(Business Lounge – Global News) Perusahaan teknologi Asia Tenggara, Grab, memasuki babak baru dalam perjalanannya sebagai perusahaan publik. Setelah bertahun-tahun membakar uang demi ekspansi, perusahaan ride-hailing dan layanan pesan-antar itu akhirnya mencatat laba penuh pertama sejak melantai di bursa pada 2021. Tak berhenti di situ, manajemen kini bersiap menjalankan program pembelian kembali saham senilai 500 juta dolar AS.
Dalam pernyataan yang dikutip Reuters, Chief Financial Officer Grab mengatakan program buyback tersebut diharapkan segera dimulai. Langkah ini menandai perubahan nada yang cukup tajam: dari fokus agresif pada pertumbuhan pengguna dan subsidi, menjadi penekanan pada efisiensi dan imbal hasil bagi pemegang saham.
Sejak merger dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus pada 2021 dan tercatat di Nasdaq, Grab menghadapi tekanan berat. Harga saham sempat terperosok jauh dari level awal karena investor mulai mempertanyakan jalur menuju profitabilitas. Lingkungan suku bunga tinggi membuat pasar tak lagi ramah terhadap perusahaan teknologi yang terus merugi. Dalam lanskap itu, kemampuan mencetak laba penuh menjadi titik balik psikologis.
Menurut laporan Bloomberg, laba penuh tersebut didorong oleh perbaikan margin di bisnis pengantaran makanan dan mobilitas, serta disiplin biaya yang lebih ketat. Grab memangkas insentif berlebihan bagi pengemudi dan pelanggan, merapikan struktur organisasi, dan memaksimalkan monetisasi layanan keuangan digitalnya.
Buyback senilai 500 juta dolar bukan angka kecil. Program itu memberi sinyal bahwa manajemen menilai harga saham saat ini belum mencerminkan nilai intrinsik perusahaan. Selain itu, pembelian kembali saham berpotensi meningkatkan laba per saham dan memperkuat sentimen pasar. Bagi investor yang sempat kecewa, ini adalah pesan bahwa Grab mulai percaya diri dengan arus kasnya.
Dalam analisis CNBC, langkah tersebut juga menunjukkan kedewasaan model bisnis super app di Asia Tenggara. Grab tidak lagi sekadar memburu pertumbuhan pengguna mentah, melainkan berupaya mengoptimalkan ekosistemnya. Pengguna yang memesan ojek dapat ditawari layanan pesan-antar makanan, pembayaran digital, hingga pinjaman mikro dalam satu aplikasi. Sinergi lintas layanan inilah yang menjadi keunggulan kompetitif.
Persaingan tetap sengit. Di Indonesia, Grab berhadapan dengan GoTo yang juga tengah menata ulang strategi demi profit berkelanjutan. Di kawasan lain, pemain lokal dan regional terus berinovasi. Namun, konsolidasi industri dan berkurangnya perang diskon memberi ruang napas bagi para pemain besar untuk memperbaiki margin.
CFO Grab menegaskan bahwa buyback tidak akan mengganggu rencana investasi jangka panjang. Perusahaan masih melihat peluang ekspansi di layanan keuangan digital, termasuk pembayaran dan pembiayaan bagi pelaku usaha kecil. Asia Tenggara, dengan populasi muda dan penetrasi perbankan yang belum merata, dianggap lahan subur untuk pertumbuhan fintech.
Data yang dihimpun The Wall Street Journal menunjukkan bahwa investor global mulai kembali melirik perusahaan teknologi Asia setelah periode volatilitas panjang. Fokus kini bergeser pada profitabilitas nyata, bukan sekadar proyeksi pertumbuhan. Dalam konteks ini, laba penuh Grab menjadi kartu penting untuk membangun kembali kepercayaan pasar.
Perjalanan menuju titik ini tidak instan. Grab melakukan restrukturisasi, termasuk pengurangan karyawan dan pengetatan biaya pemasaran. Strategi tersebut sempat memicu kekhawatiran soal perlambatan pertumbuhan. Namun manajemen berpendapat bahwa pertumbuhan yang sehat harus disertai ekonomi unit yang kuat.
Buyback juga bisa dibaca sebagai bantalan terhadap volatilitas pasar. Dengan membeli sahamnya sendiri, Grab menciptakan permintaan tambahan di pasar terbuka. Langkah ini sering dimanfaatkan perusahaan publik untuk menstabilkan harga saham di tengah ketidakpastian global.
Bagi ekosistem startup Asia Tenggara, kisah Grab membawa makna simbolis. Ia menjadi salah satu perusahaan teknologi regional pertama yang berhasil membuktikan bahwa model super app dapat bertransformasi dari fase bakar uang menjadi fase menghasilkan laba. Tantangannya kini adalah menjaga momentum tersebut tanpa kehilangan daya saing.
Investor akan memantau dua hal: konsistensi laba dan disiplin alokasi modal. Jika buyback dijalankan bersamaan dengan kinerja operasional yang terus membaik, Grab bisa mengukuhkan reputasi sebagai pemain matang, bukan lagi startup eksperimental. Namun jika pertumbuhan melambat tajam atau margin kembali tertekan, pasar bisa bereaksi cepat.
Untuk saat ini, nada yang terdengar dari manajemen cenderung optimistis. Dengan neraca yang lebih rapi dan fokus pada efisiensi, Grab mencoba menata ulang citranya di mata investor global. Program pembelian kembali saham menjadi simbol transisi itu—dari mengejar skala ke mengejar kualitas laba.
Di tengah dinamika ekonomi kawasan dan perubahan selera investor, Grab memilih mengirim pesan sederhana: fase pembuktian belum usai, tetapi fondasinya sudah dibangun. Kini, tantangannya adalah menjaga ritme agar laba penuh pertama bukan sekadar pencapaian sesaat, melainkan awal dari babak pertumbuhan yang lebih matang.

