(Business Lounge – Global News) Perusahaan kamera aksi asal Amerika, GoPro, tengah meninjau kemungkinan penjualan perusahaan setelah menerima sejumlah pendekatan terkait merger dan akuisisi. Langkah tersebut muncul ketika GoPro berupaya memperluas bisnis ke sektor pertahanan dan dirgantara di tengah tekanan panjang pada pasar kamera konsumen. Reuters melaporkan bahwa perusahaan mulai mengevaluasi berbagai opsi strategis setelah ketertarikan investor dan calon pembeli meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
GoPro pernah menjadi simbol ledakan kamera aksi global pada dekade sebelumnya. Produk perusahaan dikenal luas di kalangan atlet ekstrem, kreator konten, hingga penggemar perjalanan karena desain ringkas dan kemampuan merekam video berkualitas tinggi dalam kondisi ekstrem. Namun Bloomberg mencatat bahwa popularitas awal tersebut sulit dipertahankan ketika pasar kamera konsumen semakin kompetitif dan smartphone mulai memiliki kemampuan video yang semakin canggih. Perubahan perilaku konsumen membuat pertumbuhan bisnis perangkat khusus seperti kamera aksi melambat signifikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, GoPro berusaha mengurangi ketergantungan terhadap pasar kamera olahraga tradisional. The Wall Street Journal melaporkan bahwa perusahaan mulai mengeksplorasi peluang teknologi pencitraan untuk kebutuhan industri, termasuk sektor pertahanan, keamanan, dan dirgantara. Kamera berukuran kecil dengan kemampuan tahan guncangan dan kualitas visual tinggi dianggap memiliki potensi penggunaan pada drone, sistem pengawasan, hingga aplikasi militer tertentu. Diversifikasi tersebut dipandang penting untuk membuka sumber pendapatan baru di luar pasar konsumen yang semakin matang.
Ekspansi ke industri pertahanan terjadi ketika permintaan teknologi visual dan sensor meningkat pesat di sektor militer global. Financial Times menulis bahwa konflik geopolitik dan perkembangan drone tempur telah mendorong investasi besar dalam sistem pengawasan dan perangkat pencitraan ringan. Banyak perusahaan teknologi sipil kini mencoba masuk ke pasar pertahanan karena melihat peluang pertumbuhan jangka panjang yang lebih stabil dibanding elektronik konsumen. GoPro dinilai memiliki pengalaman teknis yang relevan dalam pengembangan kamera portabel berkualitas tinggi.
CNBC melaporkan bahwa GoPro selama bertahun-tahun menghadapi tekanan penjualan, persaingan harga, dan kesulitan mempertahankan pertumbuhan pengguna baru. Perusahaan memang berhasil membangun komunitas pengguna loyal, namun pasar kamera aksi tidak lagi berkembang secepat era awal media sosial dan video petualangan digital. Selain itu, perusahaan teknologi besar dan produsen kamera Asia semakin agresif menawarkan produk dengan harga lebih kompetitif.
Spekulasi mengenai penjualan perusahaan memperlihatkan bagaimana banyak perusahaan teknologi menengah kini menghadapi tekanan konsolidasi industri. Forbes mencatat bahwa perusahaan dengan merek kuat tetapi pertumbuhan terbatas sering menjadi target akuisisi bagi investor atau perusahaan yang ingin memperoleh teknologi dan basis pelanggan tertentu. Dalam kasus GoPro, daya tarik utama bukan hanya perangkat kerasnya, tetapi juga merek global yang masih memiliki pengaruh kuat di kalangan kreator konten dan komunitas olahraga ekstrem.
Analis industri melihat potensi ketertarikan dari perusahaan pertahanan, teknologi drone, hingga perusahaan media digital. Business Insider melaporkan bahwa teknologi kamera ringan dan tahan kondisi ekstrem semakin penting dalam berbagai aplikasi modern, mulai dari dokumentasi militer hingga produksi konten real-time. Jika diintegrasikan dengan sistem drone dan kecerdasan buatan, teknologi semacam itu dapat memiliki nilai strategis jauh lebih besar dibanding sekadar pasar kamera olahraga tradisional.
GoPro juga telah mencoba memperkuat model bisnis berbasis layanan digital. The Verge menulis bahwa perusahaan mengembangkan layanan berlangganan cloud storage, editing video otomatis, dan integrasi perangkat lunak untuk meningkatkan pendapatan berulang. Strategi tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap penjualan perangkat keras yang cenderung fluktuatif. Namun transformasi menuju model bisnis berbasis layanan berjalan lebih lambat dibanding harapan investor.
Masuknya GoPro ke sektor pertahanan juga mencerminkan tren lebih luas di industri teknologi Amerika. The New York Times melaporkan bahwa semakin banyak perusahaan teknologi sipil yang membuka diri terhadap kontrak militer setelah meningkatnya kebutuhan keamanan global dan perkembangan teknologi drone. Hubungan antara Silicon Valley dan industri pertahanan yang dulu sering diperdebatkan kini berubah lebih pragmatis karena peluang bisnis dan kebutuhan strategis nasional semakin besar.
Nilai strategis GoPro saat ini kemungkinan lebih terletak pada teknologi, merek, dan potensi integrasi lintas industri dibanding pertumbuhan penjualan kamera konsumen semata. Reuters menilai bahwa proses peninjauan opsi strategis dapat membuka peluang restrukturisasi besar atau bahkan transformasi total arah bisnis perusahaan. Dalam industri teknologi yang bergerak cepat, perusahaan yang gagal menemukan pasar pertumbuhan baru sering dipaksa mencari mitra atau pembeli untuk mempertahankan relevansi jangka panjang.
Situasi yang dihadapi GoPro memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi konsumen harus terus beradaptasi terhadap perubahan perilaku pasar dan perkembangan teknologi baru. Bloomberg menilai bahwa era ketika perangkat keras inovatif otomatis menghasilkan pertumbuhan besar sudah semakin sulit dipertahankan tanpa diversifikasi bisnis yang kuat. Bagi GoPro, ekspansi ke pertahanan dan dirgantara mungkin bukan sekadar peluang tambahan, melainkan bagian penting dari upaya bertahan hidup di tengah industri teknologi yang semakin kompetitif dan terkonsolidasi.

