Depresi? No…!

(Business Lounge – Healthy Wealthy) Pernahkah Anda mengalami suatu kesedihan yang mendalam? Yang mungkin membuat Anda menangis dengan sedihnya dan menoreh hati Anda dengan sangat pedih? Pada beberapa orang, bahkan tidak sanggup menahan rasa sedihnya hingga memilih jalan pintas dengan bunuh diri. Manusia memiliki perasaan yang dapat diketahui dengan diekspresikan keluar, disebut sebagai emosi. Tepatnya emosi adalah reaksi terhadap stimulus berupa kejadian atau terhadap seseorang. Berbagai perasaan bahagia dan senang, sedih, marah, jengkel, galau, bosan, dan sebagainya. Total ada 27 emosi yang dapat terjadi dalam hidup ini. Emosi ini bisa bersifat negatif ataupun positif.

Depresi Terkait Genetik

Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti dari Universitas Granada selama 3 tahun terakhir, di dalam diri manusia ada gen yang mampu mengatasi kondisi yang buruk. Jika seorang manusia memilik fungsi gen yang terbatas secara genetik maka orang tersebut beresiko akan merekam kejadian yang buruk dalam kehidupan, khususnya yang terjadi pada masa kanak-kanak sehingga membuat seseorang pada akhirnya menderita depresi. Gen ini terimplikasi dalam BDNF (brain-derived neurotrophic factor) dan serotonin.

Sebuah jurnal “Motivasi dan Emosi” di Belgia melakukan penelitian terhadap 233 siswa sekolah di Belgia. Para siswa rata-rata menuliskan berdasarkan pengalaman pribadi mereka bahwa jangka waktu yang diperlukan untuk mengatasi kesedihan adalah lebih lama dibandingkan perasaan yang lain. Memang perasaan sedih adalah perasaan yang seringkali tidak mudah diatasi dan biasanya tersimpan lebih lama di dalam hati kita. Kesedihan pasti akan ada tapi diperlukan kecerdasan untuk mengelola kesedihan.

Emotional Quotient (EQ)

Kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan manusia untuk menerima, menilai, dan mengelola emosinya. Hari yang kita lalui sepanjang tahun kehidupan kita harus kita cermati agar jangan merusak diri kita sendiri ataupun orang lain yang kita sayangi. Itu sebabnya penting membangun hari-hari yang bahagia dalam kehidupan  sejak masa kecil. Anak yang terbiasa gembira dalam hari-harinya akan lebih “tough” saat menghadapi masalah dan biasanya mereka adalah anak yang cerdas. Cerdas bukan hanya dalam arti kognitif tapi juga dalam mengelola emosinya. Orang yang selalu gembira juga cenderung selalu membagikan kegembiraan untuk orang lain.

Kejadian-kejadian pada masa kanak-kanak yang buruk dapat tersimpan hingga dewasa. Kejadian buruk itu dapat saja berupa hal yang bersifat psikologis, seksual, dan fisik. Kejadian buruk itu akan bercampur dengan kurangnya fungsi gen terkait sehingga meningkatkan resiko terjadinya depresi. Karena masa kecil sangat berarti untuk pertumbuhan kecerdasan emosional, itu sebabnya penting bagi orang tua untuk tidak bertengkar di depan anak, tidak membawa anak kepada tekanan fisik ataupun mental yang berlebihan yang membuat anak tumbuh menjadi anak yang depresi. Orang tua tentu harus mendidik anak namun harus berimbang dengan menunjukkan kasih sayang sehingga didikan dapat dimengerti dengan baik dan tidak menimbulkan sakit hati atau kepedihan dalam hati anak yang akan terus membekas hingga ia dewasa. Penting juga untuk menjauhkan anak dari pergaulan negatif yang merusak agar anak tidak hancur di kemudian hari.

Mari kita lahirkan generasi masa depan yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat.

Vera Herlina/VMN/BL/CEO of Management Soft Skill Academies Vibiz Consulting Group
Editor: Ruth Berliana

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x