(Business Lounge Journal – Interview Session)
Dalam beberapa tahun terakhir, ekosistem startup global—termasuk Indonesia—mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya perusahaan rintisan dapat berkembang dengan relatif mudah berkat aliran modal yang melimpah, kini situasinya mulai bergeser. Investor semakin menuntut disiplin finansial yang lebih kuat serta model bisnis yang benar-benar berkelanjutan.
Hal ini disampaikan oleh Pradita Astarina, Venture Partner di Strategic Year Holdings Limited, dalam sebuah wawancara singkat mengenai arah baru investasi startup. Menurut Pradita, ekosistem startup saat ini sedang bergerak dari fase “capital abundance” atau kelimpahan modal menuju “capital discipline”. Artinya, perusahaan rintisan tidak lagi bisa hanya mengandalkan narasi pertumbuhan agresif untuk menarik investor. “Para pendiri startup sekarang benar-benar harus melihat kembali model bisnis mereka dan memastikan apakah perusahaan dapat mencapai profitabilitas,” jelasnya.
Tidak Lagi Sekadar Mengejar Pertumbuhan
Selama satu dekade terakhir, banyak startup tumbuh dengan strategi “growth at all costs”. Fokus utama adalah memperbesar basis pengguna, memperluas pasar, serta menunjukkan potensi pertumbuhan yang eksponensial. Istilah seperti 10x growth sering menjadi daya tarik utama dalam pitch kepada investor.
Namun situasi tersebut mulai berubah.
Menurut Pradita, investor kini tidak lagi hanya melihat angka pertumbuhan atau metrik seperti Gross Merchandise Value (GMV) semata. Yang menjadi perhatian utama adalah kemampuan perusahaan untuk mencapai EBITDA positif. Konsep ini penting karena menunjukkan apakah sebuah bisnis mampu menghasilkan keuntungan operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Dengan kata lain, indikator tersebut menjadi ukuran awal apakah model bisnis perusahaan dapat bertahan secara mandiri. “Startup harus bisa mencapai setidaknya EBITDA positif sehingga mereka dapat bertahan tanpa harus terus-menerus menggalang putaran pendanaan berikutnya,” ujarnya.
Perubahan ini mencerminkan realitas baru di dunia venture capital. Dengan kondisi ekonomi global yang lebih menantang dan investor yang lebih selektif, perusahaan rintisan dituntut untuk membangun fondasi bisnis yang lebih sehat, bukan sekadar mengejar valuasi tinggi.
Peran Kebijakan dalam Menarik Investor
Selain faktor internal perusahaan, Pradita juga menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif. Menurutnya, pemerintah Indonesia perlu terus membuka diri terhadap investor asing. Salah satu langkah penting yang telah dilakukan adalah melalui reformasi regulasi dalam kerangka Omnibus Law atau Undang-Undang Cipta Kerja.
Salah satu perubahan mendasar dari regulasi ini adalah peralihan dari negative investment list menjadi positive investment list.
Sebelumnya, Indonesia menggunakan sistem daftar negatif investasi yang secara eksplisit mencantumkan sektor-sektor yang tertutup atau dibatasi bagi investor asing. Pendekatan ini sering dianggap membatasi ruang masuknya modal internasional. Melalui sistem daftar positif, pemerintah justru menyoroti sektor-sektor yang ingin didorong untuk menerima lebih banyak investasi asing. “Alih-alih memberikan daftar larangan kepada investor asing, sekarang pemerintah membuka diri terhadap pasar global,” jelas Pradita.
Sektor Digital Masih Menarik
Dalam daftar sektor prioritas tersebut, beberapa bidang yang menjadi fokus antara lain:
- e-commerce
- sektor digital
- layanan kesehatan
- berbagai industri berbasis teknologi
Sektor-sektor ini dinilai memiliki potensi pertumbuhan tinggi sekaligus relevan dengan agenda transformasi ekonomi Indonesia.
Bagi investor global, pendekatan kebijakan seperti ini memberikan sinyal positif. Regulasi yang lebih terbuka tidak hanya mempermudah masuknya modal, tetapi juga membantu membangun ekosistem bisnis yang lebih kompetitif dan inovatif.
Ekosistem yang Lebih Matang
Perubahan menuju disiplin modal sebenarnya dapat menjadi tanda bahwa ekosistem startup Indonesia sedang memasuki fase yang lebih matang. Jika sebelumnya pertumbuhan sering kali didorong oleh ekspansi agresif yang dibiayai oleh modal ventura, kini perusahaan rintisan dituntut untuk menunjukkan ketahanan bisnis yang lebih nyata.
Bagi para pendiri startup, pesan dari investor seperti Pradita cukup jelas: pertumbuhan tetap penting, tetapi keberlanjutan bisnis jauh lebih penting. Dalam lanskap investasi yang semakin selektif, perusahaan yang mampu menyeimbangkan inovasi, pertumbuhan, dan profitabilitas kemungkinan besar akan menjadi pemain yang bertahan dalam jangka panjang.

