(Business Lounge Journal – News and Insight)
Musim dingin di Belanda biasanya identik dengan hujan dan angin kencang, bukan dengan tumpukan salju yang tinggi. Namun, ketika heavy snow atau salju lebat benar-benar turun—seperti yang terjadi pada awal Januari 2026 akibat Badai Goretti—negara ini kerap mengalami fenomena unik yang mampu mengubah ritme hidup warganya secara total.
Fenomena heavy snow atau salju lebat di Belanda pada musim dingin, terutama yang terjadi secara masif pada awal Januari 2026, memberikan dampak yang melumpuhkan hampir seluruh sektor kehidupan. Meskipun Belanda merupakan negara maju, infrastrukturnya tidak selalu siap menghadapi salju tebal yang bertahan selama berhari-hari.
Berikut dampak dari fenomena salju lebat yang terjadi di Belanda:
Kelumpuhan Transportasi Udara (Bandara Schiphol)
Bandara Schiphol di Amsterdam, sebagai salah satu hub tersibuk di dunia, mengalami gangguan paling parah.
Pembatalan massal: Lebih dari 700 penerbangan dibatalkan dalam satu hari (seperti yang terjadi pada 7 Januari 2026).
Krisis de-icing: Maskapai nasional KLM sempat kehabisan cairan anti-ice dan harus mendatangkan tambahan 100.000 liter dari Jerman. Rata-rata penggunaan cairan ini mencapai 85.000 liter per hari untuk membersihkan sayap pesawat.
Penumpang telantar: Ribuan orang terpaksa menginap di terminal bandara dengan tempat tidur darurat yang disediakan oleh otoritas.

Gangguan Kereta Api (NS & ProRail)
Sistem kereta api Belanda sangat padat, sehingga satu gangguan kecil akibat salju dapat memicu efek domino.
Masalah wesel (switches): Salju dan suhu beku kerap merusak sistem pindah jalur kereta (frozen switches).
Layanan berhenti total: Pada awal Januari 2026, seluruh operasional kereta api domestik sempat dihentikan sepenuhnya akibat gangguan teknis dan cuaca ekstrem, demi alasan keselamatan.
Kekacauan di Jalan Raya dan Jalur Sepeda
Kemacetan rekor: Kemacetan di seluruh negeri sempat mencapai lebih dari 700 kilometer. Banyak kecelakaan terjadi akibat truk tergelincir dan kendaraan yang tidak menggunakan ban musim dingin (yang tidak diwajibkan di Belanda).
Kritik dari pesepeda: Muncul kemarahan warga karena pemerintah (Rijkswaterstaat) dinilai lebih memprioritaskan penyemprotan garam di jalan raya, sementara jalur sepeda sering kali tertimbun tumpukan salju hasil pembersihan jalan utama. Kondisi ini memaksa anak-anak sekolah bersepeda di jalan raya yang relatif lebih bersih.
Dampak pada Kehidupan Sehari-hari
Kode oranye: Ketika salju mencapai ketebalan di atas 5–10 cm, Badan Meteorologi Belanda (KNMI) biasanya langsung mengeluarkan Kode Oranye.
Budaya kerja: Perusahaan-perusahaan besar segera menerapkan kebijakan work from home (WFH) secara massal karena mobilitas yang sulit dilakukan.
Kegiatan Sosial: Elfstedentocht dan Demam Seluncur Es
Masyarakat Belanda memiliki hubungan emosional yang kuat dengan es. Saat salju lebat turun dan suhu berada di bawah 0°C selama beberapa hari, warga mulai memantau kondisi kanal-kanal.
Jika es cukup tebal (sekitar 15 cm), muncul harapan akan Elfstedentocht, lomba seluncur es legendaris sejauh 200 km yang melintasi 11 kota. Namun, salju lebat justru menjadi “musuh” bagi pembentukan es yang ideal, karena salju bersifat mengisolasi dan menghambat air di bawahnya untuk membeku secara sempurna.
Meski menimbulkan kekacauan, warga lokal kerap memanfaatkan momen ini untuk bermain ski di jalanan kota atau meluncur di kanal yang mulai membeku, selama suhu tetap berada di bawah nol derajat dalam waktu yang cukup lama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa, meskipun Belanda merupakan negara yang sangat modern, alam tetap memiliki cara untuk menghentikan hampir seluruh aktivitas nasional dalam sekejap.
Foto & Video: Rismaya

