(Business Lounge-Human Resources) Perguruan tinggi paling bergengsi di Amerika Serikat setiap tahun menerima ribuan pendaftaran dari siswa-siswa terbaik dari seluruh dunia. Meski begitu, hampir seluruh pelamar tersebut tetap ditolak. Namun, tingkat selektivitas mereka masih belum mampu menandingi Bending Spoons, perusahaan teknologi asal Milan, Italia, yang dikenal memiliki salah satu proses rekrutmen paling ketat di dunia.
Bending Spoons menerima sekitar 800.000 lamaran kerja sepanjang tahun lalu, tetapi hanya merekrut 286 orang. Jika tingkat penerimaan universitas papan atas berada di kisaran 4 persen, maka tingkat penerimaan di Bending Spoons bahkan berada di bawah 0,04 persen.Meski demikian, menolak 99,9 persen pelamar ternyata bukanlah bagian paling luar biasa dari proses rekrutmen perusahaan tersebut.
Chief Executive Officer (CEO) Bending Spoons, Luca Ferrari, mengungkapkan bahwa apabila orang-orang mengetahui secara rinci bagaimana proses perekrutan di perusahaannya dilakukan, kemungkinan besar mereka akan menganggap metode tersebut sangat tidak biasa, meskipun ia berharap anggapan itu bernada positif.Sebelum memahami lebih jauh proses tersebut, terdapat sejumlah hal yang perlu diketahui mengenai Bending Spoons.
Perusahaan ini memiliki karakter yang tidak lazim dalam berbagai aspek, dimulai dari namanya yang terinspirasi dari film The Matrix. Walaupun merupakan perusahaan rintisan teknologi, Bending Spoons tidak berbasis di Silicon Valley, melainkan di Milan, Italia. Didirikan pada 2013, perusahaan ini beroperasi layaknya konglomerasi pada pertengahan abad ke-20.
Sebelum resmi melantai di bursa pekan lalu, selama beberapa tahun terakhir Bending Spoons aktif mengakuisisi perusahaan-perusahaan lama yang memiliki perangkat lunak yang masih digunakan jutaan orang setiap hari, seperti AOL, Evernote, dan Vimeo. Perusahaan membeli bisnis-bisnis tersebut bukan untuk dijual kembali, melainkan untuk diperbarui, dipertahankan, kemudian menghasilkan keuntungan yang selanjutnya diinvestasikan kembali untuk mengakuisisi perusahaan lain.Pendekatan yang sistematis itu tidak hanya diterapkan dalam memilih perusahaan yang akan diakuisisi, tetapi juga dalam menentukan siapa yang layak direkrut.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pelamar kerja meningkat drastis, dari sekitar 110.000 menjadi 360.000, lalu melonjak hingga 800.000 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 60.000 pelamar berhasil melewati tahap penyaringan awal dan mengikuti serangkaian tes yang dirancang untuk mengukur kemampuan bernalar, kualitas pengambilan keputusan, serta kecepatan belajar. Setelah proses tersebut, hanya sekitar 3.300 kandidat yang memperoleh kesempatan mengikuti wawancara.
Ferrari menilai bahwa wawancara kerja konvensional pada dasarnya hampir tidak memiliki kemampuan untuk memprediksi kualitas kandidat. Menurutnya, hasil wawancara biasa tidak jauh berbeda dengan melempar koin sehingga hampir tidak memberikan manfaat dalam menentukan calon karyawan terbaik.
Agar proses tersebut lebih efektif, Bending Spoons memilih menjadikannya lebih ilmiah. Setiap pertanyaan dirancang dengan sangat cermat, setiap jawaban dinilai menggunakan parameter yang telah ditentukan, sementara faktor-faktor yang bersifat kualitatif juga diubah menjadi data kuantitatif dan dimasukkan ke dalam algoritma perekrutan perusahaan. Setelah seluruh skor diperoleh, referensi diperiksa, keputusan ditinjau ulang, dan penawaran kerja diberikan, jumlah kandidat yang tersisa menjadi sangat sedikit. Pada akhirnya, hanya 286 orang yang berhasil melewati seluruh tahapan dan resmi menyandang sebutan sebagai Spooners.
Angka tersebut tergolong luar biasa. Bank investasi dan perusahaan konsultan paling kompetitif sekalipun biasanya hanya menerima sekitar satu persen pelamar. Citadel dan Citadel Securities, misalnya, hanya menerima sekitar 0,36 persen pelamar magang kuantitatif pada musim panas ini. NASA bahkan hanya menerima sekitar 0,1 persen dari seluruh pelamar astronaut. Dengan tingkat penerimaan sekitar 0,04 persen, peluang memperoleh pekerjaan di Bending Spoons secara statistik disebut sekitar 100 kali lebih sulit dibandingkan diterima di Harvard.
Penulis mengakui bahwa perbandingan tersebut memang tidak sepenuhnya sebanding. Namun, dari sudut pandang statistik, seluruh angka itu menunjukkan bahwa Bending Spoons merupakan perusahaan yang sangat terobsesi mencari talenta terbaik.Menariknya, perusahaan ini sebenarnya hampir tidak pernah terwujud.
Pada 2010, Francesco Patarnello, Matteo Danieli, dan Luca Ferrari melakukan perjalanan bersama sebagai teman. Sekembalinya dari perjalanan tersebut, mereka memutuskan menjadi rekan pendiri sebuah perusahaan rintisan. Namun, setelah beberapa tahun mengembangkan aplikasi buku harian berbasis kecerdasan buatan, produk tersebut gagal menarik perhatian pasar sehingga perusahaan kehabisan dana. Mereka akhirnya melikuidasi bisnis tersebut dan menggunakan sisa dana sekitar 40.000 dolar AS untuk membangun perusahaan baru.
Sebelum memulai kembali, mereka terlebih dahulu mengevaluasi seluruh pengalaman yang telah diperoleh, baik keberhasilan maupun kegagalan. Dari proses refleksi itu lahirlah dua keyakinan yang kemudian menjadi fondasi perusahaan berikutnya, yakni bahwa keberuntungan merupakan faktor penting ketika membangun sebuah bisnis, tetapi menjadi hampir tidak relevan ketika bisnis tersebut telah berjalan dan harus dikelola.
Mereka menyimpulkan bahwa banyak perusahaan bagus berhasil berkembang karena memperoleh keberuntungan pada tahap awal, tetapi kemudian dikelola dengan kurang baik. Sebaliknya, meskipun perusahaan rintisan mereka sendiri gagal, mereka justru semakin yakin bahwa kemampuan operasional yang dimiliki sangat kuat.Dalam tulisan yang mereka buat kemudian, para pendiri mengakui bahwa kemampuan tersebut sayangnya telah dihabiskan untuk mengembangkan produk yang sebenarnya tidak diinginkan pasar.
Berangkat dari pengalaman itu, mereka berupaya menghilangkan unsur keberuntungan dengan hanya mengakuisisi produk yang telah terbukti diminati konsumen. Saat ini, portofolio Bending Spoons umumnya terdiri atas perusahaan-perusahaan yang bisnisnya stabil, tetapi kurang menarik perhatian talenta terbaik selama bertahun-tahun. Dengan kata lain, perusahaan-perusahaan tersebut justru merupakan tempat yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh seorang Spooner untuk dijadikan tempat bekerja.
Perusahaan ini dipimpin oleh jajaran eksekutif yang sebagian besar berusia 30 hingga awal 40 tahun. Sementara itu, mayoritas karyawannya berusia 20 hingga 30-an tahun dan belum pernah bekerja di perusahaan lain. Bahkan, banyak di antara mereka yang usianya lebih muda dibandingkan merek-merek yang mereka kelola setelah diakuisisi.
Ferrari menjelaskan bahwa kemampuan perusahaan dalam menemukan individu yang memiliki bakat dan motivasi luar biasa sejak awal karier, kemudian memberikan tanggung jawab besar disertai pembinaan yang intensif, merupakan salah satu keunggulan terpenting yang dimiliki Bending Spoons.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian utama dari model bisnis perusahaan. Setiap kali mengakuisisi sebuah perusahaan, Bending Spoons memulai proses transformasi dengan memangkas sebagian besar tenaga kerja yang diambil alih, kemudian menggantikannya dengan tim Spooners yang jauh lebih ramping.
Saat ini terdapat sekitar 700 orang yang berhasil melewati proses seleksi terkenal ketat tersebut dan bekerja di berbagai fungsi teknis, pengembangan produk, serta pertumbuhan bisnis. Mereka berpindah dari satu perusahaan hasil akuisisi ke perusahaan lainnya untuk melakukan perubahan mendasar, mulai dari menulis ulang kode program, membangun ulang infrastruktur, hingga merancang kembali antarmuka pengguna. Perusahaan juga menegaskan bahwa seluruh karyawan tersebut harus memenuhi standar kinerja yang sangat tinggi.Bahkan, terdapat satu tim khusus yang hanya bertugas mengevaluasi para Spooners maupun calon Spooners.
Tim yang terdiri atas ilmuwan data, insinyur perangkat lunak, dan peneliti kecerdasan buatan tersebut memiliki kewenangan akhir dalam menentukan siapa yang direkrut maupun diberhentikan. Mereka terus menyempurnakan pertanyaan wawancara, menguji berbagai variasi tes, serta mencari cara untuk meningkatkan kemampuan model prediksi dalam memperkirakan kinerja karyawan di masa depan. Setelah seseorang diterima bekerja, performanya akan terus dipantau dan dibandingkan dengan prediksi awal setelah empat bulan, delapan bulan, satu tahun, hingga dua tahun.
Ferrari menjelaskan bahwa pekerjaan utama tim tersebut setiap hari hanyalah mencari berbagai sinyal yang dapat membantu memprediksi kualitas seseorang.Menurutnya, satu sinyal mungkin tidak terlalu berarti. Namun, ketika ratusan sinyal dikombinasikan, hasilnya dapat menjadi prediksi yang cukup akurat.Sebagai contoh, Ferrari menyebut bahwa perusahaan juga memperhatikan apakah seorang kandidat bersikap sopan.
Ia kemudian menjelaskan bahwa hampir semua pelamar bersikap hormat dan datang tepat waktu ketika bertemu para eksekutif yang memiliki kewenangan menentukan nasib mereka. Namun, apabila seseorang bersikap kasar kepada karyawan yang memiliki posisi lebih rendah, hal tersebut dianggap sebagai sinyal yang cukup kuat mengenai bagaimana ia kemungkinan akan memperlakukan rekan-rekan kerjanya di masa mendatang. Informasi tersebut kemudian turut dimasukkan ke dalam model penilaian perusahaan.Menjelang akhir percakapan, penulis mengajukan satu pertanyaan terakhir kepada Ferrari.
Karena merupakan salah satu pendiri perusahaan, Ferrari tidak pernah mengikuti proses seleksi ketat yang kini diterapkan Bending Spoons. Ketika ditanya apakah dirinya akan berhasil menjadi bagian dari 0,04 persen kandidat terbaik apabila harus mengikuti proses tersebut, Ferrari memilih tidak memberikan jawaban pasti. Ia hanya menyampaikan bahwa jika dilihat berdasarkan statistik, peluang itu kemungkinan besar tidak terlalu besar.

