Gen Z Terpinggirkan di Sektor Teknologi: AI dan Efisiensi Jadi Faktor Utama

(Business Lounge Journal – Human Resources)

Generasi Z menghadapi tantangan besar untuk masuk ke industri teknologi. Data terbaru dari platform kompensasi Pave menunjukkan penurunan drastis jumlah pekerja muda di perusahaan teknologi besar dalam dua setengah tahun terakhir.

Pada Januari 2023, karyawan berusia 21–25 tahun masih mencakup 15% tenaga kerja di perusahaan teknologi publik. Namun, pada Juli 2025 angkanya anjlok ke hanya 6,7%. Tren serupa terjadi di perusahaan teknologi swasta, meski tidak sedramatis: turun dari 9,3% menjadi 6,7% pada periode yang sama.

AI Menggeser Pintu Masuk Karier

Matt Schulman, CEO Pave sekaligus mantan insinyur perangkat lunak di Facebook, menilai tren ini menyoroti kesulitan lulusan baru. “AI mengganggu banyak peran level pemula yang selama ini menjadi pintu masuk bagi fresh graduate ke sektor teknologi,” tulisnya di LinkedIn.

Studi Stanford University turut memperkuat temuan ini. Berdasarkan data gaji jutaan pekerja, pekerjaan yang paling terpapar AI — seperti software engineering dan layanan pelanggan — mengalami penurunan lapangan kerja sebesar 13% bagi pekerja usia 22–25 tahun sejak akhir 2022. Sebaliknya, pekerja lebih senior di posisi sama justru bertahan atau bahkan mendapatkan keuntungan.

Seiring keluarnya pekerja muda, rata-rata usia tenaga kerja teknologi meningkat tajam. Di perusahaan publik, usia rata-rata naik dari 34,3 tahun pada Januari 2023 menjadi 39,4 tahun pada Juli 2025. Di perusahaan swasta, dari 35,1 tahun menjadi 36,6 tahun.

Hal ini menimbulkan pertanyaan strategis: apakah pergeseran menuju tenaga kerja lebih senior hanya bersifat sementara akibat tekanan ekonomi, atau justru menandai perubahan permanen dalam cara perusahaan teknologi membangun tim?

Nilai Gelar Perguruan Tinggi Menurun

Kekhawatiran Gen Z semakin diperkuat oleh temuan lembaga keuangan besar. Goldman Sachs menghitung nilai ekonomis gelar perguruan tinggi semakin menurun, sementara riset Bank of America Global menunjukkan tingkat pengangguran lulusan baru kini untuk pertama kalinya lebih tinggi dibanding tingkat pengangguran nasional.

Bahkan, 15% lulusan Harvard Business School tahun 2024 belum mendapatkan tawaran kerja tiga bulan setelah lulus, melonjak dari hanya 4% pada 2021. Menurut Schulman, tren ini mencerminkan strategi perusahaan yang lebih memilih karyawan berpengalaman di tengah kondisi ekonomi tidak menentu dan fokus pada “pertumbuhan efisien.”

Pave mengolah data dari sekitar 8.200 perusahaan dengan informasi demografis usia karyawan. Dengan basis data ini, tren jelas terlihat: generasi muda kian kesulitan mendapat pijakan di sektor teknologi, sementara perusahaan cenderung mengutamakan stabilitas dan produktivitas jangka pendek dibanding memberi ruang bagi talenta baru.

Kalau kita tarik ke Indonesia, situasinya terasa cukup nyata di keseharian banyak Gen Z. Data BPS menunjukkan hampir 1 dari 4 anak muda usia 15–24 tahun tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak ikut pelatihan. Itu artinya ada sekitar 10 juta orang muda yang sedang berada di persimpangan, sulit melangkah ke dunia kerja formal.

Masalahnya, setiap tahun jumlah lulusan baru terus membengkak, tapi lowongan kerja formal tidak ikut tumbuh secepat itu. Pada 2016, dari hampir 6 juta lulusan baru, hanya sekitar 22 persen yang berhasil masuk kerja formal. Lima tahun kemudian, jumlah lulusan malah naik jadi lebih dari 7 juta, tapi yang dapat pekerjaan formal justru turun menjadi 13 persen saja. Jadi makin banyak yang mengantre di pintu kerja, sementara pintunya sendiri makin sempit.

Di sisi lain, sektor teknologi yang semula dianggap jalan keluar justru mengalami “tech winter.” Sejak 2022, puluhan startup melakukan pemutusan hubungan kerja. Total ada lebih dari 190 ribu pekerja teknologi kehilangan pekerjaan di level global, dan ribuan di antaranya berasal dari Indonesia. Efeknya terasa langsung pada anak muda yang baru lulus IT atau ilmu komputer—mereka masuk ke pasar yang sudah penuh sesak dengan tenaga kerja berpengalaman yang juga sedang mencari peluang baru.

Tekanan makin besar dengan hadirnya AI. Banyak perusahaan menghemat biaya dengan mengandalkan AI untuk pekerjaan level pemula, yang biasanya jadi pintu masuk fresh graduate. Bahkan survei menyebut 37 persen pengusaha di Indonesia lebih memilih menggunakan AI ketimbang merekrut Gen Z. Ironisnya, Gen Z sendiri adalah kelompok yang paling aktif memakai AI dalam bekerja: 85 persen di antara mereka sudah mencoba AI generatif untuk mempercepat tugas.

Kesenjangan keterampilan juga jadi tantangan. Indonesia butuh lebih dari 110 juta pekerja digital pada 2025, tapi hingga kini hanya 19 persen angkatan kerja yang benar-benar punya keterampilan digital memadai. Jadi peluang sebenarnya ada, hanya saja tidak banyak yang siap mengisinya.