(Business Lounge – Global News) Starbucks kembali menemukan ritmenya. Setelah periode yang diwarnai tekanan biaya dan perubahan perilaku konsumen, jaringan kedai kopi terbesar di dunia itu melaporkan lonjakan penjualan yang menandai kembalinya pelanggan ke gerai. Manajemen menyebut strategi pemulihan mulai menunjukkan hasil nyata, walau bayang-bayang tarif impor dan investasi tenaga kerja masih menekan laba.
Kinerja penjualan yang menguat terlihat dari meningkatnya lalu lintas pengunjung dan nilai transaksi rata-rata. Pelanggan kembali memesan minuman khas, makanan pendamping, serta memanfaatkan program loyalitas. The Wall Street Journal mencatat bahwa kombinasi inovasi menu dan pengalaman gerai yang diperbarui membantu Starbucks memulihkan minat konsumen yang sempat menurun.
Pemulihan ini tidak datang tiba-tiba. Starbucks melakukan serangkaian penyesuaian, mulai dari penyederhanaan operasional hingga peluncuran produk musiman yang lebih relevan dengan selera lokal. Menu yang lebih fokus mempercepat layanan, mengurangi antrean, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Bloomberg menyoroti bahwa kecepatan layanan menjadi faktor penting dalam menarik kembali pelanggan di jam sibuk pagi hari.
Di Amerika Serikat, pasar utama Starbucks, program loyalitas kembali menjadi mesin pertumbuhan. Aplikasi digital mendorong pemesanan berulang dan pembelian impulsif. Diskon personal dan penawaran berbasis data memperkuat keterikatan pelanggan. CNBC menilai pendekatan berbasis teknologi ini membantu Starbucks bertahan di tengah persaingan ketat dengan kedai independen dan jaringan cepat saji.
Namun, kenaikan penjualan tidak otomatis berbanding lurus dengan lonjakan laba. Starbucks menghadapi tekanan biaya dari berbagai sisi. Investasi tenaga kerja meningkat seiring upaya perusahaan memperbaiki kondisi kerja barista dan mengurangi tingkat pergantian karyawan. Gaji yang lebih kompetitif dan jam kerja yang lebih stabil dipandang penting untuk menjaga kualitas layanan. Financial Times menulis bahwa strategi ini bersifat defensif sekaligus ofensif, melindungi operasional sambil memperkuat merek sebagai pemberi kerja yang lebih baik.
Tarif impor juga menjadi faktor yang menggerus margin. Bahan baku tertentu dan peralatan gerai terpapar kebijakan perdagangan yang lebih ketat. Walau kopi sebagai komoditas utama bersumber dari berbagai negara, rantai pasok Starbucks tetap merasakan efek kenaikan biaya. Reuters melaporkan bahwa manajemen memperhitungkan dampak tarif ini dalam proyeksi keuangan, tanpa menyebut rencana kenaikan harga agresif dalam waktu dekat.
Di pasar internasional, hasilnya beragam. Beberapa wilayah menunjukkan pemulihan solid, sementara lainnya masih tertahan oleh ketidakpastian ekonomi dan perubahan kebiasaan konsumsi. China, pasar penting bagi ekspansi jangka panjang, masih menjadi tantangan. Persaingan lokal yang semakin kuat dan sensitivitas harga menuntut pendekatan berbeda. The Economist mencatat bahwa Starbucks kini lebih fleksibel dalam menyesuaikan format gerai dan penawaran menu di luar Amerika Utara.
Investor menyambut laporan penjualan dengan optimisme hati-hati. Saham Starbucks bergerak positif, mencerminkan keyakinan bahwa strategi pemulihan berada di jalur yang benar. Namun pasar juga mencermati tekanan margin yang berpotensi berlanjut. Barron’s menilai bahwa kunci berikutnya adalah kemampuan Starbucks menyeimbangkan pertumbuhan penjualan dengan disiplin biaya.
Dari perspektif merek, kembalinya pelanggan memiliki arti strategis. Starbucks bukan sekadar menjual kopi, tetapi pengalaman. Ketika konsumen kembali duduk di gerai atau memesan lewat aplikasi, itu menandakan merek kembali relevan dalam rutinitas harian. The New York Times melihat pemulihan ini sebagai bukti bahwa konsumsi berbasis pengalaman tetap memiliki daya tarik, bahkan di tengah tekanan ekonomi.
Tantangan berikutnya terletak pada konsistensi. Tren kunjungan perlu dijaga tanpa mengorbankan kualitas atau profitabilitas. Starbucks berupaya memanfaatkan skala globalnya untuk menekan biaya dan menyebarkan inovasi dengan cepat. Investasi pada pelatihan barista dan teknologi operasional diposisikan sebagai fondasi pertumbuhan yang lebih stabil.
Lonjakan penjualan memberi napas segar bagi Starbucks setelah periode sulit. Pelanggan kembali, gerai kembali ramai, dan narasi pemulihan mendapat pembenaran. Namun perjalanan belum sepenuhnya mulus. Tekanan biaya dari tarif dan tenaga kerja menuntut eksekusi yang rapi. Bagi Starbucks, tantangannya bukan lagi menarik pelanggan datang, melainkan memastikan setiap cangkir kopi tetap menguntungkan di tengah dinamika ekonomi global.

