Kota Cahaya Paris

(Business Lounge Journal – Travel)

Menuruni langit pagi kota Paris di awal musim dingin adalah suatu pemandangan yang tak terlupakan. Cakrawala kota mode itu berwarna kemerahan, diterangi matahari pagi yang masih enggan bersinar. Meskipun waktu menunjukkan hampir pukul setengah sembilan pagi, suasana atmosfer masih terlihat samar-samar. Memang demikian suasana awal musim dingin; matahari baru benar-benar bersinar sekitar pukul sembilan pagi. Namun, suasana kota Paris terlihat tersenyum dengan cahaya-cahaya kekuningan dari tiap gedung berwarna putih yang tampak dari balik jendela pesawat Boeing yang sesaat lagi mendarat di Bandara Charles de Gaulle, Paris.

Kota Paris, Prancis, menyambut para pendatang dari angkasa dengan cahaya-cahaya lembut di tengah udara dingin yang berkisar sekitar tujuh derajat Celsius. Sesuai dengan julukannya, kota Paris dikenal sebagai kota cahaya, La Ville Lumière.

Ketika matahari menyinari kota Paris, pohon-pohon terlihat meranggas. Dedaunan berwarna merah dan kuning terus gugur satu demi satu, memenuhi jalan. Gedung-gedung bergaya arsitektur kontemporer modern, Haussmann, Renaisans, Gothic, serta Belle Époque dan Art Nouveau berdiri megah, penuh gaya seni yang mengesankan.

Namun, ketika matahari mulai tenggelam, kota Paris menyalakan lampu dari seluruh bangunan indah itu. Pada pukul 18.00 waktu Paris, Menara Eiffel menyalakan lampu berwarna kuning keemasan. Menara setinggi 330 meter itu berkelap-kelip dengan anggun dan megah. Para wisatawan tak henti-hentinya mencari sudut terbaik untuk mengabadikan suasana manis yang sarat kesan romantis. Paris memberikan pesonanya kepada setiap mata yang memandang dan menegaskan bahwa kota seni ini tetap menjadi Kota Cahaya yang indah hingga hari ini.

Menurut sejarah, kota Paris pernah menjadi kota yang gelap akibat minimnya alat penerangan. Kondisi ini memicu meningkatnya kriminalitas, khususnya pencurian. Hingga sekitar tahun 1667, seorang petinggi kepolisian Paris bernama Gabriel Nicolas de la Reynie memprakarsai penerangan kota Paris dengan ribuan lentera yang di dalamnya dinyalakan lilin. Raja Louis XIV menyetujui rencana tersebut. Sejak saat itu, Paris berubah menjadi kota yang terang benderang, bahkan yang paling terang di antara kota-kota Eropa lainnya. Angka kriminalitas pun menurun, dan Paris dikenal dengan julukan “Kota Cahaya”.

Kota Cahaya kemudian bertransformasi membentuk evolusi penerangan dunia. Sekitar abad ke-18, lampu gas diciptakan untuk menggantikan alat penerangan tradisional. Memasuki abad ke-19, sekitar 50.000 lampu gas menerangi kota Paris.

Kondisi terang benderang ini turut memengaruhi cara berpikir masyarakat Prancis. Sejumlah filsuf dan pemikir besar bangkit pada masa “Zaman Pencerahan” atau Siècle des Lumières, di antaranya Voltaire dan Rousseau. Menariknya, pada masa ini berkembang keyakinan bahwa kondisi terang benderang mampu mengenyahkan segala kegelapan, ketidaktahuan, bahkan kebodohan.

Hingga malam ini, Menara Eiffel terus bersinar dengan kelap-kelip kemegahannya. Sekitar 20.000 lampu dipasang pada menara tinggi yang menjadi simbol kebesaran bangsa Prancis tersebut.

Selain dikenal sebagai Kota Cahaya, Paris juga dijuluki sebagai Kota Cinta dan ibu kota mode dunia.