(Business Lounge Journal – News and Insight)
Konferensi di Davos masih menjadi pokok pemberitaan di banyak media. Dihadiri para pemimpin dunia dan membahas banyak permasalahan yang saat ini sedang terjadi. AI (Artificial Intelligence) menjadi salah satu topik pembicaraan. Namun, tahun ini AI hadir di Davos dengan wajah yang berbeda. Bukan sebagai mimpi futuristik atau janji revolusioner, melainkan sebagai tagihan listrik, izin pemerintah, dan laporan keuangan. AI datang bukan sebagai ide, tapi sebagai infrastruktur.
Dan menariknya, hampir tidak ada yang benar-benar membicarakan AI sebagai teknologi.
Dari Imajinasi ke Batasan Nyata
Secara visual, Davos tetap terasa seperti pameran teknologi: logo perusahaan teknologi di mana-mana, ruang pertemuan penuh diskusi “transformasi”, dan panel-panel serius yang nyaris tanpa jeda. Namun percakapan tentang AI tahun ini tidak lagi menyasar soal kecanggihan model atau janji science fiction.
Pembahasannya berulang kali kembali ke satu kata kunci: batasan. Mulai dari listrik, lahan, data, keamanan, regulasi, hingga tata kelola. Dan satu pertanyaan besar yang selalu mengikuti investasi bernilai triliunan dolar: siapa yang sebenarnya bisa tumbuh dan siapa yang akan tertinggal?
Di World Economic Forum, AI diperlakukan bukan sebagai produk digital, tetapi sebagai rantai pasok. Sesuatu yang langka, mahal, dan harus diatur. Davos menarik kembali diskusi AI ke bumi.
Hirarki Baru dalam Pembahasan AI
Selama forum Davos berlangsung, terlihat perubahan cara para pemimpin bisnis dan pembuat kebijakan membicarakan AI. Diskusinya membentuk urutan prioritas yang jelas, dari hal paling dasar hingga paling menentukan.
Lapisan pertama: Infrastruktur dasar
Yang paling mendasar dalam pengembangan AI adalah ketersediaan listrik, kapasitas jaringan, sistem pendinginan, dan pusat data. Di sinilah investasi modal besar diubah menjadi kemampuan komputasi. Tanpa infrastruktur ini, pengembangan dan penggunaan AI tidak bisa berjalan.
Lapisan kedua: Pengaturan akses dan penggunaan
Setelah infrastruktur tersedia, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang boleh menggunakan AI, untuk proses apa, dan dengan aturan apa. Ini mencakup pengelolaan data, izin akses, keamanan, kepatuhan hukum, serta sistem internal perusahaan. Pada tahap ini, AI tidak lagi menjadi alat bebas, tetapi harus mengikuti aturan organisasi dan regulasi.
Lapisan ketiga: Pembuktian hasil
Lapisan tertinggi adalah hasil bisnis yang nyata. Perusahaan dituntut menunjukkan return on investment (ROI), dampak yang terukur, dan kemampuan menghentikan proyek AI yang tidak memberikan nilai. Pada tahap ini, AI dinilai seperti investasi bisnis lain: harus lolos evaluasi keuangan dan kinerja.
Perubahan ini membuat persaingan AI bergeser. Fokusnya bukan lagi pada siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi siapa yang mampu mengatasi keterbatasan infrastruktur, mengelola akses secara efektif, dan membuktikan nilai bisnisnya.
Faktor Pembatas Utama: Listrik
Secara umum, AI sering dipersepsikan sebagai produk perangkat lunak. Namun dalam diskusi di Davos, menjadi jelas bahwa ketersediaan listrik adalah isu utama.
Elon Musk, dalam penampilan perdananya di Davos, menyoroti potensi energi surya di Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa secara teknis, sebagian kecil wilayah dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar, tetapi biaya meningkat akibat hambatan kebijakan dan tarif. Pesannya jelas: pengembangan AI pada akhirnya bergantung pada kebijakan energi.
CEO Amazon Andy Jassy menyampaikan hal yang sama dengan lebih langsung. Menurutnya, saat ini terjadi kekurangan pasokan listrik. Laboratorium AI mengonsumsi daya dalam jumlah sangat besar, sehingga Amazon memilih berinvestasi pada reaktor nuklir modular kecil. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengembangan AI mulai berbenturan dengan keterbatasan jaringan listrik, proses perizinan, dan waktu pembangunan infrastruktur.
Satya Nadella dari Microsoft menambahkan aspek legitimasi publik. Ia menyatakan bahwa perusahaan teknologi berisiko kehilangan dukungan masyarakat jika menggunakan sumber daya langka seperti energi tanpa menghasilkan manfaat nyata. Oleh karena itu, AI harus memberikan dampak konkret, seperti peningkatan layanan kesehatan, pendidikan, efisiensi sektor publik, atau daya saing bisnis.
Sementara itu, CEO Nvidia Jensen Huang menyebut AI sebagai pembangunan infrastruktur berskala sangat besar. Dengan pendekatan ini, AI diposisikan setara dengan proyek nasional: menciptakan lapangan kerja, berkontribusi pada ekonomi, dan menjadi bagian dari kapasitas strategis suatu negara. Namun, sebagai infrastruktur, AI juga akan diawasi dan diatur dengan ketat.
Jika listrik menjadi faktor pembatas utama, maka pertanyaan yang muncul menjadi sederhana dan praktis: siapa yang mendapatkan izin untuk membangun infrastruktur AI, dan siapa yang diperbolehkan menggunakannya.
Lapisan Kedua: Pengaturan Akses dan Penggunaan AI di Perusahaan
Ketika kapasitas listrik dan infrastruktur menjadi terbatas, akses terhadap AI menjadi hal yang sangat menentukan. Pada tahap ini, AI tidak lagi bisa digunakan secara bebas. Setiap penggunaan harus diatur, diawasi, dan disesuaikan dengan aturan perusahaan dan regulasi.
Di Davos, perusahaan penyedia solusi enterprise bersaing untuk menjadi lapisan pengendali penggunaan AI. Perusahaan yang menguasai sistem akses dan izin akan menentukan siapa yang boleh menggunakan AI, untuk fungsi apa, dan dengan tingkat risiko seperti apa.
Contohnya, Workday memposisikan diri sebagai sistem utama yang mengelola data SDM dan keuangan. Mereka sudah menangani proses perekrutan, penggajian, penilaian kinerja, serta izin akses karyawan. Dalam konteks ini, AI agent diperlakukan sebagai jenis pekerja baru. Perusahaan yang mengelola sistem ini otomatis mengatur akuntabilitas dan pengawasan AI.
Salesforce mengambil pendekatan berbeda dengan menempatkan tim teknis langsung di perusahaan klien besar. Tujuannya adalah memahami kebutuhan spesifik sebelum mengubahnya menjadi solusi yang dapat digunakan secara luas. Microsoft menekankan pentingnya pengaturan alur data agar berbagai sistem lama dapat terhubung tanpa perlu memindahkan seluruh data ke satu sistem baru. Sementara itu, Snowflake secara terbuka menyatakan tantangan utamanya adalah kecepatan—apakah mereka bisa beradaptasi sebelum perusahaan AI besar masuk ke wilayah pengelolaan data dan menggantikan pemain lama.
Begitu AI digunakan untuk hal-hal penting seperti penggajian, pemrosesan pesanan, kepatuhan hukum, atau pengelolaan data pelanggan, diskusinya tidak lagi soal teknologi. Fokusnya bergeser ke tata kelola, risiko, dan tanggung jawab. Pengaturan izin menjadi faktor utama, dan sistem pengendali penggunaan AI menjadi keunggulan kompetitif jangka panjang.
Pengaturan Akses dalam Skala Negara
Isu pengaturan akses AI tidak hanya terjadi di tingkat perusahaan, tetapi juga di tingkat negara. Chip canggih, daya komputasi, dan teknologi AI kini diperlakukan sebagai aset strategis.
CEO Anthropic, Dario Amodei, mengkritik kebijakan pelonggaran ekspor chip Nvidia ke China dengan menekankan bahwa komputasi canggih memiliki implikasi keamanan nasional. Pernyataan ini mencerminkan pandangan yang semakin umum: pemerintah kini berperan sebagai pihak yang menentukan siapa boleh mengakses teknologi AI tingkat lanjut.
Akibatnya, persaingan AI tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas model atau kecanggihan teknologi. Faktor penentu lainnya adalah kemampuan perusahaan untuk mendapatkan akses ke komponen penting, mematuhi regulasi lintas negara, dan tetap beroperasi di tengah perubahan kebijakan. Dalam kondisi ini, perusahaan dapat tertinggal secara teknologi, tetapi tetap bertahan atau bahkan unggul karena memiliki izin dan akses yang tepat.
Tahap Akhir: Pembuktian Nilai Bisnis
Ketika infrastruktur membatasi dan akses diatur dengan ketat, hasil bisnis menjadi faktor penentu utama.
Julie Teigland dari EY menegaskan bahwa AI tidak akan menghasilkan nilai jika perusahaan tidak bersedia mengubah cara kerja. Ini mencakup pelatihan ulang karyawan, penyesuaian peran, dan perubahan struktur organisasi—hal-hal yang sering diabaikan dalam narasi transformasi digital.
Ia juga mengingatkan bahwa terlalu lama terjebak dalam proyek percontohan tanpa penerapan nyata dapat merugikan perusahaan. Pada tahap ini, AI telah masuk ke ranah pengambilan keputusan bisnis yang formal. Komite keuangan, tim pengadaan, dan auditor ikut mengevaluasi proyek AI seperti investasi lainnya.
Return on investment (ROI) menjadi alat evaluasi utama. Proyek yang tidak menunjukkan dampak nyata akan dihentikan, sementara solusi yang mampu meningkatkan efisiensi atau kinerja bisnis akan terus mendapatkan dukungan. Dalam fase ini, perusahaan penyedia AI dinilai bukan dari janji teknologi, tetapi dari hasil yang bisa dibuktikan.
Kekhawatiran Soal Gelembung AI
Selama Davos berlangsung, isu apakah AI sedang berada dalam fase “gelembung” jarang dibahas secara terbuka. Banyak pelaku industri memilih berhati-hati karena diskusi ini menyangkut investasi besar yang masih terus berjalan.
Larry Fink, CEO BlackRock, menyatakan bahwa ia tidak melihat adanya gelembung di sektor AI. Namun, ia mengakui bahwa dalam prosesnya akan muncul perusahaan yang gagal dan perusahaan yang berhasil secara besar-besaran. Menurutnya, besarnya investasi dan pembangunan infrastruktur akan tetap mendorong pertumbuhan AI dalam jangka panjang.
Beberapa eksekutif teknologi membandingkan situasi saat ini dengan pembangunan rel kereta api dan jaringan serat optik di masa lalu. Investasi pada saat itu juga sangat besar dan berisiko, tetapi akhirnya menjadi fondasi ekonomi digital. Perbandingan ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan AI saat ini membutuhkan biaya tinggi, aset fisik, dan skala yang sangat besar.
AI Masuk ke Fase Implementasi Nyata
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Davos cenderung menghindari diskusi spekulatif dan lebih menekankan pada pelaksanaan di lapangan. Hal ini wajar karena para peserta forum adalah pihak yang secara langsung menyetujui dan membiayai proyek-proyek besar, seperti pembangunan pusat data, infrastruktur kelistrikan, dan fasilitas pendukung lainnya.
Dalam konteks ini, AI diperlakukan sebagai sumber daya yang terbatas. Keterbatasan tersebut mendorong perusahaan untuk lebih memperhatikan efisiensi, biaya, dan detail operasional.
Persaingan antarplatform AI pun berubah. Fokusnya bukan lagi pada siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi pada siapa yang mampu mengelola keterbatasan tersebut dengan paling efektif. Perusahaan yang unggul adalah mereka yang:
- memiliki akses ke infrastruktur dasar,
- mampu mengatur penggunaan AI secara aman dan sesuai regulasi,
- serta dapat menunjukkan hasil bisnis yang jelas.
Di Davos, AI tidak lagi dibicarakan sebagai gagasan masa depan. AI kini diposisikan sebagai kegiatan bisnis yang nyata, diatur oleh kebijakan dan regulasi, bergantung pada infrastruktur fisik, dan dinilai berdasarkan hasil yang dapat diukur.

