(Business Lounge – Global News) Lonjakan belanja pertahanan di Eropa mengalir deras ke neraca BAE Systems. Perusahaan pertahanan asal Inggris itu membukukan rekor penjualan pada 2025, dengan kenaikan sekitar 10% dibanding tahun sebelumnya. Katalisnya datang dari kontrak jumbo untuk jet tempur, kapal perang, dan kendaraan lapis baja yang dipesan pemerintah Eropa.
Menurut laporan Reuters, peningkatan ini terutama dipicu oleh pesanan tambahan untuk jet tempur Eurofighter Typhoon, frigat angkatan laut, serta kendaraan tempur darat. Negara-negara Eropa mempercepat modernisasi militer mereka, menyusul meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan dan dorongan memperkuat kemandirian pertahanan regional.
Gelombang persenjataan ini bukan fenomena sesaat. Financial Times mencatat bahwa banyak pemerintah Eropa kini berkomitmen menaikkan anggaran pertahanan ke level yang selama ini jarang terlihat sejak era pasca-Perang Dingin. Kontrak jangka panjang yang diteken dalam dua tahun terakhir mulai terefleksi penuh dalam pendapatan BAE pada 2025.
Pesanan Eurofighter menjadi sorotan. Program jet tempur yang melibatkan konsorsium Eropa itu kembali mendapat napas baru setelah beberapa negara memperpanjang atau menambah armadanya. Bagi BAE, yang memegang peran penting dalam produksi dan integrasi sistem, kontrak tersebut menjamin arus pendapatan bertahun-tahun. Bloomberg menyebut backlog atau daftar pesanan perusahaan kini berada di level historis, memberi visibilitas bisnis yang lebih terang.
Tak hanya udara, sektor maritim juga menyumbang kontribusi signifikan. Pesanan frigat dan kapal perang dari beberapa angkatan laut Eropa memperkuat lini galangan kapal BAE. Modernisasi armada laut dianggap krusial untuk menjaga keamanan jalur perdagangan dan memperkuat kehadiran di kawasan strategis.
Di darat, kendaraan tempur lapis baja ikut menopang penjualan. Negara-negara Baltik, Eropa Tengah, dan Skandinavia mempercepat pembelian sistem pertahanan darat untuk memperkuat garis pertahanan mereka. Reuters menulis bahwa kontrak kendaraan tempur dan sistem artileri meningkat tajam dibanding lima tahun lalu.
Kinerja impresif ini datang di tengah perubahan lanskap industri pertahanan global. Selama bertahun-tahun, perusahaan pertahanan Eropa kerap menghadapi tekanan anggaran dan perdebatan politik. Kini situasinya berbalik. Keamanan kembali menjadi prioritas utama. Financial Times menilai momentum ini memberi ruang bagi perusahaan seperti BAE untuk memperluas kapasitas produksi dan investasi teknologi.
Manajemen BAE menekankan bahwa pertumbuhan tidak hanya berasal dari volume, tetapi juga dari peningkatan nilai kontrak. Sistem persenjataan generasi baru, radar canggih, serta solusi pertahanan siber memiliki harga lebih tinggi dan margin yang lebih tebal. Transformasi teknologi militer—mulai dari drone hingga sistem komando berbasis data—mendorong kontrak bernilai besar.
Namun ekspansi pesat membawa tantangan tersendiri. Rantai pasok global masih menghadapi tekanan, terutama untuk komponen elektronik dan bahan baku khusus. BAE perlu memastikan kapasitas produksi mampu mengejar lonjakan permintaan tanpa menggerus profitabilitas. Bloomberg mencatat bahwa beberapa perusahaan pertahanan meningkatkan investasi pada fasilitas manufaktur dan perekrutan tenaga kerja terampil.
Investor merespons positif rekor penjualan ini. Saham perusahaan pertahanan Eropa dalam beberapa tahun terakhir mencatat performa kuat, seiring meningkatnya anggaran militer. BAE sering disebut sebagai salah satu penerima manfaat terbesar dari tren tersebut.
Meski demikian, industri pertahanan tetap berada dalam sorotan etis dan politik. Kenaikan belanja militer memicu perdebatan publik tentang prioritas anggaran. BAE menegaskan bahwa perannya adalah menyediakan sistem pertahanan bagi negara-negara yang ingin menjaga keamanan nasional mereka.
Prospek jangka menengah terlihat cerah. Dengan backlog besar dan kontrak jangka panjang, arus pendapatan BAE relatif terlindungi dari fluktuasi ekonomi jangka pendek. Selama komitmen belanja pertahanan Eropa bertahan, perusahaan berada di posisi strategis.
Rekor penjualan 2025 menjadi simbol perubahan iklim geopolitik Eropa. Industri pertahanan yang dulu berjalan datar kini kembali ke pusat panggung. Bagi BAE Systems, momentum ini bukan sekadar angka pertumbuhan dua digit, melainkan fase ekspansi yang bisa membentuk arah bisnisnya untuk satu dekade mendatang.

