(Business Lounge – Global News) Saham Brunello Cucinelli, label mode mewah asal Italia yang terkenal dengan desain kasmir berkualitas tinggi, terus mengalami tekanan setelah sebuah firma short-seller menuding perusahaan memiliki keterkaitan finansial dengan Rusia. Tuduhan tersebut memicu kekhawatiran investor dan mendorong penurunan harga saham secara beruntun, menurut laporan Bloomberg dan Financial Times.
Firma analis Bernstein menyebut bahwa Brunello Cucinelli harus segera melakukan langkah pembatasan kerusakan atau damage limitation untuk melindungi reputasi dan kepercayaan investor maupun pelanggan. Laporan ini menambahkan tekanan pada perusahaan yang selama ini dipandang sebagai salah satu merek fesyen paling konsisten dalam menjaga citra eksklusif dan etisnya.
Wall Street Journal menyoroti bahwa isu ini muncul di saat industri fesyen global tengah berada di bawah sorotan ketat terkait etika rantai pasok, transparansi keuangan, dan hubungan bisnis dengan negara-negara yang sedang menghadapi sanksi internasional. Tuduhan mengenai hubungan dengan Rusia dianggap sensitif, mengingat negara tersebut masih menghadapi embargo ekonomi dari Uni Eropa dan Amerika Serikat akibat konflik geopolitik yang berkepanjangan.
Brunello Cucinelli sendiri menolak tuduhan yang dilontarkan short-seller tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dikutip Reuters, perusahaan menyatakan bahwa semua operasinya sepenuhnya sesuai dengan regulasi internasional dan mereka telah mematuhi semua kebijakan terkait perdagangan dengan Rusia. Namun bantahan tersebut sejauh ini belum cukup menghentikan tekanan di pasar saham.
Investor tampak ragu-ragu, terutama karena isu reputasi dalam industri fesyen mewah memiliki dampak yang signifikan terhadap valuasi perusahaan. Financial Times mencatat bahwa saham Cucinelli telah kehilangan lebih dari 10% nilai pasar sejak laporan short-seller tersebut beredar. Para analis menilai langkah perusahaan untuk memperkuat transparansi, termasuk kemungkinan audit independen, bisa membantu meredakan kekhawatiran.
Kasus ini juga mencerminkan dinamika yang lebih luas di sektor mode mewah, di mana reputasi dan persepsi publik sering kali sama pentingnya dengan kinerja finansial. Konsumen kelas atas cenderung peka terhadap isu etika dan keberlanjutan. Oleh karena itu, sebuah rumor atau tuduhan bisa dengan cepat mempengaruhi permintaan.
Menurut laporan Reuters, sejumlah investor institusional telah mulai meninjau ulang eksposur mereka terhadap saham Brunello Cucinelli. Beberapa manajer aset mengindikasikan bahwa meskipun kinerja keuangan perusahaan masih kuat, risiko reputasi bisa menekan valuasi jangka panjang jika tidak segera diatasi.
Bernstein menekankan bahwa “kerusakan nama baik” merupakan risiko non-finansial yang bisa bertransformasi menjadi risiko finansial nyata, terutama jika publikasi negatif terus berlanjut. Untuk itu, langkah komunikasi strategis yang transparan dan proaktif dinilai sangat penting.
Selain itu, para analis juga membandingkan kasus ini dengan situasi serupa yang menimpa sejumlah merek lain di masa lalu. Wall Street Journal menyinggung pengalaman Burberry dan H&M, yang pernah menghadapi boikot konsumen akibat isu politik dan keberlanjutan. Dalam banyak kasus, butuh waktu bertahun-tahun bagi sebuah merek untuk sepenuhnya pulih dari kerusakan reputasi.
Sementara itu, kinerja operasional Brunello Cucinelli sebelum tuduhan ini muncul sebenarnya cukup positif. Perusahaan melaporkan pertumbuhan penjualan dua digit di pasar Amerika Utara dan Asia pada semester pertama tahun ini, didorong oleh permintaan kuat untuk koleksi pakaian musim panas dan aksesoris. Namun, pasar kini lebih fokus pada isu reputasi ketimbang fundamental bisnis.
Bloomberg Intelligence menilai bahwa salah satu opsi strategis bagi Cucinelli adalah mempercepat ekspansi di wilayah yang tidak terdampak isu geopolitik, seperti Asia Tenggara dan Timur Tengah. Diversifikasi pasar dapat membantu mengurangi ketergantungan pada Eropa, yang paling sensitif terhadap isu Rusia.
Namun, jika isu ini terus berkembang, ada kemungkinan pelanggan kelas atas juga ikut menunda pembelian. Dalam industri di mana loyalitas pelanggan dan kepercayaan merek menjadi aset utama, bahkan sedikit keraguan dapat berpengaruh besar pada penjualan.
Pihak manajemen Brunello Cucinelli menegaskan bahwa mereka akan mengambil langkah hukum jika diperlukan untuk melindungi reputasi perusahaan. Meski demikian, analis yang dikutip Financial Times mengingatkan bahwa proses hukum bisa memakan waktu lama dan belum tentu menghapus persepsi negatif dalam jangka pendek.
Sementara itu, beberapa investor melihat peluang dalam penurunan harga saham ini. Mereka menilai bahwa tuduhan short-seller sering kali dilebih-lebihkan untuk mendorong kepentingan perdagangan tertentu. Jika perusahaan mampu membuktikan transparansi dan ketaatan pada regulasi, harga saham bisa pulih cepat.
Pasar fesyen mewah secara keseluruhan sedang menghadapi periode volatilitas. Laporan Reuters menunjukkan bahwa pertumbuhan di Tiongkok, pasar terbesar untuk barang mewah, mulai melambat akibat ketidakpastian ekonomi domestik. Hal ini menambah tekanan bagi perusahaan-perusahaan seperti Brunello Cucinelli yang bergantung pada konsumen global.

