Tiga Skenario Dunia 2035: AI, Iklim, dan Arah Pertumbuhan Global

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Dalam satu dekade ke depan, dunia usaha akan berhadapan dengan persimpangan besar, demikian seperti dituliskan Price Waterhouse Coopers. Ketidakpastian yang hari ini sudah terasa—mulai dari geopolitik, perubahan iklim, hingga percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI)—tidak berdiri sendiri. Faktor-faktor tersebut akan saling berinteraksi dan membentuk lanskap pertumbuhan global yang jauh lebih kompleks dibandingkan dekade sebelumnya.

Alih-alih mencoba memprediksikan masa depan secara spekulatif, pendekatan yang lebih relevan adalah memahami berbagai kemungkinan arah yang bisa terjadi. Hingga tahun 2035, setidaknya terdapat tiga skenario utama yang dapat membantu pelaku bisnis, pembuat kebijakan, dan investor membayangkan lingkungan operasional yang akan mereka hadapi. Skenario-skenario ini bukan prediksi pasti, melainkan alat analisis untuk menguji dampak asumsi yang berbeda terhadap kinerja ekonomi global.

Semua skenario tersebut dibandingkan dengan satu proyeksi dasar atau baseline, yaitu kondisi business as usual—di mana tren ekonomi historis berlanjut tanpa perubahan besar dalam kebijakan, teknologi, maupun respons terhadap perubahan iklim.

1. Trust-Based Transformation: Kepercayaan Menjadi Aset Ekonomi

Skenario pertama menggambarkan masa depan yang relatif optimistis. Dalam dunia ini, teknologi canggih—terutama AI—diintegrasikan secara bertanggung jawab dan berbasis kepercayaan. Kerangka global yang mendukung transparansi, standar etika, serta kolaborasi lintas negara menjadi fondasi utama.

Hasilnya adalah lonjakan produktivitas dan penciptaan jenis pekerjaan baru, seiring AI digunakan untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan sekadar menggantikannya. Pada saat yang sama, teknologi dimanfaatkan untuk mempercepat inovasi berkelanjutan, termasuk solusi dekarbonisasi dan adaptasi iklim.

Menariknya, dalam skenario ini, manfaat ekonomi dari AI jauh melampaui biaya aset yang terdampar (stranded assets) akibat transisi energi yang agresif. Bahkan setelah memperhitungkan kerugian ekonomi akibat dampak fisik perubahan iklim, laju pertumbuhan ekonomi global masih berada di atas ekspektasi baseline. Kepercayaan, dalam konteks ini, bukan sekadar nilai sosial, melainkan faktor produksi yang nyata.

2. Tense Transition: Pertumbuhan yang Tertahan oleh Fragmentasi

Skenario kedua mencerminkan dunia yang lebih realistis—dan mungkin lebih dekat dengan kondisi saat ini. Kepentingan nasional dan regional menjadi dominan, kerja sama global melemah, dan upaya keberlanjutan berjalan setengah hati. Teknologi berkembang, tetapi terfragmentasi dan tidak sepenuhnya dipercaya.

AI tetap memberikan kontribusi terhadap produktivitas, namun dampaknya hampir sepenuhnya diimbangi oleh biaya perubahan iklim yang semakin terasa. Transisi energi berlangsung lebih lambat, sehingga dalam jangka pendek lebih sedikit aset yang terdampar. Namun, penundaan ini justru menanamkan risiko iklim fisik yang lebih besar di masa depan.

Dalam skenario Tense Transition, pertumbuhan ekonomi global cenderung stagnan—bertahan di sekitar tingkat status quo. Dunia usaha tetap berjalan, tetapi dengan ruang manuver yang terbatas dan ketidakpastian yang terus membayangi.

3. Turbulent Times: Ketidakpercayaan Menggerus Pertumbuhan

Skenario ketiga adalah yang paling menantang. Dunia menjadi semakin terfragmentasi, dengan kepentingan lokal dan individual mengalahkan kerja sama global. Teknologi berkembang secara disruptif namun memecah belah, sementara agenda keberlanjutan praktis terhenti.

Dalam kondisi ini, konflik geopolitik, instabilitas, dan ketidakpastian yang berkepanjangan mengikis kepercayaan terhadap teknologi. AI menciptakan pekerjaan baru lebih lambat dibandingkan laju otomatisasi, sehingga tekanan terhadap pasar tenaga kerja meningkat. Perdagangan bebas dan adil semakin terhambat, memecah aliansi global dan menghambat kolaborasi internasional.

Pertumbuhan ekonomi dalam skenario ini berpotensi jatuh di bawah proyeksi baseline, menciptakan lingkungan bisnis yang penuh risiko dan minim visibilitas jangka panjang.

Ketidakpastian sebagai Pemicu Inovasi

Dalam jangka pendek, tren tarif, proteksionisme, dan meningkatnya ketegangan geopolitik memang menjauhkan dunia dari skenario berbasis kepercayaan. Namun sejarah ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan jangka panjang dari kolaborasi sering kali mampu menarik kembali bandul ke arah kerja sama.

Tidak ada yang bisa memastikan skenario mana yang akan terwujud. Namun satu hal jelas: ketidakpastian tidak menghilangkan pentingnya menemukan domain pertumbuhan baru. Justru sebaliknya, ketidakpastian mendorong organisasi dan individu untuk berpikir lebih kreatif dan adaptif.

Seperti yang pernah dikatakan Ilya Prigogine, ilmuwan asal Belgia peraih Nobel yang meneliti teori chaos, Uncertainty is at the very heart of human creativity. Di tengah dunia yang tidak pasti, kreativitas, inovasi, dan keberanian untuk bereksperimen akan menjadi penentu utama siapa yang bertahan dan siapa yang tertinggal.