(Business Lounge Journal – News)
Jerman kembali menegaskan komitmennya mendukung transisi energi Indonesia melalui kunjungan Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, Reem Alabali Radovan, pada 18–20 Agustus 2026.
Kunjungan tersebut berlangsung setelah Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengunjungi Indonesia pada 15 Juni 2026 dan menjadi bagian dari penguatan kerja sama kedua negara, khususnya dalam pembangunan berkelanjutan dan energi bersih. (Bundespräsident)
Radovan bertanggung jawab atas kerja sama pembangunan Jerman dengan Indonesia serta peran Jerman sebagai salah satu pemimpin Just Energy Transition Partnership (JETP). Dalam kunjungannya, ia akan didampingi oleh delegasi bisnis yang terdiri atas perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor energi berkelanjutan. Radovan mengatakan Indonesia merupakan mitra utama bagi Jerman dan termasuk salah satu dari sembilan negara fokus baru dalam kebijakan pembangunan Jerman yang diarahkan untuk mempererat keterlibatan dengan dunia usaha.
Menurutnya, penguatan kerja sama ekonomi akan memberikan keuntungan bagi kedua negara. Indonesia dapat mempercepat pembangunan berkelanjutan, sementara Jerman dapat memperkuat ekonominya sekaligus membuka peluang yang lebih besar bagi perusahaan Jerman di pasar Indonesia.
Melalui kerja sama pembangunan, kami mendukung Indonesia dalam transisi energinya. Kami berinvestasi dalam energi terbarukan dan jaringan listrik modern. Hal ini berkontribusi terhadap perlindungan iklim, menciptakan lapangan kerja baru di Indonesia, dan membuka peluang baru bagi perusahaan Jerman,” kata Radovan.
Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026
Selama berada di Indonesia, Radovan dijadwalkan membuka Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026 serta meluncurkan sejumlah inisiatif kerja sama energi Jerman-Indonesia. ISEW 2026 menjadi salah satu forum utama kerja sama kedua negara di sektor energi dengan mempertemukan pembuat kebijakan, mitra pembangunan, sektor swasta, akademisi, serta masyarakat sipil.
Radovan akan membuka konferensi tersebut bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy dan perwakilan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste mengatakan kunjungan tersebut menunjukkan bahwa komitmen Jerman terhadap transisi energi Indonesia tidak hanya berada pada tingkat politik, tetapi juga didukung kemampuan teknologi.
Jerman memiliki banyak hal yang dapat ditawarkan kepada Indonesia. Kunjungan Menteri Radovan menyoroti kontribusi kami di bidang energi dan keberlanjutan. Jerman tidak hanya berkomitmen secara politik terhadap transisi energi Indonesia, tetapi juga memiliki solusi teknis yang siap digunakan,” kata Beste.
Jerman Tawarkan Solusi Energi Surya hingga Hidrogen Hijau
Salah satu proyek yang akan diluncurkan adalah fasilitas pendingin bertenaga surya di IPB University. Proyek percontohan tersebut dirancang untuk menunjukkan bahwa energi matahari dapat digunakan untuk menghasilkan suhu pembekuan. Teknologi tersebut berpotensi digunakan di pulau-pulau terpencil untuk membangun rantai dingin bagi makanan yang mudah rusak tanpa bergantung sepenuhnya pada jaringan listrik konvensional.
Radovan juga akan menyaksikan pemasangan sistem prakiraan cuaca pada proyek Cirata Floating Solar PV. Sistem yang didukung kerja sama pembangunan Jerman dan menggunakan teknologi Jerman tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan prakiraan sekaligus membantu integrasi energi terbarukan secara lebih efisien ke dalam jaringan listrik Indonesia.
Selain itu, akan dimulai Green Hydrogen Academy yang didukung perusahaan Jerman Enapter dan lembaga pembiayaan pembangunan Jerman DEG. Program tersebut akan menyediakan pendidikan dan pelatihan vokasi teknis mengenai penggunaan electrolyser untuk memproduksi hidrogen hijau, sekaligus mendukung pengembangan tenaga kerja yang diperlukan bagi industri energi baru di Indonesia.
Kerja sama Jerman dan Indonesia juga berjalan melalui JETP yang diluncurkan pada 2022 untuk memobilisasi pembiayaan guna mempercepat transisi energi bersih Indonesia dan memperluas penggunaan energi yang terjangkau serta memberikan manfaat bagi perekonomian.
International Partners Group dalam JETP terdiri atas Jerman, Kanada, Denmark, Prancis, Italia, Jepang, Norwegia, Inggris, dan Uni Eropa. Jerman mengambil peran sebagai co-lead bersama Jepang sejak 2025. Kelompok tersebut bekerja bersama Glasgow Financial Alliance for Net Zero untuk mendorong mobilisasi pembiayaan hingga US$20 miliar bagi transisi energi Indonesia.

