Shein

Shein Tertekan Saat Model Murah Mulai Mahal

(Business Lounge – Global News) Shein sedang menghadapi ujian terbesar sejak membangun kerajaan fast fashion berbasis internet. Perusahaan yang selama bertahun-tahun tumbuh dengan menawarkan pakaian sangat murah, koleksi dalam jumlah luar biasa besar dan pengiriman langsung kepada konsumen kini mulai merasakan bahwa model tersebut semakin mahal untuk dipertahankan. Laporan keuangan kuartal kedua 2026 menjadi tanda yang jelas. Pendapatan hanya meningkat 0,9% menjadi US$11,08 miliar, sementara laba bersih yang disesuaikan anjlok 67% menjadi US$228 juta. Margin laba menyusut menjadi 2,1%, dari 6,2% setahun sebelumnya. Setelah laporan tersebut dipublikasikan, saham Shein di Bursa Hong Kong sempat turun sekitar 14% ke rekor terendah. The Wall Street Journal melaporkan bahwa hasil perdana Shein sebagai perusahaan publik tersebut berada di bawah ekspektasi, dengan tekanan berasal dari tarif, biaya logistik dan ketidakpastian geopolitik.

Yang membuat situasi ini menarik adalah kenyataan bahwa Shein masih menghasilkan penjualan dalam skala luar biasa besar. Masalahnya bukan hilangnya permintaan secara tiba-tiba, melainkan semakin sulitnya mengubah volume transaksi menjadi keuntungan. Pada kuartal kedua, penjualan di Amerika Serikat turun 6% menjadi sekitar US$2,5 miliar, sementara pendapatan di Eropa merosot 13,9% menjadi US$3,77 miliar. Pertumbuhan dari Amerika Latin membantu membuat total penjualan tetap sedikit meningkat, tetapi dua pasar utama tersebut justru bergerak berlawanan. Reuters mencatat bahwa kenaikan harga dan pengurangan iklan digital menjelang penerapan biaya baru di Uni Eropa ikut menekan permintaan. Bagi Shein, persoalan ini sangat penting karena strategi historisnya dibangun di atas kemampuan menjual produk dengan harga sangat rendah dan membuat konsumen melakukan pembelian berulang dalam jumlah kecil.

Biaya logistik menjadi salah satu tekanan terbesar. Model bisnis Shein selama ini sangat bergantung pada pengiriman udara untuk membawa barang dari rantai pasok di Asia langsung kepada konsumen di berbagai negara. Ketika harga bahan bakar jet dan ongkos angkutan meningkat, struktur biaya tersebut ikut terpengaruh. Konflik di Timur Tengah menambah tekanan terhadap biaya transportasi pada periode laporan. Reuters mencatat biaya fulfillment Shein melonjak 18,1%, bahkan sebelum biaya baru Uni Eropa mulai berlaku. Kenaikan ini penting karena bisnis pakaian murah memiliki ruang margin yang jauh lebih sempit dibandingkan merek dengan harga jual tinggi. Jika sebuah pakaian dijual dengan harga sangat rendah, kenaikan beberapa dolar dalam biaya pengiriman dapat mengambil porsi yang jauh lebih besar dari keuntungan dibandingkan pada produk premium.

Persoalan berikutnya datang dari perubahan aturan perdagangan. Selama bertahun-tahun, Shein dan platform e-commerce lintas negara lainnya memperoleh keuntungan dari aturan yang memungkinkan barang bernilai rendah masuk ke sejumlah pasar dengan beban bea masuk yang relatif kecil. Namun Amerika Serikat dan Uni Eropa mulai memperketat sistem tersebut. Di Eropa, sejak 1 Juli 2026 diberlakukan biaya €3 untuk kategori barang tertentu dalam paket bernilai rendah, sementara Uni Eropa juga merencanakan biaya penanganan tambahan €2 untuk paket semacam itu mulai November. Dampaknya langsung terasa terhadap model harga Shein karena konsumen yang sebelumnya dapat membeli pakaian dengan harga sangat rendah kini menghadapi struktur biaya yang lebih tinggi. Financial Times menggambarkan perubahan regulasi tersebut sebagai tekanan struktural terhadap model bisnis Shein yang selama ini bergantung pada pengiriman barang murah langsung kepada konsumen.

Respons Shein mulai menunjukkan perubahan arah yang cukup mendasar. Perusahaan menaikkan harga di sejumlah pasar dan kini ingin memperbesar porsi produk dengan harga lebih tinggi. Chairman dan CEO Yangtian Xu mengatakan perusahaan berencana mengembangkan koleksi merek yang lebih beragam dan bergerak menuju titik harga yang lebih tinggi. Secara teori, strategi tersebut dapat meningkatkan nilai transaksi rata-rata dan memberikan ruang margin yang lebih besar. Namun perubahan ini juga membawa pertanyaan mengenai identitas utama Shein. Konsumen datang ke platform tersebut antara lain karena harga yang sangat murah, pilihan yang sangat banyak dan kemampuan menemukan tren dengan cepat. Jika harga semakin mendekati pengecer tradisional, konsumen dapat mulai membandingkan Shein bukan lagi hanya dengan platform murah lain, tetapi dengan berbagai merek yang menawarkan kualitas, pengalaman toko dan reputasi yang berbeda.

Shein juga mulai memperkuat infrastruktur lokal untuk mengurangi ketergantungan pada pengiriman langsung dari Asia. Perusahaan telah berinvestasi dalam kapasitas gudang di Polandia, termasuk fasilitas besar di Wroclaw, sehingga lebih banyak produk dapat ditempatkan lebih dekat dengan konsumen Eropa. Langkah ini berpotensi memperpendek waktu pengiriman dan mengurangi sebagian tekanan biaya lintas batas, tetapi membutuhkan modal dan persediaan yang lebih besar. Ini merupakan perubahan penting dari model lama Shein yang terkenal dengan pendekatan sangat fleksibel dan berbasis permintaan, di mana perusahaan mengandalkan data konsumen untuk menguji produk dalam jumlah kecil sebelum meningkatkan produksinya. Kini, semakin banyak inventori yang ditempatkan di pasar tujuan berarti perusahaan harus lebih berhati-hati dalam mengelola modal kerja dan risiko barang yang tidak terjual.

Tekanan tersebut muncul tepat setelah Shein memasuki pasar modal. Perusahaan resmi mencatatkan sahamnya di Hong Kong pada 1 September 2026 setelah melakukan penawaran umum yang memberi valuasi sekitar US$26 miliar. Nilai tersebut sudah jauh di bawah puncak valuasi privat Shein yang pernah mendekati US$100 miliar pada 2022. Setelah laporan keuangan pertamanya sebagai perusahaan publik, saham kembali mengalami tekanan. Reuters melaporkan bahwa sejak debutnya hingga penutupan 28 September, saham Shein telah turun sekitar 27,3% dari harga penawaran HK$48,56. Penurunan tersebut memperlihatkan bahwa pasar kini memiliki akses lebih besar terhadap angka keuangan perusahaan dan dapat menilai secara langsung bagaimana tekanan biaya memengaruhi profitabilitasnya.

Namun Shein masih memiliki aset bisnis yang besar: skala, data konsumen, kemampuan menemukan tren dan jaringan pemasok yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Tantangannya adalah mengubah keunggulan tersebut menjadi model yang tetap menguntungkan ketika lingkungan perdagangan global berubah. Perusahaan juga menghadapi persaingan dari platform berharga rendah seperti Temu dan AliExpress, sementara pengecer tradisional mulai memperkuat kanal digital mereka. Financial Times mencatat bahwa tekanan terhadap Shein sekaligus membuka ruang bagi sejumlah pemain ritel lain untuk mendapatkan kembali sebagian permintaan ketika konsumen menghadapi harga yang lebih tinggi dari platform ultra-murah.

Kisah Shein menunjukkan bahwa era fast fashion digital sedang memasuki fase berbeda. Selama bertahun-tahun, konsumen dapat menikmati pakaian yang murah karena kombinasi produksi fleksibel, skala besar, pemasaran digital dan perdagangan lintas batas. Kini biaya yang sebelumnya tersembunyi semakin terlihat: tarif, ongkos pengiriman, bahan bakar, gudang, kepatuhan regulasi dan kebutuhan membangun infrastruktur lokal. Shein sedang mencoba menyesuaikan diri dengan menaikkan harga, memperluas merek dan mendekatkan persediaan ke konsumen. Tetapi perubahan itu sekaligus menguji proposisi dasar perusahaan: apakah Shein masih dapat tumbuh ketika keunggulan utamanya—harga yang sangat rendah—tidak lagi mudah dipertahankan. Hasil kuartal kedua memberikan gambaran bahwa pertumbuhan penjualan saja tidak cukup; bagi model bisnis seperti Shein, pertanyaan yang semakin penting adalah berapa banyak keuntungan yang tersisa setelah dunia mulai mengenakan biaya atas setiap bagian dari rantai perjalanannya.

Sumber internasional: The Wall Street Journal, Reuters, dan Financial Times.