seperti BCA.
Ram yang pada masa kecilnya dibesarkan dala keluarga pedagang sepatu di India mengambil kesimpulan tersebut, setelah ia menjalani pekerjaannya sebagai advisor CEO kelas dunia seperti Jack Welch mantan CEO dari General Electric, Larry Bossidy mantan CEO Honeywell, Dick Brown – EDS, John Cleghorn – Royal Bank of Canada, Chad Holliday – Dupont, John Reed – Citicorp.
Ram membandingkan mereka semua dengan pengalamannya semasa kecil, dimana terdapat kesamaan kemampuan yang harus dimiliki pedagang sepatu ataupun CEO kelas dunia.
Kesamaan yang pertama keduanya sama-sama harus memikirkan cash, dari mana cash berasal, dan setiap hari dipikirkan adalah berapa cash yang dipegang, kalau kurang, baik pedagang sepatu atau CEO keduanya harus mencarinya, kalau tidak bisnis bisa berhenti. Kesamaan kedua, adalah berbicara profit margin, keduanya berbicara profit margin, kesamaan ketiga berbicara velocity atau perputaran dari uang, kesamaan keempat adalah growth yang harus terjadi dalam bisnis apapun, yang terakhir adalah customer, yang harus dimiliki dan diperhatikan oleh jenis bisnis apapun.
Ketika gagasan business acumen ini disampaikan maka menjalankan bisnis menjadi sangat sederhana dan dengan tujuan jelas sekali hanya untuk menciptakan uang. Kemampuan inilah yang harus dimilki oleh seluruh karyawan dari sebuah perusahaan.
Semua strategi, action dan juga decision akan menuju kepada arah yang sama, baik karyawan yang ada di support seperti Sumber Daya Manusia (SDM), Information Technology (IT), Operation, Production, dan banyak lagi, akan searah dengan karyawan yang ada di
bisnis, pada akhirnya akan mengarah pada lima elemen bisnis yaitu: cash, profit margin, velocity, growth, customer.
Bagaimana melatih karyawan memiliki kemampuan business acumen ini? Analis vibiz research menyampaikan ada 5 tahap yang diperlukan yang disingkat STORE, pertama miliki kemampuan S- Scanning The Business : seorang karyawan bank harus tahu mengapa business bank itu ada? Bagaimana operationsnya? Kedua T-Taking Financial Info, ini menyangkut kemampuan mengerti bahasa keuangan dan juga laporan keuangan. Ketiga kemampuan untuk O-Observe the root cause , apa yang menyebabkan angka-angka keuangan tersebut. Keempat adalah kemampuan untuk melakukan inovasi atau R-Rebuild Innovation setelah melihat angka tersebut, dan yang terakhir adalah kemampuan untuk membuat diri sendiri dan team melakukan inovasi tersebut atau disebut E-Enthusiasm The Team.
Jika STORE dilakukan secara terus menerus dalam sebuah perusahaan, maka segala bentuk silo atau keegoisan divisi akan hilang, setiap karyawan akan berpikir seperti pemilik perusahaan dan terakhir karyawan bukan saja menjadi Smart Person, tapi menjadi Smart Business Person.
(Fadjar Ari D/IR/TML)
pic: medstreamsolutions.com

