Jangan Panik
Dorodjatun berpendapat bahwa dunia ke depan ini akan semakin banyak bergejolak oleh karena makin banyaknya unsur spekulasi di pasar. Lalu bagaimana jika hal ini pada suatu hari menimbulkan krisis? Satu saja yang diperlukan untuk menghadapi krisis apabila itu terjadi. Tidak Panik.
Bagi negara sebesar Indonesia, kita harus selalu siap untuk menghadapi krisis apabila itu terjadi. Oleh karena itu sangat penting untuk tidak salah di dalam membuat kebijakan. Sekali kita membuat kebijakan yang salah, yang tidak realistis, maka seluruh rakyat Indonesia akan menjadi korbannya, terutama rakyat menengah ke bawah.
Lalu bagaimana supaya tidak panik? Teruslah belajar.
Kepanikan hanya membuat perekonomian semakin berantakan seperti yang terjadi pada krisis di Uni Eropa dan Subprime Mortgage di AS. Bahkan tokoh-tokoh ekonomi ternama sekalipun seperti Camdessus, Stanley Fischer, dan lainnya jika menghadapi krisis dengan panik akan mengakibatkan salah langkah.
Peluang di Era Globalisasi
Saat ini dana sudah mulai mengalir dari negara-negara maju ke emerging market, terutama disebabkan kecerdikan Rusia dan Tiongkok untuk meninggalkan sistem komunisme. Tiongkok dengan peranan partai komunisnya tetap dapat maju. Sehingga dapat disimpulkan bahwa saat ini banyak model untuk bangkit itu.
Pesan yang dapat diambil dari terjadinya krisis di Eropa, agak menyerupai runtuhnya the Roman Empire, suatu petunjuk bahwa regionalisme itu tidak bisa begitu saja muncul menjadi sesuatu kekuatan. Sebab pada masa sekarang ini kekuatan dari satu negara saja dapat terbukti menjadi kekuatan yang lebih kuat seperti yang ditunjukan oleh Rusia, China, dan Jepang yang tidak maju dalam suatu regionalisme. Sehingga tidak ada keharusan bagi kita untuk menerapkan regionalisme.
Sesuatu kekuatiran yang juga dapat timbul adalah ketidakpercayaan pada globalisasi. Banyak orang mulai mempertanyakan peranan lembaga-lembaga besar yang telah dibentuk sejak PD II berakhir, seperti WTO, IMF bahkan DK PBB. Sehingga siapa lagi yang dapat dipercaya pada yang multilateral?
Kerusakan yang terjadi pada Uni Eropa itu bukan sesuatu yang bisa diperbaiki dalam sekejap bahkan mungkin hingga 5 tahun. Sedangkan perekonomian Indonesia sendiri baru dapat dinilai layak untuk tujuan investasi pada tahun 2011. Walaupun sampai sekarang golongan Indonesia belum sampai ke BBB+. Eropa tidak bisa berharap kepada Portugal, Spanyol atau Jerman, Inggris bisa bangkit begitu saja. Karena pada kenyataannya saat ini banyak modelnya untuk mengurus perekonomian suatu Negara.
Tidak perlu untuk terlalu percaya kepada multilateralisme, regionalism atau kerjasama bilateral. Sekarang ini yang terpenting adalah apa yang menjadi kepentingan nasional dari bangsa ini. Lebih penting lagi adalah vital interest. Vital interest inilah yang akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah bangsa.
Ketahanan Terhadap Informasi Terbuka
Zaman sekarang apa yang menjadi perekat sosial dan politik itu tidak sekental zaman dulu. Itulah sebabnya kita mudah sekali digoncangkan oleh berita yang saat ini sangat mudah untuk diakses dimanapun kita berada. Hal ini sering kali mempengaruhi legitimasi kekuatan sebuah negara yang selalu diperhadapkan dengan pendapat umum. Kita bagaikan hidup di sebuah rumah kaca, apa saja yang kita lakukan dapat diketahui oleh banyak orang.
Volatilitas pasar sangat diperngaruhi oleh informasi, seperti kita ketahui pasar sangat reaktif terhadap pidato pimpinan The Fed Janet Yellen, atau pengumuman Presiden ECB Mario Draghi (lihat : Kebijakan Bank Sentral AS dan Eropa Sudah Jelas, Volatilitas Pasar Akan Turun).
Di sisi lain keterbukaan informasi ini bukan lagi merupakan sebuah volatilitas jangka pendek, namun mampu menggoncang struktur secara global, baik goncangan ekonomi, politik maupun tatanan sosial, bahkan bisa dikatakan mengubah wajah dunia. Informasi yang sangat terbuka ini tidak lagi bisa dibendung oleh otoritas negara (lihat : Bernhard Sumbayak : 5 Goncangan Pengubah Trend Dunia). Dimana nilai kerusakan akibat goncangan di sisi ekonomi saja begitu besar nilainya, yang tidak bisa dibenahi hanya jangka 1-3 tahun, hingga kita kenal istilah Too Big Too Fail. (lihat : Bernhard Sumbayak : Bailout, Efektifitas dan Resikonya).
Menghadapi hal ini Indonesia perlu untuk memiliki imunitas supaya tidak terjadi goncangan yang mengakibatkan keruntuhan. Oleh karena itu Dorodjatun Kuntojoro-Jakti berpendapat bahwa untuk itu diperlukan legitimasi yang menjadikan perekonomian kita tidak hanya sukses tetapi juga adil.
(Article ini adalah bagian 2 dari 3 seri pandangan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti)
Back to Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti – Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia





