Pernah dengar istilah Co-Sleeping? C0-sleeping yang dimaksud adalah tidur bersama dengan anak.
Tidur bukan sekadar aktivitas istirahat bagi seorang bayi; ia adalah momen krusial di mana otak dan sistem saraf berkembang dengan pesat. Belakangan ini, praktik co-sleeping atau tidur bersama anak kembali menjadi perbincangan hangat. Sebuah infografis viral menyebutkan bahwa kedekatan fisik saat tidur dapat berdampak positif pada cara sistem saraf manusia menangani stres di masa depan. Namun, apa sebenarnya penjelasan ilmiah di balik klaim tersebut?
Regulasi Biologis melalui Kedekatan
Secara biologis, bayi lahir dengan sistem saraf yang belum matang. Mereka belum mampu meregulasi suhu tubuh, detak jantung, atau emosi mereka sendiri secara mandiri. Di sinilah peran co-sleeping menjadi sangat vital. Saat orang tua tidur di dekat anak, terjadi sebuah fenomena yang disebut sinkroni biologis. Detak jantung dan pola napas orang tua membantu menstabilkan ritme biologis bayi.
Kehadiran fisik orang tua memberikan rasa aman yang konstan. Ketika bayi merasa aman, tubuh mereka memproduksi lebih sedikit kortisol (hormon stres) dan lebih banyak oksitosin (hormon kasih sayang). Lingkungan rendah stres ini sangat ideal bagi perkembangan otak, terutama pada bagian prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas regulasi emosi.
Membangun Fondasi Ketahanan Stres
Pesan utama dari gambar tersebut menyoroti dampak jangka panjang terhadap sistem saraf. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan respons cepat dan kedekatan fisik yang konsisten di tahun-tahun awal cenderung memiliki sistem saraf yang lebih adaptif.
Saat dewasa, mereka tidak hanya menjadi lebih tenang, tetapi sistem saraf mereka memiliki “ambang batas” yang lebih baik terhadap tekanan. Karena otak mereka telah “diprogram” sejak bayi untuk merasa bahwa dunia adalah tempat yang aman, mereka mampu merespons tantangan hidup dengan kepala dingin daripada terjebak dalam reaksi fight-or-flight yang berlebihan.
Keamanan Tetap yang Utama
Meskipun manfaat emosionalnya sangat besar, praktik co-sleeping harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Para ahli kesehatan menekankan pentingnya Safe Co-sleeping. Ini mencakup:
* Memastikan permukaan tempat tidur rata dan keras.
* Menjauhkan bantal besar atau selimut berat dari area wajah bayi.
* Orang tua tidak dalam pengaruh obat-obatan atau alkohol yang dapat mengurangi kesadaran.
Co-sleeping lebih dari sekadar kenyamanan praktis; ia adalah investasi dalam kesehatan mental anak. Dengan memberikan kedekatan fisik di malam hari, orang tua sedang membantu membangun fondasi saraf yang kuat, yang akan membantu anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang tangguh secara emosional. Pada akhirnya, pelukan hangat di malam hari adalah modal berharga bagi mereka untuk menghadapi kerasnya dunia di masa depan.
Adakah Dampak Positif Bagi Orangtua?
Bagi orang tua, co-sleeping juga memberikan dampak psikologis dan biologis yang cukup signifikan.
Berikut adalah poin-poin mengenai manfaat co-sleeping bagi orang tua:
1. Sinkronisasi Hormonal dan Penurunan Stres
Bukan hanya bayi yang mendapatkan oksitosin (hormon cinta), orang tua pun merasakannya. Kontak kulit atau sekadar mencium bau bayi saat tidur memicu pelepasan oksitosin pada orang tua. Hormon ini berfungsi sebagai penenang alami yang dapat menurunkan kadar kortisol (hormon stres) pada ayah dan ibu, membantu mereka merasa lebih rileks setelah seharian bekerja.
2. Kualitas Istirahat bagi Ibu Menyusui
Bagi ibu yang menyusui secara eksklusif, co-sleeping seringkali menjadi strategi bertahan hidup (survival mode). Dengan tidur bersama, ibu tidak perlu bangun sepenuhnya, berjalan ke kamar sebelah, dan duduk di kursi untuk menyusui. Ibu bisa menyusui sambil berbaring (dengan posisi aman), yang memungkinkan ibu untuk kembali tidur lebih cepat. Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang melakukan co-sleeping cenderung mendapatkan total waktu tidur yang lebih banyak dibandingkan ibu yang harus bolak-balik antar kamar.
3. Memperkuat Ikatan (Bonding) bagi Orang Tua yang Bekerja
Bagi orang tua yang bekerja dari pagi hingga sore, waktu bertemu dengan anak sangatlah terbatas. co-sleeping memberikan kesempatan untuk membayar “utang kedekatan” tersebut. Kedekatan fisik selama 8 jam di malam hari membantu memenuhi kebutuhan emosional orang tua untuk merasa dekat dan terhubung dengan anaknya, sehingga mengurangi rasa bersalah karena meninggalkan anak seharian bekerja.
4. Responsivitas dan Rasa Aman (Intuisi)
Tidur bersama meningkatkan sensitivitas orang tua terhadap isyarat halus anak. Orang tua menjadi lebih cepat menyadari jika anak mulai demam, kesulitan bernapas karena flu, atau sekadar bermimpi buruk. Kemampuan untuk merespons dengan cepat ini memberikan rasa kepuasan batin dan efikasi (rasa mampu) sebagai orang tua, yang meningkatkan kepercayaan diri dalam mengasuh.
5. Memperkuat Hubungan Emosional Jangka Panjang
Secara psikologis, kedekatan di malam hari menciptakan memori bawah sadar tentang keamanan dan kebersamaan. Hal ini seringkali membuat hubungan antara orang tua dan anak menjadi lebih terbuka dan hangat saat anak beranjak remaja, karena fondasi kepercayaannya sudah dibangun sangat kuat sejak masa bayi.
Dampak Negatif
Meskipun banyak manfaatnya, adalah penting untuk melihat sisi lain dari hal ini. Co-sleeping juga membawa risiko dan tantangan yang signifikan jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Berikut adalah beberapa dampak negatif yang perlu dipertimbangkan:
1. Risiko Keamanan Fisik (SIDS dan Asfiksia)
Ini adalah dampak negatif yang paling serius. Tidur satu kasur dengan bayi (terutama di bawah usia 1 tahun) meningkatkan risiko:
* SIDS (Sudden Infant Death Syndrome): Sindrom kematian bayi mendadak.
* Asfiksia (Mati Lemas): Bayi bisa tertindih tubuh orang tua yang tertidur pulas, tertutup bantal, atau terjepit di antara kasur dan dinding.
* Overheating: Suhu tubuh orang dewasa yang tinggi ditambah selimut tebal bisa membuat bayi kepanasan.
2. Gangguan Kualitas Tidur Orang Tua
Banyak orang tua yang melakukan co-sleeping justru mengalami kelelahan kronis.
* Tidur Tidak Nyenyak: Gerakan kecil dari anak, tendangan, atau kekhawatiran orang tua akan menindih anak membuat fase tidur dalam (deep sleep) sering terganggu.
* Insomnia Sekunder: Orang tua menjadi terjaga sepanjang malam karena terlalu waspada terhadap posisi anak.
3. Ketergantungan Anak pada Kehadiran Orang Tua
Anak yang terbiasa co-sleeping mungkin akan kesulitan mengembangkan kemampuan self-soothing (menenangkan diri sendiri).
* Sulit Tidur Mandiri: Anak mungkin menolak tidur di tempat lain atau mengamuk jika harus tidur di kamarnya sendiri di kemudian hari.
* Kecemasan Perpisahan: Pada beberapa kasus, ini bisa memperpanjang fase separation anxiety karena anak merasa tidak aman jika tidak menempel pada orang tuanya.
4. Dampak pada Keintiman Pasangan
Jika tidak dikelola dengan komunikasi yang sangat baik, co-sleeping bisa menyebabkan pasangan kehilangan ruang privat untuk berbicara secara intim dan dapat memicu kerenggangan hubungan.
5. Masalah Postur dan Kesehatan Fisik
Karena sering kali orang tua harus tidur dalam posisi yang kaku (agar tidak menindih bayi atau memberi ruang lebih luas bagi anak), orang tua sering mengalami:
* Sakit punggung, leher kaku, atau pegal-pegal saat bangun pagi karena posisi tidur yang tidak ergonomis.
Bagaimana Memitigasi Dampak Negatif Ini?
Jika Anda tetap ingin melakukan co-sleeping, para ahli menyarankan metode “Room-Sharing but not Bed-Sharing”. Artinya:
* Anak tidur di boks bayi atau side-car crib (kasur tambahan yang menempel di samping kasur utama).
* Anak berada dalam jangkauan tangan dan pandangan, tetapi memiliki ruang tidurnya sendiri yang keras, rata, dan bebas dari bantal/selimut orang dewasa.

