(Business Lounge – Global News) Ubisoft kembali melakukan langkah besar untuk keluar dari tekanan bisnis yang membelitnya dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan gim asal Prancis yang dikenal lewat seri Assassin’s Creed ini mengumumkan akan melakukan perombakan besar-besaran pada struktur organisasinya. Mulai awal April, Ubisoft akan mengoperasikan model baru yang berpusat pada lima unit bisnis utama yang disebut sebagai creative houses, sebuah pendekatan yang diklaim akan membuat perusahaan lebih gesit, fokus, dan kompetitif.
Langkah ini muncul di tengah situasi yang tidak mudah bagi Ubisoft. Penundaan perilisan gim, performa penjualan yang tidak konsisten, serta meningkatnya biaya pengembangan telah menekan kepercayaan investor. Dalam beberapa tahun terakhir, nilai saham perusahaan merosot tajam, sementara reputasinya sebagai salah satu raksasa industri gim perlahan tergerus oleh pesaing yang lebih lincah dan inovatif.
Menurut Reuters, restrukturisasi ini bertujuan untuk menyederhanakan proses pengambilan keputusan yang selama ini dianggap terlalu rumit dan lamban. Dengan struktur lama, pengembangan gim sering terhambat oleh birokrasi internal dan koordinasi lintas studio yang tidak efisien. Model creative houses diharapkan bisa memangkas hambatan tersebut dengan memberikan tanggung jawab lebih besar pada tiap unit kreatif, sekaligus mempercepat siklus produksi gim.
Dalam struktur baru ini, setiap creative house akan bertanggung jawab atas pengembangan dan pengelolaan waralaba tertentu. Artinya, tim yang menangani Assassin’s Creed akan memiliki fokus penuh pada pengembangan semesta gim tersebut, tanpa terlalu banyak intervensi dari struktur pusat. Pendekatan ini meniru model yang lebih fleksibel, mirip dengan yang diterapkan oleh beberapa studio besar di industri hiburan global.
Manajemen Ubisoft menilai perubahan ini penting untuk mengembalikan kreativitas dan kejelasan arah. Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan kerap dikritik karena terlalu mengandalkan formula lama, merilis gim yang terasa repetitif, serta lambat beradaptasi dengan tren baru seperti live-service yang berkelanjutan dan pengalaman bermain lintas platform. Melalui restrukturisasi ini, Ubisoft berharap setiap tim bisa lebih bertanggung jawab atas kualitas, jadwal, dan visi produk yang mereka kembangkan.
Menurut analisis Bloomberg, langkah ini juga berkaitan erat dengan tekanan finansial yang dihadapi perusahaan. Penjualan beberapa judul besar tidak memenuhi ekspektasi, sementara biaya pengembangan terus meningkat seiring tuntutan grafis dan teknologi yang makin kompleks. Dengan struktur baru, Ubisoft berharap dapat mengendalikan anggaran dengan lebih disiplin, sekaligus meningkatkan peluang sukses komersial tiap judul.
Bagi investor, pengumuman ini menjadi sinyal bahwa Ubisoft serius melakukan pembenahan internal. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan kerap dikaitkan dengan spekulasi akuisisi atau kemitraan strategis, terutama setelah valuasinya menurun. Meski manajemen belum memberi sinyal ke arah tersebut, restrukturisasi ini dinilai sebagai langkah awal untuk membuat perusahaan lebih menarik di mata pasar, baik sebagai entitas mandiri maupun sebagai mitra potensial.
Namun, perubahan besar selalu membawa risiko. Menerapkan struktur baru di perusahaan sebesar Ubisoft bukan perkara mudah. Tantangan koordinasi, potensi tumpang tindih peran, serta resistensi internal bisa muncul, terutama di tengah budaya kerja yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Selain itu, hasil dari perubahan ini tidak akan langsung terlihat, karena pengembangan gim membutuhkan waktu panjang sebelum bisa diuji pasar.
Menurut Financial Times, industri gim global kini berada dalam fase transisi. Pertumbuhan yang dulu sangat cepat mulai melambat, biaya produksi melonjak, dan pemain semakin selektif dalam membeli gim. Dalam kondisi seperti ini, hanya perusahaan yang mampu beradaptasi dengan cepat dan efisien yang bisa bertahan. Ubisoft, dengan portofolio besar namun kinerja yang tidak stabil, berada di titik krusial.
Langkah membentuk creative houses juga mencerminkan kesadaran bahwa kekuatan utama Ubisoft terletak pada kreativitas dan waralaba ikoniknya. Dengan memberikan ruang lebih besar bagi tim kreatif untuk bereksperimen dan bertanggung jawab penuh atas produk mereka, perusahaan berharap dapat melahirkan kembali gim-gim yang tidak hanya laku secara komersial, tetapi juga kuat secara artistik.
Keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada eksekusi. Jika berjalan sesuai rencana, Ubisoft berpotensi kembali menjadi pemain dominan yang mampu bersaing dengan raksasa lain seperti Activision Blizzard, EA, dan Sony. Namun jika gagal, restrukturisasi ini justru bisa memperpanjang periode sulit yang sudah berlangsung cukup lama.
Bagi industri gim secara keseluruhan, langkah Ubisoft mencerminkan perubahan besar yang tengah terjadi: dari pertumbuhan agresif menuju konsolidasi, efisiensi, dan fokus pada kualitas. Dan bagi Ubisoft sendiri, ini adalah pertaruhan besar untuk membuktikan bahwa mereka masih mampu beradaptasi dan bangkit di tengah persaingan yang semakin brutal.

