Kesepakatan antara Disney dan OpenAI menjadi sinyal keras bagi industri hiburan global: era baru konten berbasis kecerdasan buatan sudah dimulai, dan siapa pun yang terlalu lama menonton dari pinggir lapangan berisiko tertinggal. Bagi raksasa media Amerika, kolaborasi dengan perusahaan AI bukan lagi eksperimen, melainkan strategi bisnis. Sebaliknya, banyak studio dan penerbit Jepang masih terlihat berhati-hati—bahkan ragu—melangkah ke wilayah ini.
Disney, dengan portofolio besar dari film, serial, animasi hingga taman hiburan, melihat AI sebagai mesin baru untuk efisiensi dan kreativitas. AI generatif bisa membantu penulisan naskah awal, pengembangan karakter, hingga personalisasi pengalaman penonton. Dengan menggandeng OpenAI, Disney berupaya mengamankan posisi di masa depan industri hiburan, sekaligus membuka sumber pendapatan baru dari konten dan layanan berbasis AI.
Tekanan dari langkah ini langsung terasa hingga Jepang. Negeri ini dikenal sebagai rumah bagi studio animasi legendaris, penerbit manga besar, dan pemilik IP (intellectual property) yang sangat kuat secara global. Namun ironisnya, banyak pemain Jepang masih memilih bersikap defensif terhadap AI. Kekhawatiran soal hak cipta, etika, dan perlindungan kreator sering kali membuat perusahaan enggan bereksperimen lebih jauh.
Masalahnya, sikap terlalu hati-hati bisa berujung mahal. Di tengah pasar global yang makin kompetitif, AI bukan hanya alat produksi, tetapi juga mesin monetisasi. Konten berbasis AI memungkinkan distribusi lebih cepat, adaptasi lintas bahasa, dan eksplorasi format baru seperti karakter virtual interaktif atau dunia cerita yang terus berkembang secara real time. Jika studio Jepang absen dari ekosistem ini, peluang pendapatan baru bisa jatuh ke tangan pemain global lain.
Beberapa perusahaan Jepang sebenarnya mulai bergerak. Ada yang menguji AI untuk pewarnaan animasi, pengarsipan aset lama, atau terjemahan otomatis manga dan anime. Namun langkah ini masih terfragmentasi dan sering kali bersifat internal, bukan kolaborasi strategis besar seperti yang dilakukan Disney dan OpenAI. Padahal, kolaborasi lintas industri—antara pemilik IP, studio kreatif, dan pengembang AI—bisa mempercepat adaptasi sekaligus menjaga kontrol atas kekayaan intelektual.
Di sisi lain, ada juga peluang unik bagi Jepang. Budaya karakter yang kuat, dunia cerita yang detail, dan basis penggemar global adalah modal besar untuk mengembangkan AI yang berfokus pada storytelling. Alih-alih melihat AI sebagai ancaman, industri Jepang bisa memposisikannya sebagai “asisten kreatif” yang memperluas jangkauan karya manusia, bukan menggantikannya.
Kesepakatan Disney–OpenAI pada akhirnya bukan sekadar tentang dua perusahaan besar. Ini adalah peringatan bagi industri hiburan dunia, termasuk Jepang, bahwa AI akan menjadi bagian tak terpisahkan dari rantai nilai kreatif. Bertahan di pinggir lapangan mungkin terasa aman hari ini, tetapi di era baru ini, yang paling berisiko justru adalah tidak ikut bermain sama sekali.

