(Business Lounge – Global News) Kinerja produksi tembaga Glencore sepanjang 2025 mencerminkan dinamika yang kontras antara tekanan struktural dan pemulihan operasional di paruh kedua tahun. Perusahaan tambang dan perdagangan asal Anglo-Swiss itu melaporkan bahwa produksi tembaga tahunan turun 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun terjadi lonjakan hampir 50 persen pada paruh kedua tahun dibandingkan enam bulan pertama. Angka tersebut menegaskan betapa beratnya tantangan yang dihadapi industri pertambangan global, bahkan ketika harga komoditas utama menunjukkan tren yang relatif stabil.
Dalam pernyataannya, Glencore menjelaskan bahwa penurunan produksi terutama disebabkan oleh masalah teknis dan operasional di sejumlah aset utama, termasuk di Amerika Selatan dan Afrika. Gangguan pemeliharaan, kualitas bijih yang lebih rendah dari perkiraan, serta keterlambatan proyek ekspansi menjadi faktor utama yang menekan volume produksi sepanjang paruh pertama tahun. Kondisi ini diperparah oleh cuaca ekstrem dan kendala logistik yang masih membayangi sektor pertambangan global, seperti dilaporkan Reuters.
Namun, situasi mulai membaik memasuki semester kedua. Glencore mencatat lonjakan produksi hampir 50 persen dibandingkan enam bulan pertama, seiring beroperasinya kembali beberapa fasilitas utama dan meningkatnya efisiensi operasional. Perusahaan menyebut bahwa optimalisasi tambang serta peningkatan kinerja di aset-aset kunci mulai membuahkan hasil, meskipun belum cukup untuk menutup penurunan tajam di awal tahun. Menurut Bloomberg, pemulihan ini memberikan sinyal positif menjelang 2026, tetapi belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran investor.
Tembaga sendiri memegang peran strategis dalam portofolio Glencore, mengingat logam ini menjadi tulang punggung transisi energi global. Permintaan jangka panjang diperkirakan tetap kuat seiring meningkatnya kebutuhan kendaraan listrik, jaringan energi terbarukan, dan infrastruktur listrik. Namun dalam jangka pendek, volatilitas harga dan ketidakpastian pasokan masih menjadi tantangan besar. Fluktuasi ini membuat kinerja produsen besar seperti Glencore sangat sensitif terhadap gangguan operasional sekecil apa pun.
Analis menilai penurunan produksi Glencore tahun lalu mencerminkan tren yang lebih luas di industri pertambangan global. Banyak perusahaan menghadapi penurunan kadar bijih, meningkatnya biaya eksplorasi, serta tekanan regulasi yang semakin ketat. Di sisi lain, investasi baru membutuhkan waktu panjang untuk mulai berkontribusi terhadap produksi. Dalam konteks ini, pemulihan kuat di paruh kedua tahun menjadi sinyal bahwa kapasitas produksi Glencore masih solid, meski tidak kebal terhadap gangguan jangka pendek, seperti dicatat Financial Times.
Dari sisi keuangan, penurunan produksi tembaga berpotensi memengaruhi kinerja pendapatan, mengingat komoditas ini menyumbang porsi signifikan terhadap laba grup. Meski demikian, Glencore relatif terbantu oleh portofolio bisnisnya yang terdiversifikasi, termasuk batu bara, nikel, dan aktivitas perdagangan komoditas yang tetap menghasilkan arus kas kuat. Diversifikasi inilah yang membuat perusahaan masih mampu menjaga stabilitas keuangan di tengah fluktuasi produksi tambang.
Manajemen Glencore menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah meningkatkan keandalan operasional dan memastikan proyek-proyek pengembangan berjalan sesuai jadwal. Perusahaan juga menaruh perhatian besar pada efisiensi biaya dan disiplin belanja modal, mengingat tekanan investor terhadap profitabilitas jangka panjang semakin kuat. Dalam pernyataan yang dikutip Reuters, manajemen menyebut bahwa 2025 merupakan tahun transisi, dengan hasil yang lebih mencerminkan tantangan struktural dibandingkan potensi jangka panjang perusahaan.
Bagi pasar, angka produksi yang lebih lemah dari ekspektasi ini menjadi pengingat bahwa pasokan tembaga global tidak akan tumbuh cepat dalam waktu dekat. Kondisi tersebut justru dapat menopang harga dalam jangka menengah, terutama jika permintaan dari sektor energi bersih terus meningkat. Beberapa analis bahkan menilai bahwa keterbatasan pasokan dapat menjadi faktor penopang harga tembaga dalam beberapa tahun ke depan, meskipun volatilitas jangka pendek masih sulit dihindari.
Perhatian investor akan tertuju pada kemampuan Glencore menjaga momentum pemulihan yang terlihat di paruh kedua tahun lalu. Jika peningkatan produksi dapat dipertahankan tanpa lonjakan biaya yang signifikan, perusahaan berpeluang memperbaiki kinerja secara bertahap. Namun, jika gangguan operasional kembali muncul, tekanan terhadap kinerja keuangan bisa berlanjut.
Laporan produksi terbaru ini menggambarkan realitas kompleks yang dihadapi industri tambang global. Glencore berhasil menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tetapi penurunan tahunan yang cukup tajam menjadi pengingat bahwa transformasi menuju produksi yang lebih stabil dan berkelanjutan masih membutuhkan waktu. Seperti dicatat oleh Bloomberg dan Financial Times, tahun-tahun mendatang akan menjadi ujian penting bagi kemampuan Glencore menyeimbangkan antara ambisi pertumbuhan, disiplin biaya, dan tuntutan pasar global yang terus berubah.

