Pada suatu pagi yang cerah di pusat kota, suara langkah kaki bercampur dengan deru lalu lintas seperti orkestra rutinitas harian. Namun di antara keramaian itu, ada satu hal yang menarik perhatian: seorang pria meluncur perlahan, langkahnya seolah memotong udara. Tidak ada skateboard. Tidak ada skuter. Ia hanya memakai sepasang sepatu—sepatu yang bergerak sendiri. Glide, begitu namanya. Sebuah teknologi baru yang membuat batas antara berjalan dan terbang menjadi semakin tipis.
Glide bukan sekadar sepatu. Ia adalah metafora tentang masa depan, tentang bagaimana teknologi menyelinap masuk ke dalam hal-hal paling sederhana dan mengubahnya menjadi pengalaman yang sama sekali baru. Ia hadir di era ketika manusia mencari cara yang lebih cepat, lebih ringan, dan lebih personal untuk bergerak di kota yang semakin padat.
Selamat datang di dunia di mana sepatu tidak lagi hanya alas kaki, melainkan perangkat mobilitas.
Revolusi yang Dimulai dari Sol Sepatu
Sebelum Glide muncul, sepatu hanyalah sepatu: melindungi kaki, mempertegas gaya, atau meningkatkan performa olahraga. Namun para penciptanya melihat sesuatu yang lebih dalam. Bagi mereka, sepatu adalah perpanjangan tubuh manusia yang paling alami. Kita tidak selalu punya ruang untuk mobil atau sepeda listrik, tapi kita selalu memakai sepatu.
Dari situlah ide sederhana namun radikal itu lahir: bagaimana jika sepatu bisa membantu kita bergerak lebih cepat?
Pertanyaan itu kemudian dirumuskan menjadi prototipe pertama Glide—sepatu futuristik dengan desain tegas, lampu indikator halus, dan mesin kecil yang tersembunyi nyaris tak terlihat. Saat dinyalakan, Glide tidak membuat pemakainya melompat atau terbang tinggi. Ia hanya memberikan dorongan lembut, seperti tangan tak terlihat yang mendorong punggungmu dengan ramah.
Dan dari dorongan kecil itulah, sebuah revolusi bermula.
Sensasi Meluncur—Pengalaman Baru dalam Bergerak
Menggunakan Glide untuk pertama kalinya bukan sekadar mencoba gadget baru, melainkan mencoba cara bergerak yang berbeda. Ketika sepatu diaktifkan, sol terasa hidup. Ada getaran halus, lalu dorongan kecil yang mengangkat beban tubuh dari tumit, membuat langkah terasa ringan. Dalam hitungan detik, tubuh terbiasa, dan otak mulai memahami pola ritmenya.

Yang paling unik bukan kecepatannya, melainkan perasaan meluncur itu sendiri—seolah kita berjalan di atas angin.
Tidak heran jika Glide cepat memikat generasi muda. Ini bukan mobilitas yang rumit. Tidak butuh lisensi, tidak butuh ruang parkir. Tidak ada setang, tidak ada panel kontrol. Semua terjadi melalui intuisi tubuh. Tubuh condong sedikit ke depan, Glide mempercepat. Jika tegakkan badan, Glide melambat. Kakinya seolah membaca niat kita sebelum kita mengeksekusinya.
Ada dimensi emosional dalam pengalaman itu—campuran antara kebebasan, kegirangan, dan sedikit rasa tak percaya bahwa teknologi bisa begitu hebat
Teknologi Glide, Sederhana, Ringan tapi Berenergi
Kalau Glide dibongkar, kita akan menemukan dunia kecil yang sibuk bekerja. Ada lima teknologi yang terlihat sederhana tapi sangat pintar, yaitu:
- Motor Micro-Propulsion
Motor berskala mini dengan kipas internal menciptakan dorongan maju tanpa suara bising. Seperti energi kecil yang mendorong di setiap langkah.
- Sensor Gyro dan Accelerometer
Sensor ini memantau setiap gerakan tubuh secara real time. Mereka memastikan tetap seimbang—bahkan ketika permukaan jalan sedikit bergelombang.
- AI Motion Learning
AI ini belajar dari caramu berjalan: panjang langkah, kebiasaan berhenti, ritme gerak, bahkan kecenderungan arah. Glide makin lama makin terasa seperti “menyatu” dengan kaki.
- Sol Pintar dengan Panel Tekanan
Setiap tekanan telapak kaki menghasilkan respons. Mulai dari akselerasi ringan hingga pengereman otomatis.

- Baterai Ultra-Ringan
Baterai lithium generasi baru memungkinkan Glide tetap tipis, tidak menyiksa kaki, dan bertahan hingga satu jam penggunaan aktif.
Kelima teknologi ini tidak hanya menciptakan fungsi, tetapi menciptakan pengalaman.
Apakah Dunia Begitu Tertarik dengan Glide?
Untuk pertama kalinya, apa yang dulu hanya mimpi di film—sepatu yang bisa membuat kita meluncur—sudah berada dalam jangkauan. Kota modern dipenuhi jarak-jarak tanggung: terlalu jauh untuk berjalan, tapi terlalu dekat untuk naik kendaraan. Glide menjembatani antar ruang itu.
Teknologi hari ini cenderung mengecil. Dari komputer menjadi ponsel. Dari ponsel menjadi jam tangan. Glide melanjutkan tren itu: mobilitas yang muat dalam sepatu. Dan pada akhirnya, teknologi yang menyenangkan selalu menang.
Meminimisasi Resiko, Menghadapi Tantangan ke depan
Glide bukan tanpa risiko. Justru karena bentuknya sederhana, ilusi keamanannya bisa menipu. Tantangan terbesar termasuk:
- kestabilan di jalan basah
- respon rem yang harus instan
- ketahanan perangkat terhadap guncangan
- keamanan pemakai pemula
Selain itu, ada pertanyaan hukum: apakah Glide boleh dipakai di trotoar? Apakah masuk kategori kendaraan?
Sampai sekarang, regulasi dunia masih mencari bentuknya.
Namun hampir semua teknologi besar pernah melalui fase “abu-abu” seperti ini—skuter listrik dulu pun mengalaminya. Biasanya, ketika inovasi terbukti bermanfaat, kebijakan akan beradaptasi.
Jika Glide versi sekarang adalah awal atau “permulaan”, maka versi masa depan akan jauh lebih mengagumkan.
- Baterai Lebih Lama, Lebih Ringan
Bukan tidak mungkin pengguna bisa meluncur hingga 3 jam tanpa henti.
- Mode Terbang Rendah
Lift-assist generasi baru dapat membuat sepatu terangkat beberapa sentimeter dari tanah.
- Integrasi AI Kota
Trotoar cerdas dapat berkomunikasi dengan Glide untuk menghindari bahaya.
- Mode Komuter Khusus
Pengguna dapat memindai rute harian dan membiarkan Glide mengatur pola dorongan otomatis.
- Fashion & Teknologi Bergabung
Glide generasi baru mungkin akan tampil seperti sneaker premium, bukan perangkat teknologi.
Bukan tidak mungkin suatu hari anak-anak bertanya: “Dulu orang jalan kaki ya? Kenapa nggak berglide aja?”
Lebih dari Sekadar Mobilitas — Ini Perubahan Budaya
Glide menawarkan perubahan yang lebih dalam dari sekadar cara bergerak. Glide menawarkan:
gaya hidup baru, yang mirip bagaimana skateboard dulu menciptakan budaya sendiri. Glide menjadi cara ekspresi diri, lewat desain sepatu futuristik yang akan mengikuti ritme kota baru, di mana orang tidak hanya berjalan, tetapi meluncur. Glide memberikan kemandirian mobilitas, terutama bagi orang yang membutuhkan bantuan gerak ringan
Teknologi kecil ini membuka kemungkinan besar. Ia bukan mobil terbang, bukan drone angkut manusia. Ia bukan revolusi yang berisik.Justru karena ia kecil dan diam, Glide lebih mudah menyusup ke kebiasaan kita.
Glide mungkin belum membuat kita terbang. Tapi ia memberikan kita rasa terbang—dan itu sudah cukup untuk menggeser cara kita melihat masa depan mobilitas. Dari langkah kecil inilah transformasi besar sering dimulai.
Hari ini, Glide adalah inovasi unik. Besok, mungkin ia menjadi kebiasaan baru.
Lusa, siapa tahu ia menjadi standar.
Dunia berubah bukan dengan satu lompatan besar, tapi melalui inovasi kecil yang terasa akrab, nyaman, dan menyenangkan. Glide adalah salah satu dari inovasi itu. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sedang menyaksikan awal era baru—era ketika manusia bergerak bukan lagi hanya dengan langkah… tetapi dengan luncuran, akankah ini terjadi sebentar lagi?

