Heboh Rencana Glencore PLC Merger Dengan Rio Tinto

(Business Lounge-Business Insight)-Inilah catatan sejarah baru dalam dunia pertambangan. Salah satu taipan pertambangan terbesar dunia, Ivan Glasenberg yang juga merupakan mantan pedagang batu bara ini dikabarkan telah mengambil keputusan paling berani dalam sejarah kariernya. Glasenberg menyatakan keinginannya untuk merger bersama Rio Tinto, produsen bijih besi nomor 2 dunia. Jika rencana fenomena ini terjadi maka ini akan menjadi rekor merger terbesar dalam usaha pertambangan.

Langkah ini diambil oleh Ivan Glasenberg guna mengembangkan perusahaan trading dan pertambangan Glencore PLC. Dengan bergabungnya 2 raksasa perusahaan pertambangan ini maka akan menghasilkan perusahaan tambang terbesar dunia yang diperkirakan dapat menyaingi BHP Billiton sebagai penambang terbesar dunia.

Profil Rio Tinto sebagai raksasa pertambangan dunia tercatat memiliki kapitalisasi pasar sekitar $90 miliar. Merger kedua perusahaan akan membawa perubahan bagi percaturan industri pertambangan global, bahkan berpengaruh terhadap pasar bijih besi dunia.

Mari kita simulasikan kesuksesan penyatuan 2 perusahaan ini. Kekuatan perdagangan komoditas Glencore akan berpadu dengan produksi bijih besi Rio Tinto yang substansial. Produsen bijih besi nomor satu dunia, Vale SA, Rio Tinto, dan penambang lainnya tetap memproduksi bijih besi meski harganya jatuh.

Mereka mencoba meraih pangsa pasar dan menyisihkan penambang yang biaya produksinya lebih tinggi. BHP minggu ini berjanji meningkatkan investasinya untuk bijih besi, bahan utama baja. BHP ingin mengungguli Rio Tinto sebagai produsen bijih besi berbiaya termurah di dunia.

Seperti yang dikutip dari The Wall Street Journal, Glasenberg mengkritik aksi BHP itu. Ia menyarankan menutup tambang untuk mendorong harga dan mengkritik “obsesi” industri tambang terhadap pertumbuhan volume. “Mari perketat pasar untuk sementara waktu,” katanya kepada penanam modal tahun lalu. Glasenberg berharap dengan merger bersama Rio Tinto, Glencore dapat membantu mengerem produksi bijih besi global, meski belum diketahui dampaknya terhadap harga komoditas tersebut.

Baik pihak Glencore ataupun Rio Tinto mengaku belum kembali berunding sejak proposal Glencore ditolak direksi Rio Tinto pada bulan Agustus lalu. Menurut Glencore, aturan pengambilalihan perusahaan Inggris melarangnya melanjutkan perundingan selama enam bulan.

Meski demikian, enam bulan terbilang relatif singkat bagi megamerger industri pertambangan. Transaksi dapat terwujud atau kandas akibat harga komoditas yang bergejolak.

Diprediksi rencana merger ini belum tentu berjalan mulus sebab proposal ini diajukan saat Rio Tinto, perusahaan tambang Inggris-Australia, tengah rawan. Saham Rio Tinto terus jatuh tahun ini seiring dengan anjloknya harga bijih besi. Di satu sisi ada sinyal baik yang datang. Sam Walsh sebagai CEO Rio Tinto akan mengundurkan diri tahun depan. Pergantian posisi tertinggi ini berpotensi menjadikan diskusi terkait pemimpin di masa yang akan datang berjalan lancar.

Glasenberg rela menunggu kesediaan Rio Tinto untuk merger setelah harga bijih besi diprediksi terus turun sebab bagaimanapun bijih besi menyumbang sebagian besar pendapatan Rio Tinto.

Hingga berita ini diturunkan detail penawaran dari pihak Glencore belum diketahui secara jelas. Jadi kita tunggu saja bagaimana kelanjutan merger ini nantinya dan dampaknya terhadap bisnis komoditas dunia.

 

 

Febe/Journalist/VM/BL
Editor: Tania Tobing
Image:Wikipedia

 

 

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x