(Business Lounge Journal – Tech)
Ambisi Tesla untuk memperluas dominasi jaringan pengisian kendaraan listrik (EV) di Jepang kini mendapat dorongan dari pemain lokal. Dua raksasa otomotif Negeri Sakura, melalui afiliasi dan kemitraan strategis, mulai mengadopsi standar pengisian daya milik Tesla demi efisiensi biaya dan peningkatan kenyamanan konsumen.
Di Indonesia untuk menyebut fasilitas umum tempat pengisian daya baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), seperti mobil listrik dan motor listrik dinamakan SPKLU.
Biasanya SPKLU:
-
Berlokasi di rest area tol, pusat perbelanjaan, perkantoran, atau SPBU tertentu
-
Dilengkapi charger cepat (fast charging) maupun pengisian standar
-
Dioperasikan oleh PLN atau mitra swasta
Langkah ini menandai perubahan penting dalam lanskap industri EV Jepang. Selama bertahun-tahun, Jepang mengandalkan standar pengisian daya CHAdeMO yang dikembangkan perusahaan-perusahaan domestik. Namun, dengan semakin luasnya adopsi standar North American Charging Standard (NACS) milik Tesla secara global, tekanan untuk beralih pun makin besar.
Afiliasi Honda serta Mazda dilaporkan mulai mengintegrasikan standar Tesla ke dalam strategi pengembangan kendaraan listrik mereka. Keputusan ini didorong pertimbangan pragmatis: biaya infrastruktur yang lebih efisien, akses ke jaringan pengisian yang lebih luas, serta pengalaman pengguna yang lebih sederhana.
Tesla sendiri telah lama menginvestasikan dana besar dalam membangun jaringan Supercharger yang andal dan cepat. Di Jepang, kehadiran jaringan ini semakin penting seiring pertumbuhan pasar EV yang mulai menunjukkan percepatan, meski masih tertinggal dibanding China dan Eropa.
Dengan mengadopsi standar Tesla, produsen lokal dapat menghemat biaya riset dan pengembangan untuk teknologi konektor sendiri. Selain itu, konsumen tidak lagi direpotkan oleh berbagai jenis colokan atau keterbatasan stasiun pengisian. Standardisasi dinilai menjadi kunci untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik secara massal.
Langkah ini juga mencerminkan realitas baru dalam industri otomotif global: kolaborasi lintas perusahaan, bahkan dengan pesaing, menjadi strategi penting untuk bertahan dalam era elektrifikasi. Tesla, yang sebelumnya dianggap “pendatang luar”, kini justru menjadi penentu standar teknologi.
Bagi Honda dan Mazda, keputusan ini bisa memperkuat daya saing produk EV mereka, baik di pasar domestik maupun ekspor. Konsumen global kini semakin mempertimbangkan kemudahan pengisian daya sebagai faktor utama sebelum membeli kendaraan listrik.
Meski demikian, adopsi standar Tesla di Jepang tetap menghadapi tantangan. Pemerintah dan pelaku industri sebelumnya telah banyak berinvestasi dalam infrastruktur CHAdeMO. Transisi menuju standar baru memerlukan koordinasi kebijakan, investasi tambahan, serta waktu.
Namun arah perubahannya tampak jelas. Ketika efisiensi biaya, kenyamanan pengguna, dan interoperabilitas menjadi prioritas, mengikuti standar yang sudah terbukti secara global menjadi langkah rasional.
Jika tren ini berlanjut, Jepang — yang pernah menjadi pelopor standar pengisian EV — kini justru bisa menjadi pasar kunci dalam memperluas pengaruh teknologi Tesla di Asia. Dan bagi Tesla, dukungan pemain lokal membuka peluang baru untuk memperkuat posisinya dalam persaingan global kendaraan listrik yang semakin ketat.

