Oracle

Oracle Terjepit Drama Aliansi OpenAI dan Nvidia

(Business Lounge – Global News) Hubungan yang mulai bergeser antara OpenAI dan Nvidia ternyata ikut menyeret nama Oracle ke dalam sorotan. Di tengah ledakan bisnis kecerdasan buatan, perubahan arah kerja sama teknologi sering kali berdampak bukan hanya pada perusahaan yang terlibat langsung, tetapi juga pada mitra infrastruktur di belakang layar. Laporan The Wall Street Journal menyoroti bagaimana pivot strategi OpenAI terhadap Nvidia membuat model bisnis Oracle, terutama dalam pembukuan dan proyeksi pendapatan cloud, ikut diperhatikan investor.

Oracle selama ini berusaha membangun citra sebagai pemain besar dalam ekosistem AI lewat layanan cloud berperforma tinggi. Perusahaan menggandeng berbagai mitra, termasuk OpenAI, untuk menyediakan kapasitas komputasi yang dibutuhkan model bahasa skala besar. Ketika dinamika hubungan OpenAI dengan Nvidia berubah, pasar mulai bertanya apakah permintaan komputasi yang sebelumnya diasumsikan stabil masih akan mengalir dengan ritme yang sama.

Isu utamanya bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga cara Oracle mengakui pendapatan dari kontrak cloud jangka panjang. Beberapa analis yang dikutip Bloomberg menilai pertumbuhan cepat dalam bisnis AI membuat investor ingin melihat transparansi lebih jelas terkait bagaimana kontrak besar dihitung dalam laporan keuangan. Jika arah kerja sama OpenAI bergeser, proyeksi penggunaan infrastruktur bisa ikut berubah, dan itu langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap Oracle.

Nvidia berada di pusat cerita karena perusahaan ini menjadi pemasok utama GPU untuk industri AI. Ketika OpenAI menyesuaikan strategi komputasinya, perhatian investor langsung tertuju pada siapa yang menyediakan server, jaringan, dan kapasitas cloud. Oracle sebelumnya mendapatkan momentum besar setelah ikut dalam proyek infrastruktur AI berskala raksasa, sehingga setiap perubahan hubungan antar pemain besar langsung menimbulkan pertanyaan tentang posisi perusahaan di masa depan.

Menurut analisis Reuters, Oracle memang tidak sepenuhnya bergantung pada satu pelanggan, tetapi proyek AI berskala besar memiliki dampak psikologis yang kuat terhadap valuasi saham. Investor sering melihat kerja sama dengan OpenAI sebagai simbol bahwa Oracle berhasil bersaing dengan raksasa cloud lain seperti Microsoft dan Amazon. Ketika muncul kabar hubungan yang tidak mulus antara OpenAI dan Nvidia, pasar mulai menghitung ulang apakah Oracle akan tetap berada di jalur pertumbuhan yang sama.

Di balik drama industri ini, ada perubahan lebih luas dalam cara perusahaan teknologi membangun ekosistem AI. Dulu, satu perusahaan bisa mengandalkan satu mitra utama untuk hardware dan software. Sekarang, banyak pemain memilih strategi multi-vendor untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok. Pendekatan seperti ini membuat rantai nilai AI menjadi lebih cair, sekaligus meningkatkan ketidakpastian bagi perusahaan infrastruktur yang sebelumnya merasa memiliki posisi aman.

Oracle mencoba meredam kekhawatiran dengan menekankan bahwa permintaan komputasi AI masih sangat tinggi. Dalam laporan yang dikutip Financial Times, manajemen menyatakan pipeline proyek tetap kuat dan pelanggan enterprise terus berdatangan. Namun sorotan terhadap metode akuntansi menunjukkan bahwa pasar tidak hanya melihat pertumbuhan angka, tetapi juga ingin memahami bagaimana pertumbuhan itu dihasilkan.

Fenomena ini memperlihatkan sisi lain dari booming AI. Ketika hubungan antara pemain inti seperti OpenAI dan Nvidia berubah arah, dampaknya merambat ke seluruh rantai industri, termasuk penyedia cloud yang berperan sebagai tulang punggung komputasi. Investor kini memeriksa setiap detail, dari kapasitas server hingga struktur kontrak jangka panjang, untuk menilai apakah lonjakan pendapatan AI benar-benar berkelanjutan.

Beberapa analis menilai situasi ini bukan ancaman langsung bagi Oracle, melainkan pengingat bahwa ekosistem AI bergerak sangat cepat. Perusahaan yang berhasil hari ini bisa menghadapi tekanan baru hanya karena perubahan strategi mitra. Dalam laporan CNBC, pengamat industri menyebut era AI menciptakan hubungan bisnis yang dinamis, di mana aliansi teknologi dapat berubah dalam waktu singkat sesuai kebutuhan komputasi dan inovasi model baru.

Bagi Oracle, tantangan terbesar mungkin bukan kehilangan kontrak tertentu, tetapi menjaga narasi pertumbuhan tetap kuat di tengah perubahan lanskap. Perusahaan harus meyakinkan pasar bahwa posisinya tidak bergantung pada satu hubungan strategis saja. Selama permintaan AI terus tumbuh, peluang tetap terbuka lebar, tetapi sorotan terhadap akuntansi menunjukkan bahwa investor kini lebih kritis daripada sebelumnya.

Kisah ini menggambarkan bagaimana persaingan AI bukan sekadar adu chip atau algoritma, melainkan juga pertarungan persepsi pasar. Ketika OpenAI dan Nvidia menata ulang hubungan mereka, Oracle ikut berada di bawah lampu sorot, dipaksa menunjukkan bahwa fondasi bisnisnya cukup kokoh untuk bertahan di tengah arus perubahan yang bergerak cepat di dunia kecerdasan buatan.