(Business Lounge – Global News) Nokia mencatat lonjakan penjualan yang signifikan seiring meningkatnya permintaan dari pelanggan kecerdasan buatan dan pusat data. Perusahaan teknologi asal Finlandia ini melaporkan pertumbuhan tajam pada bisnis infrastruktur jaringan, mencerminkan pergeseran besar dalam pola belanja industri teknologi global yang kini semakin bertumpu pada komputasi berdaya tinggi dan konektivitas berkecepatan tinggi.
Dalam laporan terbarunya, Nokia menyebut permintaan dari pelanggan AI dan operator pusat data menjadi pendorong utama kenaikan penjualan. Lonjakan ini terutama berasal dari peningkatan kebutuhan akan peralatan jaringan yang mampu menangani lalu lintas data dalam jumlah besar, seiring berkembangnya aplikasi kecerdasan buatan, komputasi awan, dan pemrosesan data skala besar. Menurut Reuters, permintaan tersebut melonjak seiring perusahaan teknologi global memperluas kapasitas pusat data mereka untuk mendukung model AI generatif dan layanan digital berbasis cloud.
Kinerja ini menjadi titik balik penting bagi Nokia, yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan akibat melambatnya belanja operator telekomunikasi tradisional. Kini, fokus perusahaan terhadap infrastruktur jaringan untuk pusat data dan AI mulai menunjukkan hasil nyata. Penjualan peralatan jaringan inti, sistem transmisi optik, serta teknologi berkecepatan tinggi meningkat tajam dibandingkan periode sebelumnya.
Manajemen Nokia menjelaskan bahwa lonjakan permintaan datang terutama dari perusahaan teknologi besar dan penyedia layanan cloud yang tengah mempercepat investasi infrastruktur. Pusat data membutuhkan jaringan dengan kapasitas besar, latensi rendah, dan keandalan tinggi untuk mendukung beban kerja AI yang semakin kompleks. Menurut Bloomberg, tren ini telah mengubah peta permintaan industri jaringan, di mana belanja kini lebih banyak didorong oleh kebutuhan komputasi daripada ekspansi jaringan seluler konvensional.
Pertumbuhan ini juga mencerminkan perubahan struktural dalam industri teknologi global. Jika sebelumnya pengembangan jaringan didorong oleh perluasan 4G dan 5G, kini pusat data dan AI menjadi motor utama pertumbuhan. Aplikasi seperti pemrosesan bahasa alami, analisis data besar, dan layanan cloud generasi baru membutuhkan infrastruktur jaringan yang jauh lebih canggih. Nokia berada dalam posisi strategis karena telah berinvestasi selama bertahun-tahun pada teknologi jaringan inti dan optik.
Meski demikian, perusahaan tetap berhati-hati dalam memandang prospek jangka pendek. Permintaan dari operator telekomunikasi tradisional masih relatif lemah, seiring tekanan belanja modal dan persaingan ketat di industri. Namun, lonjakan dari segmen AI dan pusat data dinilai cukup kuat untuk mengimbangi perlambatan tersebut. Seperti dicatat Financial Times, Nokia kini semakin bergantung pada pelanggan non-operator untuk mendorong pertumbuhan jangka menengah.
Dari sisi keuangan, peningkatan penjualan ini memberikan dorongan positif terhadap pendapatan, meski tekanan biaya dan persaingan harga tetap menjadi tantangan. Nokia menyebut bahwa efisiensi operasional dan fokus pada produk bernilai tambah tinggi membantu menjaga profitabilitas. Selain itu, kontrak jangka panjang dengan pelanggan pusat data memberikan visibilitas pendapatan yang lebih baik dibandingkan bisnis jaringan tradisional yang lebih fluktuatif.
Respons pasar terhadap laporan ini cenderung positif. Investor melihat lonjakan penjualan sebagai bukti bahwa strategi Nokia untuk mengalihkan fokus ke infrastruktur AI dan cloud mulai membuahkan hasil. Saham perusahaan menguat setelah laporan dirilis, mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap arah bisnis perusahaan. Beberapa analis menilai Nokia kini berada pada posisi yang lebih solid dibandingkan beberapa tahun lalu, ketika bisnis jaringan menghadapi tekanan berat akibat perlambatan belanja operator.
Namun, tantangan ke depan tetap besar. Persaingan di pasar infrastruktur jaringan semakin ketat, dengan pemain global lain juga berlomba menangkap peluang dari ledakan AI. Selain itu, siklus belanja teknologi dikenal fluktuatif, sehingga pertumbuhan yang kuat saat ini belum tentu bertahan tanpa gangguan. Meski demikian, permintaan jangka menengah diperkirakan tetap kuat seiring ekspansi pusat data global dan adopsi AI yang terus meluas.
Dalam konteks yang lebih luas, kinerja Nokia mencerminkan bagaimana kecerdasan buatan mengubah lanskap industri teknologi. Tidak hanya perusahaan perangkat lunak yang diuntungkan, tetapi juga penyedia infrastruktur fisik yang menjadi tulang punggung ekosistem digital. Seperti dicatat Reuters dan Bloomberg, perusahaan yang mampu menyediakan jaringan cepat, stabil, dan efisien akan menjadi pemenang utama dalam era AI.
Nokia berencana terus memperkuat portofolio produk jaringan dan memperluas kerja sama dengan pelanggan pusat data serta penyedia layanan cloud global. Fokus pada inovasi dan efisiensi tetap menjadi prioritas agar perusahaan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan. Dengan permintaan AI yang diperkirakan terus meningkat, Nokia melihat peluang besar untuk menjadikan bisnis infrastruktur jaringan sebagai pilar utama pertumbuhan jangka panjangnya.
Lonjakan penjualan yang didorong oleh pelanggan AI dan cloud menandai fase baru bagi Nokia. Setelah melewati periode penyesuaian yang panjang, perusahaan kini mulai memetik hasil dari transformasi strategisnya. Di tengah gelombang investasi kecerdasan buatan global, Nokia berhasil menempatkan diri sebagai salah satu pemain kunci yang menyediakan fondasi bagi ekonomi digital masa

