Wendy’s Tutup Ratusan Gerai di Tengah Penurunan Belanja Restoran

(Business Lounge – Global News) Jaringan restoran cepat saji Wendy’s Co. mengumumkan rencana penutupan ratusan gerainya di Amerika Serikat dan pasar internasional sebagai respons terhadap melemahnya pengeluaran konsumen. Keputusan ini mencerminkan tekanan yang semakin besar di industri makanan cepat saji, di mana inflasi dan perubahan perilaku makan konsumen membuat banyak jaringan harus menyesuaikan strategi bisnis mereka.

Menurut laporan The Wall Street Journal dan Bloomberg, Wendy’s—yang dikenal dengan menu burger “square patty” khasnya—mengalami perlambatan penjualan di beberapa kuartal terakhir karena konsumen kelas menengah dan bawah mulai menahan pengeluaran makan di luar rumah. Lonjakan harga bahan pangan dan biaya operasional membuat restoran sulit menurunkan harga tanpa mengorbankan margin keuntungan.

Meskipun demikian, perusahaan tetap mempertahankan proyeksi laba bersih tahunan antara 82 sen hingga 89 sen per saham. CEO Wendy’s, Kirk Tanner, menyatakan bahwa langkah penutupan gerai ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat profitabilitas dengan memfokuskan investasi pada lokasi yang lebih menguntungkan dan pasar dengan pertumbuhan tinggi. “Kami mengambil keputusan sulit namun perlu untuk menyesuaikan kapasitas dengan realitas permintaan konsumen saat ini,” ujarnya.

Sumber internal menyebutkan sekitar 300–400 gerai akan ditutup secara bertahap dalam 12 hingga 18 bulan mendatang, dengan sebagian besar berada di wilayah dengan performa penjualan rendah atau biaya sewa yang tinggi. Namun, perusahaan juga berencana membuka gerai baru di lokasi strategis yang lebih efisien dan mendukung layanan digital seperti mobile ordering dan drive-thru automation.

Analis dari CNBC mencatat bahwa langkah Wendy’s ini mencerminkan pola serupa dengan yang dilakukan oleh pesaing seperti McDonald’s dan Burger King, yang kini lebih fokus pada efisiensi, digitalisasi, dan loyalitas pelanggan dibandingkan sekadar ekspansi agresif. Namun berbeda dengan McDonald’s yang masih mencatat pertumbuhan moderat, Wendy’s menghadapi tekanan lebih besar karena proporsi konsumennya lebih sensitif terhadap harga.

Menurut laporan Reuters, pengeluaran makan di restoran cepat saji di AS turun 3,2% dalam tiga bulan terakhir, terutama di segmen pelanggan berpenghasilan menengah ke bawah. Banyak konsumen yang beralih memasak di rumah atau mencari alternatif yang lebih murah. “Saya dulu makan di Wendy’s tiga kali seminggu, sekarang mungkin sekali sebulan,” ujar salah satu pelanggan dalam wawancara dengan Bloomberg.

Langkah efisiensi Wendy’s juga berkaitan dengan investasi besar-besaran pada teknologi layanan. Perusahaan telah memperkenalkan sistem AI drive-thru di lebih dari 400 lokasi dan akan memperluasnya ke pasar utama pada 2025. Menurut Tanner, otomatisasi dapat memangkas waktu pelayanan dan biaya tenaga kerja hingga 15%, sekaligus meningkatkan akurasi pesanan.

Meski penutupan gerai bisa berdampak jangka pendek pada pendapatan, banyak analis melihat langkah ini sebagai restrukturisasi yang sehat. “Wendy’s tengah melakukan konsolidasi portofolio untuk menjaga profitabilitas jangka panjang,” kata Sara Senatore, analis restoran di Bank of America Securities. “Dalam industri yang sangat kompetitif, skala tidak lagi menjadi segalanya—efisiensi dan loyalitas pelanggan justru yang paling penting.”

Saham Wendy’s naik tipis 1,3% setelah pengumuman tersebut, menunjukkan bahwa pasar menilai langkah efisiensi ini sebagai strategi realistis di tengah tekanan ekonomi yang masih tinggi. Dengan pendekatan baru yang berfokus pada optimalisasi lokasi, digitalisasi, dan inovasi menu, Wendy’s berharap dapat bertahan menghadapi perubahan lanskap konsumsi global yang semakin selektif dan berorientasi nilai.