(Business Lounge – Entrepreneurial News) Siapa yang tidak tahu layanan transportasi Blue Bird? Saya rasa transportasi yang terkenal dengan mobil sedan berwarna biru ini sering kali menjadi kendaraan alternatif pertama saat para eksekutif tidak membawa kendaraan pribadinya. Tidak hanya para eksekutif, tetapi juga mereka yang hendak bepergian dengan nyaman namun tidak membawa kendaraan pribadinya.
Saya berjalan ke arah jendela gedung tempat businesslounge.co, Vibiz Media Network berkantor di kawasan S Parman. Jam menunjukkan pukul 09.10 pagi, nampak jalanan ke arah Cawang ramai namun agak tersendat, tetapi tidak demikian arah sebaliknya yang ramai namun lancar. Saya mencoba menghitung berapa jumlah taksi Blue Bird yang nampak dari ketinggian sembilan lantai tempat saya berada. Setidaknya ada 20 taksi Blue Bird yang berada pada jangkauan mata saya. Patut diakui bahwa taksi ini memang mudah untuk ditemui terutama di kawasan kota Jakarta.
Kali ini businesslounge.co mendapatkan kesempatan berkunjung ke kantor pusat taksi Blue Bird dan berbincang langsung dengan Purnomo Prawiro, pemilik usaha tranportasi Blu Bird yang menempati peringkat ke-25 orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
Bemo Bekas Cikal Bakal Bisnis Transportasi
“Saya sebenarnya tidak terlahir di keluarga pengusaha,” demikian Purnomo Prawiro memulai penuturannya. “Saya lahir di keluarga akademisi,” boss Blue Bird ini pun melanjutkan. Memang benar, keluarga Purnomo bukanlah keluarga pengusaha. Sang ibu adalah seorang sarjana hukum begitu juga dengan sang ayah yang adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sang ayah kemudian menjadi dosen yang juga salah satu pendiri Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Purnomo Prawiro sendiri pun lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Purnomo bertutur bahwa keluarganya sama sekali tidak memiliki jiwa berdagang sebenarnya.
Pada tahun 60-an, ladang penghasilan seorang sarjana hukum tidaklah gampang, berbeda dengan apa yang kita lihat pada masa sekarang ini. Sehingga keuangan keluarga Purnomo sangatlah pas-pasan. Berbagai upaya dilakukan kedua orang tuanya. Sang ibu pun mencari uang mulai dari menjual batik, menjual telur, dan dimulailah kehidupan sang ibu pada dunia bisnis walaupun sangat sederhana.
Purnomo tidak mau ketinggalan. Tetapi ia menyadari bahwa ia tidak memiliki modal, hanya otot sehingga ia mulai bekerja dengan menjadi tukang karcis, kemudian jual beli mobil, hingga kemudian mencoba menjadi karyawan. Semua diupayakan demi mendapatkan penghasilan untuk kehidupannya sehari-hari.
“Pada tahun 65, sebelum ayah saya meninggal, kondisi sosial ekonomi kami dapat dikatakan berada pada garis bawah. Pagi hari saya hanya bisa sarapan 2 buah kentang rebus dan ikan asin,” demikian Purnomo menggambarkan kondisi perekonomian keluarganya sebelum ia memulai bisnis transportasinya. Namun hal ini menjadi cambuk baginya untuk melangkah maju.
Ketika keluarganya mendapatkan rejeki, maka mereka pun membeli sebuah bemo bekas. Sang abang bertindak sebagai supir sedangkan Purnomo sebagai kernetnya. Inilah cikal bakal bisnis transportasi Blue Bird.
The Bird of Happiness
Pada tahun 1965, sang ayah pun meninggal dunia. Oleh karena jasanya bagi dunia kepolisian maka keluarga mendapatkan dua buah mobil, satu dari kepolisian dan satu lagi dari tentara.
Ketika Purnomo berusia 17 tahun, segera ia membuat SIM dan bersama dengan sang abang, dr. Chandra Suharto, mereka mengoperasikan jasa transportasi kecil-kecilan dengan nama Taksi Chandra. Purnomo menjadi salah satu pengemudi sedangkan sang abang menjadi operator telepon. Dari keuntungan yang dikumpulkan akhirnya mereka berhasil membeli 25 unit taxi untuk pertama kali yang kemudian bertambah terus hingga mencapai 60 unit.
Pada tahun 1970, setelah diumumkanlah bahwa Jakarta akan memberlakukan izin resmi bagi operasional taksi, Purnomo pun kemudian mengantongi ijin operasional. Dengan meminjam dana dari bank, Purnomo pun membeli 100 unit taksi baru di bawah PT Sewindu Taksi yang kemudian berganti nama menjadi “Blue Bird”. Bersumber dari kisah ‘’The Bird of Happiness’’ yang sering dibaca oleh sang ibu pada saat masih kecil, maka dibuatlh loho sederhana untuk Blue Bird. Sebuah siluet burung berwarna biru tua yang sedang melesat, hasil karya pematung Hartono.
Bagaimana dengan nasib Taksi Chandra? Taksi pelopor itu tetap dijalankan sebagai taksi per-jam.
Management Serabutan
“Semua dikerjakan dengan serabutan. Semua dikerjakan bersama, tidak terkotak-kotak,” demikian Purnomo menggambarkan management awal Blue Bird. Namun oleh karena kegigihan para pendiri, tim management yang solid, serta dukungan semua pelanggan, perusahaan ini pun terus berkembang.
Banyak yang bertanya kepada Purnomo, apa yang menjadi kiatnya? “Kiat yang sederhana,” demikian ia selalu menjawab, yaitu adanya sesuatu yang ia sebut sebagai ‘jiwa’. Ia memang tidak memiliki jiwa untuk menjadi pengajar, pejabat, atau tentara demikian ia menggambarkannya. Tetapi semuanya bagus. Namun oleh karena ia memilih untuk menjadi pengusaha maka ia pun harus “menjiwai”-nya.
Ada dua hal yang diresepkannya bagi businesslounge.co untuk dapat berhasil dalam melakukan segala sesuatu:
- Kerjakan dengan all out (habis-habisan), pasti berhasil.
- Jangan cengeng ketika menemui hambatan. Jangan mudah down, tetapi jadikan hambatan itu sebagai cambuk untuk dapat bangkit kembali.
uthe/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana


