(Business Lounge Journal – Global News) Ketergantungan Asia terhadap pasokan liquefied natural gas (LNG) dari Timur Tengah kembali menjadi perhatian setelah gangguan geopolitik mengganggu jalur energi utama kawasan. Situasi tersebut mendorong perusahaan energi seperti Petronas (Petroliam Nasional Bhd) dan Woodside Energy untuk memperkuat sumber pasokan alternatif untuk memenuhi kebutuhan gas Asia.
Petronas melihat peluang untuk meningkatkan kapasitas produksinya sekaligus memperluas jaringan pasokan di luar kawasan Timur Tengah. Perusahaan energi Malaysia tersebut menargetkan produksi yang lebih tinggi hingga 2035, dengan kenaikan sekitar 38% dibandingkan dengan tingkat produksinya saat ini.
Langkah ini menjadi semakin strategis ketika konsumen LNG Asia mulai mencari sumber pasokan yang lebih beragam. Jepang, Korea Selatan, China, India, dan negara-negara Asia Tenggara selama ini menjadi pasar utama LNG global, tetapi sebagian pasokannya bergantung pada rute perdagangan yang melewati kawasan dengan risiko geopolitik tinggi.
Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa kerentanan tersebut cukup besar. Sebelum krisis terbaru, sekitar sepertiga impor gas Asia Tenggara berasal dari Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur energi kemudian memperlihatkan pentingnya diversifikasi sumber pasokan dan rute pengiriman.
Petronas kini memperkuat posisinya sebagai salah satu pemasok LNG utama di Asia dengan mengandalkan kombinasi produksi domestik dan sumber internasional. Strateginya mencakup pasokan dari Malaysia dan Kanada, serta kontrak atau offtake dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Australia, Qatar, dan Mesir.
Perusahaan juga memperkuat hubungan dengan konsumen Jepang. Pada September 2026, Petronas LNG menandatangani Master Sales and Purchase Agreement dengan Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC). Kerangka kerja tersebut dirancang untuk memberikan fleksibilitas pasokan sekaligus membantu Jepang menjaga ketahanan energi.
Di sisi lain, Woodside menawarkan pendekatan yang lebih berbasis portofolio global. Perusahaan Australia tersebut telah membangun kontrak jangka panjang dengan sejumlah pembeli Asia, termasuk Petronas.
Woodside dan Petronas pada September 2025 memfinalisasi kontrak pasokan LNG sebesar 1 juta ton per tahun ke Malaysia selama 15 tahun mulai 2028. Sumber LNG dapat berasal dari portofolio global Woodside, termasuk proyek Louisiana LNG di Amerika Serikat.
Bagi Woodside, diversifikasi geografis menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan LNG. Proyek Scarborough di Australia dan Louisiana LNG di AS akan menambah kapasitas pasokan perusahaan, sementara kontrak dengan konsumen Asia memberikan kepastian permintaan jangka panjang.
Perubahan strategi tersebut menunjukkan bahwa keamanan energi Asia kini tidak hanya bergantung pada seberapa besar volume LNG yang tersedia, tetapi juga pada dari mana gas tersebut berasal dan seberapa fleksibel perusahaan dapat mengalirkannya.
Bagi negara-negara Asia, meningkatnya pilihan pemasok dapat mengurangi risiko ketika terjadi gangguan pada satu kawasan produksi atau jalur pelayaran. Namun, tantangannya tetap pada harga. Gangguan pasokan Timur Tengah telah mendorong harga LNG Asia naik tajam, sementara sebagian konsumen mulai mempertimbangkan energi terbarukan, nuklir, batu bara, maupun produksi gas domestik sebagai alternatif.
Dengan demikian, ekspansi Petronas dan strategi portofolio Woodside bukan sekadar upaya meningkatkan penjualan LNG. Keduanya mencerminkan perubahan peta perdagangan energi Asia, di mana diversifikasi pasokan semakin menjadi bagian penting dari strategi ketahanan energi hingga 2035.

