(Business Lounge – Global News) Pembicaraan antara Rio Tinto dan Glencore untuk membentuk perusahaan tambang terbesar di dunia menandai kembalinya era konsolidasi besar-besaran di industri pertambangan global. Diskusi ini muncul di tengah perlombaan internasional untuk mengamankan pasokan tembaga dan logam strategis lain yang krusial bagi transisi energi, kendaraan listrik, dan pembangunan infrastruktur digital. Menurut The Wall Street Journal, kedua raksasa tambang tersebut masih berada pada tahap awal pembicaraan, namun skala potensi transaksi sudah cukup untuk mengguncang industri yang selama satu dekade terakhir relatif berhati-hati terhadap akuisisi besar.
Rio Tinto dan Glencore mewakili dua model bisnis yang saling melengkapi. Rio Tinto dikenal dengan portofolio aset berkualitas tinggi, terutama bijih besi dan tembaga, serta neraca keuangan yang relatif konservatif. Glencore, sebaliknya, memiliki kekuatan besar dalam perdagangan komoditas global dan eksposur luas ke logam dasar seperti tembaga, seng, dan nikel. Kombinasi keduanya akan menciptakan entitas dengan jangkauan produksi, distribusi, dan perdagangan yang belum pernah ada sebelumnya. Bloomberg mencatat bahwa jika kesepakatan tercapai, perusahaan gabungan itu akan melampaui BHP dalam hal nilai pasar dan volume produksi logam tertentu.
Dorongan utama di balik pembicaraan ini adalah tembaga. Logam tersebut kini menjadi pusat perhatian investor dan pemerintah karena perannya dalam elektrifikasi ekonomi global. Permintaan tembaga diperkirakan melonjak tajam dalam dekade mendatang, sementara pasokan menghadapi kendala struktural berupa penurunan kualitas bijih, perizinan yang semakin ketat, dan resistensi sosial di sejumlah wilayah tambang. Dalam konteks ini, skala menjadi keunggulan strategis. Perusahaan yang lebih besar dinilai lebih mampu menanggung risiko investasi jangka panjang dan mengeksekusi proyek tambang bernilai puluhan miliar dolar.
Industri tambang sebelumnya sempat trauma oleh akuisisi raksasa pada puncak siklus komoditas di awal 2010-an, yang berujung pada penghapusan nilai aset besar ketika harga jatuh. Namun, dinamika saat ini dinilai berbeda. Menurut analisis Financial Times, tekanan untuk mendukung agenda transisi energi dan keamanan pasokan membuat logam strategis seperti tembaga dan nikel memiliki narasi struktural jangka panjang yang lebih kuat dibandingkan siklus komoditas tradisional.
Meski demikian, potensi penggabungan Rio Tinto dan Glencore tidak akan lepas dari tantangan besar. Regulator persaingan usaha di berbagai yurisdiksi hampir pasti akan mencermati kesepakatan ini dengan ketat, mengingat besarnya pangsa pasar gabungan di sejumlah komoditas. Selain itu, perbedaan budaya korporasi juga menjadi faktor krusial. Rio Tinto selama ini memposisikan diri sebagai produsen dengan tata kelola yang relatif disiplin, sementara Glencore memiliki reputasi agresif dalam perdagangan dan pernah menghadapi sorotan terkait kepatuhan dan lingkungan. Reuters menyoroti bahwa menyatukan dua pendekatan tersebut akan membutuhkan kompromi signifikan di tingkat manajemen.
Bagi investor, wacana ini mencerminkan perubahan sentimen terhadap strategi pertumbuhan di sektor tambang. Setelah bertahun-tahun menekankan pengembalian kas melalui dividen dan buyback, perusahaan-perusahaan besar kini mulai mempertimbangkan kembali ekspansi melalui akuisisi. Kenaikan harga saham perusahaan tambang dalam beberapa tahun terakhir juga memberi mereka mata uang yang lebih kuat untuk melakukan transaksi besar. Pasar melihat bahwa tanpa langkah konsolidasi, banyak perusahaan akan kesulitan mengamankan pertumbuhan produksi logam kritis di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Lebih luas lagi, pembicaraan ini mencerminkan bagaimana geopolitik ikut membentuk arah industri. Negara-negara Barat berupaya mengurangi ketergantungan pada pasokan logam dari satu negara atau wilayah tertentu, sementara perusahaan tambang didorong untuk membangun portofolio aset yang lebih beragam secara geografis. Entitas gabungan Rio Tinto–Glencore berpotensi menjadi pemain sentral dalam strategi tersebut, dengan aset yang tersebar dari Amerika Latin hingga Australia dan Afrika.
Apakah pembicaraan ini akan berujung pada kesepakatan masih belum pasti. Namun sinyal yang dikirimkan sudah jelas: industri tambang global kembali memasuki fase di mana ukuran dan skala menjadi senjata utama. Dalam dunia yang semakin haus akan tembaga dan logam strategis lain, perusahaan yang mampu mengonsolidasikan sumber daya dan modal akan berada di garis depan perebutan masa depan energi dan teknologi.

